
Pagi harinya Arya bangun kesiangan.
Karena semalaman dia tidak bisa tidur mengkhawatirkan Sesil.
Setelah pukul tiga dini hari ia baru bisa tidur.
Akhirnya pagi harinya Arya tergesa-gesa.
Ia mandi dengan secepat kilat,lalu segera keluar dari kamar.
Dengan masih terus berusaha menghubungi nomer Sesil,Arya berjalan menuruni anak tangga.
Meski mencoba berulang kali namun hasilnya masih selalu sama.
Nomer Sesil tidak aktif.
"Ini tidak boleh di biarkan,aku harus minta bantuan papa."Arya berjalan mencari papanya.
Mencari di kamar papa namun tak menemuinya.
Lalu Arya berjalan ke ruang kerja sang papa.
Dan benar saja,Arya mendapati sang papa yang sedang sibuk di meja kerjanya.
"Pa,lagi ngapain pa?"Arya membuka pintu lalu masuk ke ruang kerja papanya.
"Lho Arya,kenapa kamu disini?"Bukanya menjawab pertanyaan Arya justru pak Adiyasa bertanya balik pada anaknya.
"Pa...Arya mau ngomong sama papa."Berjalan mendekat.
"Ada apa Arya?"Menghentikan aktifitasnya yang sedang mengecek pekerjaan dari laptopnya.
"Pa,nomernya Sesil sejak kemarin sulit sekali di hubungi pa.Arya khawatir terjadi apa-apa sama dia."Arya menunjukkan beberapa chatingnya yang tak terkirim.
"Sudah coba di hubungi?"Pak Adiyasa melihat hp Arya.
"Sudah berkali-kali pa..."Kali ini Arya menunjukkan puluhan panggilan keluar.
"Sejak kapan gak bisa di hubungi?"Tanya pak Adiyasa.
"Sejak kemarin pagi pa.Begitu Arya bangun biasanya Sesil hubungi Arya dulu.Tapi sejak kemarin gak bisa di hubungi."Arya memijit pelipisnya.
"Kenapa baru bilang sekarang Arya,pernikahan kalian tinggal beberapa jam lagi."Geram sang papa.
"Kemarin Arya sudah minta bantuan teman buat cek ke rumah Sesil.Tapi sampai malam rumahnya tampak sepi."
"Coba papa hubungi orang kepercayaan papa dulu."Pak Adiyasa segera mengambil hp nya lalu berjalan ke balkon sambil menghubungi seseorang.
Tak berapa lama Pak Adiyasa kembali masuk ruang kerjanya dan mendekati Arya.
"Kita usaha dulu.Semoga tidak terjadi apa-apa."Papa Adiyasa menepuk pundak sang anak yang sedang dalam keadaan kalut.
Sekitar satu jam kemudian pak Adiyasa memanggil Arya untuk bicara kembali di ruang kerjanya.
"Gimana pa?"Arya sudah tak sabar menunggu hasil pencarian papanya.Orang yang punya cukup besar kekuasaan.
Banyak orang-orang di bawah pimpinannya yang bisa di andalkan.
Dalam dunia bisnis ia perlu orang-orang tangguh dan terpercaya untuk mengurusi hal-hal yang mungkin di luar kendalinya.
__ADS_1
"Menurut orang suruhan papa kemungkinan seluruh keluarga Sesil pergi sudah dari kemarin."
"Maksudnya pa?"Arya semakin bingung dengan ucapan papanya.
"Papa gak tau kemana mereka perginya,tapi yang jelas keluar negeri."Papa bicara dengan nada datar.
"Bagaimana bisa pa,"Arya menatap nanar pada sang papa.
"Harusnya papa yang bertanya sama kamu,ada apa dengan kalian."Papa mencoba sabar sebelum kemudian melanjutkan bicaranya.
"Kita semua sudah merestui keinginan kalian.Dan sebentar lagi kalian akan menikah.Jika terjadi hal yang diluar rencana kita,papa tidak tau mesti bicara apa pada penghulu dan keluarga besar kita."Papa menghela nafas panjang.
"Pa,Arya sendiri juga tidak tau pa.Ini...ini diluar kendali Arya."Arya mulai frustasi.
Mereka sama-sama terdiam.
Sibuk dengan pikiran masing-masing.
Tok tok tok...
"Masuk."Papa dan Arya menjawab secara bersamaan.
"Maaf pak Arya,ada paket."Salah satu Art datang membawa bingkisan paket.
Papa dan Arya saling pandang.
Sedikit merasa curiga dengan paket yang datang.
Arya segera mengambil paket itu dari tangan art.
"Terimakasih mbok."
"Kamu pesen apa?"Tanya papa.
"Arya gak pesen apa-apa kok pa."
Arya yang sudah penasaran dengan paket tersebut langsung saja membukanya.
Setelah dibuka terdapat sebuah surat.
Arya membacanya dengan teliti tanpa melewatkan satu katapun.
Selesai membaca surat itu tubuh Arya luruh ke lantai.
Sambil tangannya mengepal kuat.
Menggenggam erat surat tersebut.
Surat yang ternyata berasal dari Sesil.
Satu tangan yang lain mengusap wajah berkali-kali.
Papa yang juga penasaran akhirnya merebut surat itu dari tangan Arya.
Mulai membacanya dengan tenang.
Arya tersentak dari lamunannya ketika sang papa melemparkan surat itu tepat mengenai wajahnya.
"Kamu harus bertanggung jawab atas semua ini!"Papa terlihat geram dan akan pergi dari ruangan itu.
__ADS_1
Namun belum jadi keluar,sang istri bersama nenek justru masuk ke ruang kerja suaminya.
Mereka terheran-heran ketika melihat kondisi Arya yang sangat berantakan dan bersimpuh di lantai.
"Arya,kamu kenapa?"Nenek bertanya,namun tak dapat jawaban.
"Pa,kenapa dengan Arya pa...?"Mama Anita menggoyangkan tangan papa Adiyasa.
Karna tak satupun dari mereka yang menjawab pertanyaan itu,mama Anita pun mendekat kepada Arya dan ikut bersimpuh di sampingnya.
"Kamu kenapa sayang?"Mengusap ujung kepala Arya sambil memeluknya.
"Ada apa ini,kenapa kalian hanya diam!"Nenek mulai geram.
Arya mengambil kembali surat yang tadi di lempar papa Jaya.
Kemudian menyerahkannya pada mama Anita.
Meski bingung mama Anita menerima surat itu dan mulai membacanya.
Mama Anita menutup mulutnya sambil membaca surat tersebut.
Belum sempat bicara dari keterkejutannya,nenek Adiyasa sudah merebut surat itu dari tangan mama Anita.
Nenek begitu marah setelah tau isi dari surat tersebut.
"Arya,apa ini!"Nenek melemparkan surat itu sama seperti tadi saat papa Adiyasa selesai membaca surat itu.
"Nek,maafkan Arya nek,pa,ma.Arya sendiri gak tau bakal seperti ini."Arya memohon.
"Kenapa bisa begini Arya...dan kamu tau bukan,dua jam lagi kamu bakalan menikah!"Nenek terlihat sangat marah.
"Sudah berulang kali nenek peringatkan kamu,sudah berkali-kali nenek bilang untuk di pikirkan kembali.Dan pada akhirnya,ini yang dia berikan untuk kamu."Nenek menggelengkan kepalanya berulang kali.
Arya tak mampu menjawab ucapan sang nenek.
Ia pun tak menyangka jika Sesil akan tega melakukan hal ini padanya.
Mengingat betapa besar perjuangan mereka untuk menuju hari sekarang.
Hari dimana seharusnya menjadi hari yang spesial untuk mereka berdua.
Hari yang sudah mereka tunggu-tunggu sejak kurang lebih empat tahun yang lalu.
Lalu kenapa Sesil berubah pikiran hanya dalam sekejap.
Arya tak tau harus berbuat apa.
Nama baik keluarga Adiyasa di pertaruhkan.
Seluruh keluarga inti Adiyasa sedang di pusingkan dengan kenyataan yang mereka dapatkan tepat di hari pelaksanaan pernikahan Arya dan Sesil.
Semuanya terdiam demi memikirkan apa yang harus mereka lakukan.
Mama Anita terlihat begitu khawatir.
Sedang nenek lebih terlihat marah.
Jika saja tau hal ini akan terjadi,sudah pastinya sang nenek tak kan merestui mereka berdua.
__ADS_1