
"Lupakan aku mas,antara kita sudah tidak ada hubungan apa-apa lagi sebelum kamu menikah dengan Intan!"Ucapan Rania tak dihiraukan oleh Dery.
"Sayang...jangan begitu,aku tau kita masih saling mencintai.Kamu ingat kan kita sudah berencana menikah.Dan kita sudah menjalin hubungan cukup lama.Aku tidak yakin kamu bisa secepat itu melupakanku."Sarkas Dery.
"Tapi nyatanya kita sudah tidak bersama lagi."Rania memalingkan wajahnya.
"Kita bisa memulainya dari awal lagi sayang."
"Sayangnya aku sudah menikah."Rania menunjukkan cincin yang di pakai di jari manisnya.
"Hahaha...kamu pikir aku percaya?Intan juga bilang kalau kamu sudah menikah.Kalian sudah merencanakan kebohongan sama aku?"Dery menertawakan ucapan Rania.
"Ini bukan bohong Dery!"
Deg!
Rania sudah berani memanggil Dery dengan nama,bukan lagi panggilan mas seperti sebelumnya.Itu artinya Rania benar-benar sedang marah.
Rania yang dikenal Dery sejak dulu adalah sosok Rania yang lemah lembut,sopan santun dan sangat sayang serta perhatian pada Dery,bukan seperti sekarang.
Sekarang Rania terlihat semakin dewasa,berani dan cinta yang dulu ada untuk Dery...seolah sudah tak lagi ada.
Bagaikan dua orang yang baru saling mengenal lagi.
Rania masih menunjukkan cincin di jari manisnya sambil melihat Dery dengan tatapan geram.
"Jika kamu benar sudah menikah,mana suami kamu,dan kenapa justru kamu jalan sama nenek-nenek?"
"Yes!Pasti kamu akan bingung menjawabnya sayang....tak semudah itu kamu bohongi aku."Dery merasa menang.
Dery sudah melihat Rania yang sedang makan bersama seorang nenek.
Untuk itu Dery pun tak ingin kehilangan jejak,secara diam-diam ia memantau Rania.
Hingga tiba saatnya ia bisa bicara berdua saat melihat nenek yang bersama Rania pergi ke toilet.
"Itu nenek dari suamiku kalau kamu mau tau."Jawab Rania.
"Sayangnya aku tidak percaya omong kosong itu."
"Terserah,percaya atau tidak itu tidak penting buat aku."
"Lalu mana suamimu?"Dery bertanya dengan senyuman mengejek.
__ADS_1
"Kamu tidak perlu tau di mana suamiku."
"Dan...kenapa kamu menikah secepat itu?dengan siapa?Apa kamu menikah karna di jodohkan oleh bapak?Atau...jangan-jangan kamu sudah....hamil duluan."Dery mengucapkannya dengan sangat sombongnya.
Di sudut tempat yang sama seseorang sedang menguping pembicaraan kedua orang yang pernah berpacaran itu.
Dia sengaja bersembunyi karna ingin tau hubungan seperti apa yang sudah dan sedang mereka jalani.
Dia ingin melihat semuanya dahulu dan tak ingin keluar dari persembunyiannya sebelum mereka selesai bicara.
Namun mendengar ucapan Dery yang sudah kelewat batas membuatnya tak kuasa menahan emosi.
Rania hanya diam tak ingin lagi mendengar ocehan dari Dery.Ia malas meladeni seseorang yang sedang dibutakan oleh sebuah opsesi.
"Bagaimana sayang,kita masih saling mencintai bukan.Lebih baik kita kembali saja."Dery mendorong Rania hingga tubuhnya terbentur ke tembok.Mengunci pergerakan Rania dengan kedua tangan Dery yang menghalang di kedua sisi tubuhnya.
Dery mendekat dengan Rania,semakin dekat dan berbisik di dekat telinga,"Kamu semakin cantik dan wangi tubuhmu membuatku ingin memilikimu seutuhnya."
"Jangan gila Dery,ini di tempat umum."Rania berusaha keluar dari kungkungan tubuh Dery,namun tangan Dery begitu kuat menguncinya.
Rania menoleh kanan kiri seolah meminta pertolongan.
Ia sangat malu,di tempat umum seperti ini Dery sudah berbuat yang sangat memalukan.
Rania takut jika nenek ataupun Arya mengetahui hal itu.Baru tadi pagi ia berjanji pada Arya untuk memulai semuanya dari awal.Rania takut jika terjadi kesalahpahaman baru diantara dia dan Arya.
Rania memeluk tubuhnya sendiri masih dalam keadaan berdiri.
Disilangkan kedua tangan di depan dadanya.
Air matanya mulai menetes di saat Dery hendak menciumnya.
Sekuat tenaga Rania mencoba mendorong tubuh Dery,namun Dery semakin kuat berpegangan dengan jendela besi di samping Rania.
Tak ada lagi yang bisa Rania lakukan,ia pun mengayunkan tangannya menampar keras pipi Dery.Seolah tak merasakan sakit sedikitpun,Dery kembali mendekatkan tubuhnya pada Rania.
Rania menutup wajahnya dengan kedua tangan sambil menangis memohon pada Dery.
"Dery,tolong lepaskan aku.Aku mohon."
Namun Dery menulikan pendengarannya.
Sayang sekali Rania dan nenek tadi memilih tempat duduk yang paling pojok.
__ADS_1
Tak banyak pengunjung di restoran itu sehingga Dery merasa tak takut sama sekali.
Di saat Dery menutup mata ingin mencium bibir Rania,tiba-tiba saja sebuah pukulan mendarat di wajahnya.
Tak hanya satu pukulan yang dia dapat,bahkan bertubi-tubi seolah tak ingin melepaskannya begitu saja.
Dery yang tak siap harus jatuh bangun berulang kali akibat pukulan itu.
Ia kembali berdiri sambil tersenyum simpul melihat siapa orang yang sudah memukulinya.
Mengelap sudut bibirnya yang berdarah akibat pukulan itu,tapi ia tak gentar.
Prok prok prok...
Dery bertepuk tangan sambil mendekat lelaki itu,"Lagi-lagi pak Aryabima Adiyasa..."
"Jangan berani menyentuh dia."Ucap Arya lantang.Arya masih ingin memukul Dery jika mengingat dia sudah berani melakukan hal yang memalukan di depan umum.
"Wow....pak Arya marah?Kenapa?Apa karna dia karyawan di pabrik anda?"
Kembali Dery bicara,"Tapi maaf sekali pak Arya,ini hubungan antara kekasih yang sedang merajuk,jadi tidak ada hubungannya dengan anda yang hanya bos saat di tempat kerja."
Arya tak bisa lagi menahan amarahnya.
Ia kembali memberi bogem mentah pada Dery sambil berkata dengan tegas,"Perlu kamu tau pak dosen Dery yang terhormat,saya bukan hanya bosnya di kantor,tapi saya adalah suami dari mantan pacar anda."
Dery melotot,lalu beberapa detik kemudian dia tertawa dengan kerasnya.
"Hahaha....kalian sudah sekongkol rupanya.Sayangnya aku tak semudah itu di bohongi.
"Lihat ini."Arya menarik tangan Rania lalu menyatukan tangannya dengan tangan Rania.
Terdapat dua cincin yang sama di jari manis masing-masing.
"Ini adalah cincin pernikahan kami.Dan saya tegaskan sekali lagi,Rania adalah milik saya,jadi jangan berani-beraninya kamu menyentuh milik saya!"Arya menarik Rania ke dalam pelukannya.Membenamkan kepalanya di dada bidang Arya.
Ada rasa yang mencubit saat mendapati Rania yang sedang menangis terisak.
Di usapnya kepala Rania yang tertutup oleh jilbabnya.
"Sudah sayang jangan menangis,kita pergi dari sini."Arya menuntun Rania ke meja nya untuk mengambil tas yang masih di letakkan di tempat tadi mereka makan.
Namun Dery menghentikan langkah kedua pasangan itu,"Tunggu!"
__ADS_1
Arya hanya berhenti sebentar lalu kembali berjalan tanpa berniat menoleh Dery.
"Oh...jadi ini suami kamu sayang?Berarti selama ini kamu pembohong Rania?"Ucapan Dery memancing emosi Rania.