Pengagum CEO Tampan

Pengagum CEO Tampan
Air mata Intan


__ADS_3

Di rumah sakit,beberapa waktu setelah Rania dan Arya pulang,Dery masih terus diam.


Banyak masalah yang sedang dia pikirkan.


Terutama masalah pernikahan Rania.


Dery masih tak ingin percaya jika Rania sudah menjadi istri orang.Dan orang itu bukanlah orang sembarangan,melainkan seorang pengusaha kaya raya yang mempunyai beberapa bidang usaha.


Sangat besar pengaruhnya bagi dunia bisnis.


Masalah besar jika berani berurusan dengan keluarga Adiyasa.


Wajah Dery terlihat murung dan tak ada semangat.Sampai bayinya menangis dengan keras pun Dery tak mendengarnya karna terlalu asyik melamun.


"Mas,tolong angkat adek dong.Mau Intan susui,sepertinya haus."Intan mencoba meminta tolong pada Dery namun Dery tak bergeming.


"Mas!"Panggil Intan dengan nada yang lebih keras supaya Dery mendengarnya.


"Mas!"Karna tak ada jawaban,Intan pun berteriak.


"Apa sih kamu ngagetin aja!"Dery marah karna Intan mengagetkannya.


"Mas gak denger si adek nangis?"Menunjuk bayinya yang sedang menangis di dalam bok.


"Tapi gak perlu juga teriak-teriak.Bicara baik-baik kan bisa!"Merasa tak terima saat Intan berteriak padanya.Namun segera bergegas mengangkat bayinya lalu di serahkan pada Intan yang duduk di ranjang rumah sakit.


"Baik-baik mas bilang?Aku sudah panggil mas berkali-kali tapi mas gak denger.Mas terlalu asyik melamun,sampai-sampai mas gak denger adek nangis dari tadi."Menerima bayinya dari gendongan Dery lalu segera disusui.


"Aku gak ngelamun kok!"Kilahnya.


"Mikirin apa sih mas?"Tanya Intan penasaran.


"Bukan urusan kamu!"Jawabnya ketus.


"Masih gak percaya jika Rania sudah menikah dengan pak Arya?"Tebak Intan.


Dery memandang Intan dengan tatapan tak suka.Lalu setelahnya ia melengos tanpa jawaban.


"Kenapa sih mas kamu gak bisa melupakan Rania.Dia sudah bahagia dengan suaminya."Perkataan Intan membuat Dery semakin muak.


Dery tersenyum sarkas sambil memiringkan wajahnya melihat Intan yang mulai menidurkan bayinya lahir.

__ADS_1


"Kamu ingat kan perjanjian kita?"


"Maksud mas Dery apa?"Intan bertanya balik.


"Jangan kamu pikir setelah anak ini lahir aku bisa mencintai kamu.Kamu salah besar!Karna sampai kapanpun cintaku hanya untuk Rania."Ucapan Dery kembali mengingatkan awal pernikahan mereka.


Menyadarkan Intan tentang siapa dia di mata Dery.Tak lebihnya seorang wanita yang memohon cinta dan belas kasih dari orang yang menganggapnya sebuah kesalahan besar.


Semua bagaikan bom waktu,yang akan tiba saatnya untuk ia kalah.Kalah dalam mempertahankan rumah tangganya,yang sejatinya hanya dia yang berjuang di dalamnya.


"Anak kamu sudah lahir,dan sebentar lagi aku akan menceraikan kamu di saat masa nifas mu selesai."Dery melihat wajah Intan.Ingin tau apa reaksinya setelah itu.


Dan benar saja,Intan terkejut.Namun hanya sepersekian detik.Setelahnya ia berhasil menguasai dirinya agar tetap terlihat tenang.


"Kalau itu keputusan mas Dery,aku terima!Tapi aku minta,mas Dery jangan coba-coba mengganggu Rania yang sudah bahagia."Menantang melihat mata Dery dengan menyembunyikan kesedihan di hatinya.


Sudah bisa di pastikan jika wajah Intan pasti sudah terlihat pucat pasi.Namun beruntungnya Dery berusaha menghindar dari tatapan Intan.


"Hehh...itu bukan urusan kamu!"Kembali Dery mengulang kata-katanya lagi.


"Tau apa kamu soal kebahagiaan Rania.Aku yang lebih mengenalnya.Dua tahun kita pacaran,jadi aku tau betul soal kebahagiaannya."Sombong Dery.Ia merasa bahwa dialah yang paling mengerti tentang Rania.


Apa yang di katakan Intan membuat Dery terdiam.Tak bisa lagi ia membalas ucapan itu.


Tak ingin terus-terusan berdebat Dery pun keluar dari ruang rawat,meninggalkan Intan dan bayinya yang sedang terlelap.


Intan hanya bisa mematung melihat kepergian Dery,tanpa mau melarangnya.


Usai kepergian Dery,Intan tak lagi bisa menyembunyikan rasa sedihnya.


Meluapkan segala rasa sesak di dada dengan menangis berurai air mata.


Sekuat tenaga ia berusaha turun dari ranjang dan kembali meraih sang baby.Di ambil dari bok bayi lalu di gendong dan di bawa ke ranjang.


Memeluk erat bayinya yang baru lahir dua hari yang lalu.


"Sayang...papa sayang kok sama kamu.Papa hanya sedikit kecewa sama mama.Maafin mama ya sayang jika nanti kamu harus jauh dari papa."Intan bicara dengan bayinya yang tertidur pulas.


Menenangkan hatinya sambil menangis sesenggukan.


Saat sedang meratapi kesedihannya tiba-tiba Bapak mertuanya datang.

__ADS_1


Intan masih berurai air mata saat pak Herman berdiri di depan ranjang rawat inap.


Intan menoleh saat menyadari bapak mertua sudah di dekatnya.


"Bapak..."Segera menghapus air matanya.


Dan berusaha menampilkan senyum ceria mengetahui bapak mertuanya datang menjenguknya.


"Maafkan anak bapak yang sudah keterlaluan sama kamu Intan."


Intan berhenti dari kegiatan tangannya yang sibuk menyembunyikan kesedihannya.


"Maksud bapak?"Intan memiringkan wajahnya guna melihat ekspresi wajah bapak.


"Bapak tak sengaja mendengar semuanya saat sedang berada di luar ruangan tadi.Bukan maksud bapak untuk menguping.Hanya saja bapak memberikan waktu pada kalian untuk bicara baik'baik.Bapak tak pernah Tau jika ternyata perlakuan Dey padamu begitu."


Pak Herman pun tak menyadari akan hal itu.


Pak Herman sama sekali tak menyangka jika anak lelakinya tega begitu terhadap istrinya sendiri.


"Maafkan bapak yang gagal mendidik anak bapak sendiri."Pak Herman menunduk,malu akan kelakuan anaknya.


"Tidak pak,bapak tidak gagal.Sebenarnya mas Dery itu orangnya baik sekali pak,hanya saja mas Dery kecewa sama Intan."Intan bicara dengan menahan tangisannya.


"Kamu tenang saja,bapak akan jadi orang pertama yang menghajar Dery jika dia mau menceraikan kamu."


"Tidak perlu pak...mas Dery tidak salah,yang salah adalah Intan."Memohon agar bapak tak menyalahkan Dery.


"Pernikahan bukan sebuah permainan.Dia yang bersalah kenapa dia yang merasa jadi korban."Pak Herman merasa marah akan sikap Dery.


"Sejak awal memang hati mas Dery bukan buat Intan pak.Mau di paksa seperti apapun hasilnya tidak akan baik.Mungkin raganya memang milik Intan,tapi hatinya bukan.Hatinya untuk orang lain pak."Airmata Intan kembali berderai.


"Omong kosong dengan hati dan perasaan.Harusnya kalau dia masih punya hati,dia tidak akan meninggalkan anak dan istrinya!"


"Mas Dery hanya masih terobsesi dengan masa lalunya pak."Bela Intan.


"Sampai kapan dia akan terus seperti itu?Sampai dia kehilangan kalian?."


Begitu geramnya pak Herman ingin segera menghajar anak lelaki nya.


"Jika itu yang mas Dery inginkan,akan Intan kabulkan pak,asal mas Dery bahagia."Pupus Intan meyakinkan keputusannya.

__ADS_1


__ADS_2