
Arya sedang bermalas-malasan di dalam kamar.
Sambil chatingan dengan Sesil.
Tok..
tok...
tok...
Terdengar suara ketukan pintu.
"Masuk..."Masih tak bergerak dari posisinya tiduran.
"Mas Arya...dipanggil Bapak...di suruh turun."Mbok Jum hanya membuka sedikit pintu kamar Arya.
"Huuft....ya mbok..."
Mau tak mau Arya berdiri dan berjalan menuruni tangga.
Arya berjalan dengan malas.
Sampai di lantai bawah Arya mendengar suara orang ngobrol di ruang santai.
Ia pun berjalan mencari sumber suara.
Dengan santainya ia berjalan.
Ia berpikir suara itu hanyalah kedua orang tua dan neneknya yang sedang asyik ngobrol.
Tiba di ruang tamu ia begitu kaget.
"Arya...sini,kita ngobrol disini."Nenek memanggil Arya sambil melambaikan tangan.
Tak ingin ketahuan gugup,Arya tetap berjalan santai di dekat sang Nenek.
"Ada tamu kok diam aja kamu Arya?"Pak Jaya melihat Arya.
"Iya,di sapa dulu dong..."Mama Anita ikut bicara.
"Kan sudah kenal ma..."Protes Arya.
"Siapa yang suruh kenalan....disapa..."Dalam hati mama Anita tertawa.
Hening...
__ADS_1
Arya bingung mesti ngomong apa.
"*Hai..."
"Hallo..."
"Sudah lama disini?"
"Kesini sama siapa?"
"kesini mau apa*?"
Semua kata itu hanya mampu Arya ucap dalam benaknya.Tanpa bisa ia ungkapkan.
Arya sendiri bingung.Kenapa sesulit itu hanya untuk bicara hal sepele semacam itu?
Lama mereka semua terdiam,menanti kata yang akan Arya ucapkan.
Rania pun bingung.Ia tak tau mesti bicara apa.
Melihat muka dingin nya sang bos membuat perasaannya semakin tak nyaman.
"Sudah lama disini?"Masih dengan sikap dinginnya.
"Em...iya pak.Maaf sudah mengganggu."Rania merasa sungkan.
"Heem."Jawabnya sambil satu tangannya mengambil jajanan pasar.
"Ini pasti Nenek yang beli.
Heemmm....Enak Nek."Arya mencoba mengalihkan pembicaraan.
"Iya,dan kamu tau...ternyata kesukaan Rania juga sama lho dengan nenek.Sama-sama suka jajanan pasar tradisional di banding makanan kekinian.Iya kan Ran?"
Rania hanya bisa tersenyum mengiyakan Nenek.
Merasa sudah tidak nyaman Rania ingin segera pamit.
"Nek...Rania mau pamit ya...sudah siang."Sambil memegang tangan Nenek.
"Oh iya sudah siang.Kita makan siang dulu yuk."Mama Anita berdiri.
"Iya,sudah saatnya makan siang.Buruan siapin Anita..."Nenek mulai melancarkan misinya lagi.
"Tapi Nek,Rania mau pulang."
__ADS_1
"Boleh...tapi makan dulu.Ok!"
"Iya Rania...makan dulu...Gak bagus lho nolak rejeki."Pak Jaya pun ikut berkompromi dengan Nenek dan juga istri tercintanya.
Kemudian pak Jaya berdiri meninggalkan Rania dan Arya.
Mama Anita melihat pak Jaya dari cendela penghubung,ia mengangkat kedua jempolnya.
"Benar-benar akting yang sempurna."Bisik nenek pada mama Anita.
Berdua dengan Arya membuat Rania semakin bingung mesti bagaimana.
Akhirnya ia pun beranjak.
Arya melihat Rania pergi.
Kini ia bisa bernafas lega.
Menghampiri Nenek dan Mama Anita.
"Rania bantu ya Nek,Bu..."
"Iya sayang...boleh...makasih ya..."Nenek memberikan piring untuk di tata.
Masakan sudah siap karna mbok jum sudah memasak dari tadi.
Mereka bertiga hanya perlu mempersiapkan ke ruang makan saja.
Arya melihat Rania membantu mempersiapkan makanan.Meski tubuhnya terlihat diam,namun mata nya tak berhenti selalu melihat setiap gerakan Rania.
Terlihat cekatan dan terampil.
Begitu pula dengan Rania.
Kesibukannya sebenarnya hanya untuk menutupi rasa groginya.
Setelah semua selesai dihidangkan,mereka mulai duduk dan mengambil makanan.
Berbagai macam makanan tersaji.
Mulai dari beberapa sayur dan lauk pauk.
Semua menikmati acara makan siang sesuai rencana seorang ibu mertua dan mantu kesayangan.
Yang mana keduanya sama-sama menginginkan jodoh terbaik untuk Arya sang pewaris perusahaan Adiyasa grup.
__ADS_1