Pengagum CEO Tampan

Pengagum CEO Tampan
Ditegur


__ADS_3

Semua kembali berjalan dengan baik.


Rania bekerja dengan penuh semangat.


Pekerjaan nya pun berjalan dengan lancar.


Rania merasa beruntung punya teman-teman yang baik.Dari tempat kost sampai teman staf kantor semuanya baik padanya.


Ia mulai bisa menabung dan mencukupi kebutuhan sekolah kedua adiknya.


Tinggal satu tahun lagi adik laki-lakinya lulus sekolah.


Dalam satu tahun kedepan ia juga sudah siap untuk menikah.


Tanggungjawabnya bisa di gantikan oleh adik nya yang sudah lulus.


Untuk itu ia tak ingin menunda menikah jika memang Dery sudah menginginkan hal itu.


Selesai wudhu Rania akan melaksanakan sholat dhuhur di mushola kantor.


Saat masuk mushola tak sengaja berpapasan dengan Arya yang berjalan keluar.


Arya terus memperhatikan Rania.


Hal itu membuat Rania malu dan sungkan.


"Kamu,wudhu yang benar dulu baru sholat."Ucap Arya tapi tak melihat Rania.


Rania menoleh kanan dan kiri.Ia tak melihat siapapun disana.


"Bapak bicara sama saya?"Tanya Rania menunjuk diri sendiri.


"Siapa lagi kalau bukan kamu,emang disini ada orang lain?"Tanyanya balik.


"Tapi saya sudah wudhu pak."Rania menunjukkan jika tangannya yang sudah basah.


"Sudah,tapi belum benar.Lihat saja siku tangan kamu,belum basah."Arya memegang tangan Rania dan menunjuk sikunya.


Seketika Rania melihatnya.Dan ternyata benar saja,siku tangannya masih kering.


Mungkin karna terburu-buru Rania jadi tidak memperhatikan itu.


Namun ia juga baru sadar,jika sekarang tangannya sedang di pegang oleh Arya.


Selain wudhu nya jadi batal,ia juga merasa gugup.Bersentuhan tangan dengan laki-laki yang berstatus bos nya bekerja.


Langsung saja Rania menarik tangannya dan berlari kembali ke tempat wudhu.


Begitu pula dengan Arya,ia juga baru tersadar jika ia berani menyentuh wanita itu.


Wanita yang pernah hadir dalam sujudnya di waktu sholat malam.


Ia begitu bingung dengan hatinya.


Kenapa ia merasakan hal yang berbeda saat melihat dan dekat dengan gadis satu itu.


Buru-buru ia berjalan cepat meninggalkan mushola.


Secepat itu pula ia menepis pikirannya tentang Rania.


Ia hadirkan Sesil dalam angannya.


Agar tak terganti dengan bayang wanita lain dalam hidupnya.


Ia tak bisa begitu saja mengikuti kata hatinya.

__ADS_1


ia harus memikirkan Sesil.


Wanita setia yang sudah berjalan lama dengannya.


Sabar menanti kepastian darinya.


Mencintainya apa adanya.Ia tak ingin melukai hati wanita yang selalu ada di hatinya,meski tak bisa selalu di sampingnya.


Selesai wudhu dengan benar,Rania segera kembali ke mushola.


Ia tak melihat Arya lagi di sana.


Rania segera melaksanakan sholat dengan khusyuk.


Selesai sholat Rania kembali sibuk bekerja di ruangannya.


"Rania,kamu anterin berkas gih,aku ngantuk banget nih,mau bikin kopi dulu di pantry."Maya menyodorkan berkas pada Rania.


"Kenapa gak yang lain aja sih mbak...Rania masih sibuk nih..."Protesnya.


"Cuma bentar aja kok.Yang lain juga sama sibuknya.plisss..."Pinta Maya.


"Huuhhh...Ya udah sini."Rania meletakkan bolpoin yang ia gunakan ke dalam kotaknya.


"Makasih Adek sayang yang baik hati dan tidak sombong..."Maya tertawa keras.


Di ruangan itu Rania yang berusia paling muda.Untuk itu ia sering di anggap sebagai adik kecil buat teman-temannya.


Sesampainya di depan ruangan pak Arya,lebih dulu ia meminta ijin pada sekertaris pak Arya.


"Permisi pak,Pak Arya nya ada pak,saya dari bagian staf mau mengantarkan berkas."Tanya Rania.


"Oh,ada kok.Langsung masuk aja.Sudah di tunggu kok."Jawab asistan Roy.


"Ok,makasih pak."Menunduk lalu berjalan ke ruangan Arya.


"Masuk."Jawaban dari dalam ruangan.


Rania segera membuka pintu dan masuk ke ruangan Arya.


"Maaf pak,mau mengantar berkas."Menyodorkan ke meja Arya.


"Baik,saya cek dulu."Arya melihat sekilas ke arah berkas.


"Tapi saya ngantuk banget,bisa tolong buatkan kopi dulu?OB disini sedang ambil cuti."Kata Arya."


"Baik pak."Rania berjalan keluar hendak ke pantry.


Saat di pantry ia bertemu kembali dengan Maya yang juga sedang membuat kopi.


"Lhoh,kok kamu disini Ran?"Tanya Maya.


"Pak Arya minta dibikinkan kopi.Mbak Maya udah selesai?"


"Sudah,nih."Menyodorkan kopi yang ia buat.


Rania pun melihat sekilas cangkir kopi Maya.


Lalu ia segera mengambil panci kecil untuk merebus air.


"Berkasnya udah kan?"Maya teringat berkas yang tadi di serahkan pada Rania.


"Udah kok mbak..."Jawab Rania tanpa menoleh.


"Ok,makasih ya...ya udah aku duluan ya."Pamit Maya.

__ADS_1


"Iya mbak..."


Maya pergi dari pantry,sedang Rania mulai sibuk menyiapkan kopi dan gula.


Selesai membuat kopi,Rania segera kembali ke ruangan Arya.


Setelah mengetuk pelan pintu ruangan Arya,Rania pun masuk dengan membawa secangkir kopi buatannya.


"Kopinya pak,maaf jika rasanya kurang pas buat pak Arya."Rania meletakkan cangkir kopi di meja Arya.


"Terimakasih."Arya mengambil cangkir tersebut dan mencicipi sedikit dengan sendok pengaduk.


"Saya permisi dulu pak"Rania undur diri.


"Baik."Arya mengangguk lalu melanjutkan kerjaannya.


Selepas Rania pergi Arya kembali meminum kopi nya sedikit demi sedikit karna masih panas.Tapi ia sudah tak sabar ingin minum.


Rasa kopi yang Rania buat lumayan enak.


Tidak terlalu buruk menurut Arya.


Meski memang masih lebih enak kopi buatannya.


Kopi buatan Rania masih sedikit kurang manis bagi Arya.


Tapi anehnya ia tak bisa berhenti minum.


Meski sedikit demi sedikit akhirnya habis juga.😆


Selesai ngopi semangat Arya kembali terisi.


Dengan segera ia menyelesaikan kerjaannya.


Supaya bisa secepatnya pulang dan berkangen ria dengan sang kekasih.


Meski hanya lewat chating saja.


Arya sudah tak sabar menunggu papa jaya pulang dari luar negri.


Tekatnya sudah kuat untuk segera menikahi Sesil.


Entah dengan cara seperti apa yang jelas ia tak ingin terus-terusan menggantungkan wanita yang ia cinta.


Apapun keputusan orangtua dan nenek nanti,Arya sudah menyiapkan jawaban yang tepat untuk mereka.


Sekelebat bayangan tentang gadis cantik itu muncul dalam benaknya.


Ia sudah tak sabar ingin memiliki Sesil seutuhnya.


Ditengah lamunannya,tak sengaja Arya mengingat gadis polos yang begitu di sayang nenek.


Siapa lagi jika bukan Rania.


Entah kenapa nenek bisa begitu percaya sama gadis yang belum lama di kenal.


Saking sayangnya nenek sempat menyarankan Arya untuk memilihnya jadi pendamping hidupnya.


Padahal nenek tau betul jika Arya sangat mencintai Sesil.


Respon nenek biasa saja jika dengan Sesil.


Meski jauh lebih lama nenek mengenal Sesil.


Sedang jika dengan Rania,nenek selalu antusias dan memuji setiap kelebihan yang Rania miliki.

__ADS_1


"Dia memang unik.Dari pandangan pertama saja mampu membuat orang jatuh hati padanya.Apalagi jika semakin mengenalnya.Serasa ada magnet dalam dirinya.Kesederhanaanya,senyum manisnya,tingkah polosnya."Seketika Arya memukul pelan kepalanya.


Merutuki kebodohannya yang sudah memuji Rania dalam hati.


__ADS_2