
Arya datang menjemput sang nenek yang sedang main di kost'an Rania.
Setelah memarkirkan mobil di pinggir jalan depan kost Arya segera turun.
Berjalan ke arah kost Rania lalu mengetuk pintu yang terbuka.
"Nek..."Panggil Arya sambil masuk.
"Eh,pak Arya.Masuk pak."Rania mempersilahkan Arya.
"Tapi maaf tempatnya begini."Rania sungkan.
"Gakpapa."Arya duduk di sebelah nenek.
"Mau di bikinkan teh pak?"Tanya Rania.
"Gak usah.Makasih."Arya menoleh pada Rania lalu melihat nenek.
"Kamu udah selesai?"Tanya nenek.
"Udah Nek,kita pulang yuk Nek.Arya capek mau istirahat."
"Dari mana aja kok capek."Tanya nenek lagi yang melihat Arya terlihat memijat kakinya.
"Dari butik lah Nek...kan Arya sudah bilang.
"Lhah...dari butik doang capek nya kek gitu.Bukanya harusnya udah beres.Acara tinggal Minggu depan lhoh."
"Iya sih Nek,cuma Sesil kurang suka modelnya.Masih ada beberapa yang mesti di perbaiki lagi."
"Bukanya itu pilihan dia sendiri,kenapa masih gak suka.Ribet banget jadi orang."Gerutu nenek.
Arya yang sadar jika nenek masih belum bisa terima Sesil sepenuhnya cuma bisa diam.
Apalagi untuk gaya penampilan Sesil.Memang sebenarnya Arya kurang menyukainya.
Namun ia pun tau jika Sesil adalah seorang model.Jadi sewajarnya saja jika dia lebih ribet dalam hal itu.
Dia ingin selalu terlihat sempurna di depan orang banyak.
"Biasalah Nek...kan ini bakalan jadi hari spesial seumur hidupnya.."
Rania yang mendengar perdebatan antara nenek dan cucu itu hanya bisa diam mendengarkan.
"Ya udah yuk Nek kita pulang.Arya pengen panggil tukang pijit."Keluh Arya.
Arya kembali membayangkan saat bersama Sesil tadi di butik.
Berulang kali ia naik turun tangga karna selalu saja di panggil Sesil.
Banyak komplain yang membuatnya bolak balik melihat gaun yang Sesil coba.
"Ya udah ayok.."Nenek tak tega melihat Arya yang kelelahan.
"Rania...nenek pulang dulu ya."
"Ah iya Nek...hati-hati."Rania mengantar sampai depan teras.
Nenek naik mobil setelah di bukakan pintu oleh Arya.
Arya menutup pintu mobil lalu menoleh ke arah Rania.
"Oh iya Nia,Minggu depan jangan lupa datang!"
__ADS_1
"Ba-baik pak."Arya segera mengitari mobil lalu masuk di bagian kemudi.
"Dah Rania..."Nenek melambaikan tangan dari dalam mobil.
Rania membalas lambaian tangan nenek sambil tersenyum manis.
"Kenapa pak Arya selalu panggil aku Nia ya.Padahal yang lain panggil Rania."Menepuk jidat sambil berjalan masuk rumah.
Rania sedang sibuk membereskan sisa makan bersama nenek tadi.
Membersihkan tempatnya dan juga mencuci piring serta gelas kotor.
Selesai semuanya Rania berniat ingin tidur siang.
Meskipun sudah hampir sore,tapi setidaknya ada sedikit waktu lagi untuk melepas lelah.
Rania masuk kamar dan segera merebahkan dirinya di ranjang kecil kesayangannya.
Walaupun kecil tapi lebih nyaman dari kasur tipis yang ia tempati di kost'an lama.
Baru juga Rania akan memejamkan matanya,tiba-tiba saja hanphonnya berdering.
Di ambilnya hp tersebut lalu melihat siapa yang sedang menghubunginya.
"Waduh...Adek..."Rania terbelalak kaget.
Sekarang memang adeknya di kampung sudah memiliki hp.
Membeli dari hasil uang tabungan yang di kirimkan oleh Nia setiap bulannya.
Meski tak bagus dan mahal,tapi sudah bisa untuk berkomunikasi.
Supaya tidak lagi harus cari pinjaman hp kesana kemari.
Rania sebenarnya enggan mengangkatnya.
Karna pasti bapak dan ibu akan menanyakan tentang Dery.
Dan Rania harus terus berbohong untuk kesekian kalinya.
Karna ia tidak bisa menceritakan semuanya lewat telphon
Ia takut jika terjadi kesalahpahaman.
Namun akhirnya Rania pun mengangkat telphon tersebut,ia tak ingin membuat kedua orang tua nya sedih.
"Halo,assalamualaikum..."
"Waalaikumsalam mbak Nia..."
"Iya dek...ada apa,semuanya baik-baik saja kan...?"
"Iya mbak,ini bapak sama ibuk pengen ngomong."
"Iya..."
"Halo nduk..."Terdengar suara ibu di seberang sana.
"Iya buk...gimana kabar bapak sama ibuk...baik-baik semua kan?"
"Iya nduk...bapak sama ibuk baik semua...kamu sendiri gimana...sehat kan?"
"Iya buk...Nia sehat..."
__ADS_1
"Alhamdulillah...kok kamu gak pulang nduk...hari ini kan pasti libur."
"Iya buk...hari ini Nia memang libur...tapi Nia capek banget buk.Setelah beberapa Minggu lembur terus.Jadi libur ini Nia pakek buat istirahat di kost.Maaf ya buk belum bisa pulang..."
"Ya sudah gakpapa..."
"Uhuk uhuk..."Terdengar suara seseorang sedang batuk.
"Buk...siapa yang batuk buk?"Rania khawatir.
"I-itu nduk...Bapakmu yang batuk.Kemarin habis sakit."
"Sakit apa buk...kok gak kasih kabar ke Nia?"Nia mulai meneteskan air mata.
Ia paling tidak bisa jika melihat atau mendengar bapak sakit.
Sejak kecil Rania sangat dekat dengan Bapak.
Belajar saja yang ngajarin Bapak.
Setiap Bapak akan berangkat merantau selalu Rania yang menangis.
Jika kebetulan bapak dapat kerjaan dekat,sering akhir pekan Nia bolos sekolah hanya untuk ikut kerja sang bapak.
Mendengar jika bapak sakit rasanya Rania ingin segera pulang.
"Nduk...bapak gakpapa.Cuma masuk angin dan sudah sembuh sekarang.Kemarin cuma kangen kamu saja kok nduk..."Suara bapak mengagetkan lamunan Rania tentang kenangan masa kecilnya bersama bapak.
"Beneran bapak gakpapa...sudah periksa ke dokter?"
"Iya,sudah.Kamu gak usah khawatir."
Rania merasa sedikit lega mendengar jawaban bapak.
"Lain kali kalau ada apa-apa kabarin Nia ya pak..."Harap Rania.
"Iya...Oya,gimana keadaan nak Dery nduk...kalian baik-baik saja kan?"
"Anu...em...eee...i-iya pak...mas Dery baik."Rania gugup saat menjawab.
"Kapan kalian akan menikah nduk...kamu sudah dewasa lho..."
"Emmm....iya pak...Doain Nia supaya cepet ketemu jodoh Nia ya pak..."Jawabnya asal.
"Lha wong jodoh sudah di depan mata gitu kok pakek minta di doain segera ketemu jodoh...ya udah cepetan nikah deh."
Iya pak...doain Nia terus ya pak...."
"Kalian tidak sedang berantem kan?"
"Enggak kok pak...kita berdua baik-baik saja."Bohongnya.
"Ya sudah ya pak... buk...Rania mau bereskan kamar terus istirahat sebentar?"Rania berusaha mencari alasan untuk mengalihkan pembicaraan.
"Ya sudah...lain kali kalau capek minta ijin tidak masuk kerja dulu.."Kali ini sepertinya hp di rebut kembali ibu.
"Iya buk..Udah dulu ya...Assalamualaikum..."Rania segera menutup sambungan telphonnya sambil bergumam sendiri.
"Maafkan Nia yang belum siap jujur pak...buk..."
Rania kembali menaruh hpnya lalu merebahkan tubuhnya.
Namun ia tak jadi tidur beneran.
__ADS_1
Ia masih terus kepikiran dengan ucapan Bapak.