
Setelah puas mengelilingi pasar malam mereka memutuskan untuk pulang.
Sesampainya di rumah mereka di kagetkan dengan suara orang yang sedang ngobrol.
"Assalamualaikum..."Rania membuka pintu sambil mengucapkan salam.
"Waalaikumsalam..."Jawab Bapak.
"Nah,kebetulan sekali kalian sudah pulang.Kami menunggumu Rania."Ucap seorang tamu yang ternyata adalah pak RT dan salah satu tetangga Rania.
"Benarkah pak?Ada apa ya pak?"Tanya Rania.
"Emmm...pak RT ingin bicara sebentar sama nak Arya dan juga kamu Nia.Tomy dan Nabila,kalian segera masuk kamar nak,istirahat ya."Ucap Bapak sekaligus memerintah.
"Iya pak..."Jawab Tomy dan Nabila bersamaan.
"Sini duduk dulu nak Arya."Menepuk kursi di sebelahnya.
Meskipun bingung ada hal apa namun Arya menurut.Ia duduk di sebelah Bapak.Sedang Rania duduk di sebelah Ibunya.
"Maaf,ada hal apa ya pak?"Tanya Arya,karna ia sudah sangat penasaran dengan kedatangan dua tamu tersebut.
"Begini nak...Perkenalkan,saya selaku RT di sini."Orang tersebut mengulurkan tangan mengajak bersalaman.Arya pun menyambut uluran tangan tersebut.
"Arya pak."Ucap Arya memperkenalkan diri.
"Dan saya Heru,rumah saya tak jauh dari sini."Ia pun bersalaman dengan Arya.
"Ehem!Langsung saja pada intinya.Kami datang kesini sebagai ketua RT dan juga mewakili warga,ingin tau siapa sebenarnya nak Arya ini?Maksudnya,apa status kalian.Sehingga Arya menginap di sini."Tanya pak RT yang berperawakan besar itu.
"Maaf,saya suaminya Nia pak.Kami suami istri."Jawab Arya.
"Yang kami dengar dari pengakuan pak Hartono,bapak kalian memang begitu.Tapi apa buktinya jika kalian sudah menikah?"Tanya pak RT lagi sambil menghisap rokok lalu mematikannya dan membuangnya di tempat sampah.
"Iya betul,mana buktinya kalau kalian sudah menikah.Siapa tau kalian hanya berbohong.Nyatanya tidak ada acara apapun di rumah ini.Bukankah seharusnya ijab qobul itu di lakukan di rumah perempuan?Sedangkan kalian?Bagaimana kita bisa percaya kalau kalian beneran suami istri?"Kata Bapak satunya yang berperawakan tinggi kurus.
"Maafkan kami yang belum bisa bikin acara di sini.Mereka waktu itu menikah di kota.Karna mereka sama-sama sedang sibuk."Jawab Bapak.
"Lalu bagaimana jika para tetangga bertanya apa status kalian,sedangkan kami sendiripun tidak tau pastinya?"Kata pak Heru.
"Begini saja...Kalian tunjukkan saja surat nikah kalian,jadi jika sewaktu-waktu warga bertanya,kita bisa menjawabnya.Maklum lah,disini ini di kampung.Bukan di kota yang bebas keluar masuk seorang tamu.Apalagi sampai menginap."Pak RT menengahi permasalahan.
__ADS_1
"Tapi kami tidak membawa surat nikah pak."Jawabnya lesu.Arya merutuki kelalaiannya.
Bukankah benar apa yang di katakan mereka?Karna sejatinya belum banyak yang tau tentang pernikahan mereka.Apalagi orang di kampung Rania,mengingat bagaimana dulu pernikahan mereka terjadi.
"Benar kan pak,mereka tidak bisa menunjukkan suratnya.Jangan-jangan mereka cuma nikah siri,atau Rania di jadikan istri kedua,atau mungkin...malah mereka kumpul kebo."
Ucapan pak Heru membuat Arya naik pitam.
Dengan tatapan tajamnya ia bicara tegas pada tamu tersebut,"Kami tidak seperti itu!"
"Kasihan Rania,kelihatannya saja gadis lugu.Tak taunya bisa murahan seperti itu hanya demi dapat lelaki yang punya mobil mewah."Ucap Heru sambil tersenyum sinis.
Seketika Arya berdiri mendengar ucapan tersebut.Hampir saja dia memukul pak Heru jika saja Nia tidak memegang pundak Arya.
"Kalian jangan asal bicara.Saya bisa perkarakan ucapan kalian yang merendahkan istri saya."Arya berkata dengan mengepalkan kedua tangannya.
Melihat mata Rania yang berkaca kaca membuatnya ingin sekali menghajar lelaki tak tau diri di depannya itu.
"Tolong bersabar pak...jangan bicara seperti itu."Bapak berusaha menenangkan keadaan.
Arya segera mengambil hp dari saku celananya.
Dengan segera ia menelpon sang papa.
"..............."
"Pa,lagi di rumah gak?"
".............."
"Pa,tolong kirimkan foto buku nikah Arya sama Nia sekarang pa."
"...................."
"Arya jelaskan besok di rumah ya pa.Tapi tolong kirimkan dulu secepatnya."
"..........…....."
"Di ruang kerjanya Arya pa."
".................."
__ADS_1
"Ok pa.Makasih ya pa.Assalamualaikum*."
Selesai berbicara dengan papa Jaya,Arya kembali duduk.Kali ini ia duduk di sebelah Rania.
Memegang erat tangan sang istri untuk menguatkannya.
"Tunggu sebentar,saya akan berikan buktinya!"Ucap Arya sambil mendekap sang istri.
Tak lama setelahnya terdengarlah bunyi hp Arya.Tanpa melepaskan dekapannya ia pun mengambil kembali hp nya dan membuka pesan masuk.
"Ini buktinya!"Menyerahkan foto yang dikirim papa Jaya.
Kedua tamu itu pun melihat layar hp dan benar saja,terdapat foto buku nikah mereka berdua.
Keduanya tak bisa lagi berkutik.
"Emmm baiklah kalau begitu pak Hartono.Jika besok ada warga yang bertanya saya kan bisa jawab kalau memang ada buktinya.Ya...walaupun hanya lewat foto."Pak RT menyerahkan kembali hp Arya setelah keduanya melihat foto tersebut.
"Dilihat dari mobilnya sepertinya orang kaya.Tapi sayang,gak ada pesta apapun.Sepertinya gak mau memperkenalkan pada semua orang tentang status mereka."Sindir pak Heru.
"Maafkan kami yang belum sempat memperkenalkan pada warga di sini pak.Secepatnya akan kami bicarakan terlebih dahulu."Bapak berkata dengan tenang,meski hatinya pun bergemuruh.Tak tega melihat anak perempuannya jadi kambing hitam atas pernikahannya yang masih disembunyikan.
"Minggu depan,kami undang seluruh warga desa ini untuk datang kesini.Kami akan mengadakan pesta syukuran pernikahan kami."Arya mengumumkan pada kedua tamu yang datang.
"Benarkah begitu pak Hartono?"Pak RT melihat Bapak,memastikan jika hal itu benar adanya.
Bapak pun menoleh pada Arya.Arya yang mengerti maksud Bapak pun mengangguk guna memberi jawaban atas ucapannya.
"Iya pak,insya Allah kami akan mengadakan acara syukuran kecil-kecilan.Harap Bapak RT mengumumkan pada warga sekitar.Untuk lebih jelasnya akan kami kabari lagi nanti soal jam dan lain-lainnya."Bapak berani memutuskan setelah dapat anggukan dari Arya.
"Nah...gitu dong pak...kalau gini kan jadinya enak.Kita sama-sama jelas dan tidak lagi ada kesalahpahaman."Ucap pak RT pada akhirnya.
Karna merasa sudah jelas maka kedua tamu tersebut akhirnya pulang.
"Pak,maafkan Arya.Karna Arya semua jadi ikut kena masalah."Arya mendekati Bapak dan memeluknya.Dan Bapak pun juga membalas merangkul Arya.
"Sudahlah nak,yang terpenting kamu sudah berusaha melindungi istri kamu.Anak perempuan Bapak."Ucap Bapak sambil menepuk pelan pundak Arya setelah melepas pelukan dari keduanya.
"Insya allah pak,Arya akan selalu lindungi Nia.Bapak tidak perlu khawatirkan soal itu."Janji Arya.
"Alhamdulillah..."Bapak bersyukur.Berharap Arya akan benar-benar bisa membahagiakan Rania kedepannya.
__ADS_1
"Maafkan Arya atas keputusan yang sudah Arya ambil tanpa berdiskusi dulu dengan Bapak soal acara syukuran nanti pak..."
"Tidak masalah,sebenarnya bapak juga ingin membicarakan soal syukuran tadi pada kalian,hanya saja Bapak belum sempat bicara pada kalian."