Pengagum CEO Tampan

Pengagum CEO Tampan
Pengakuan Intan


__ADS_3

Setelah kedua sahabat itu mulai baikan lagi,mereka kembali sering jalan bersama.


Meskipun tempat kost Rania sudah berbeda tapi mereka saling bergantian datang.


Pagi ini Rania datang ke tempat kost Intan tanpa memberi tahu terlebih dahulu.


Kebetulan hari libur dan mereka memang tidak berencana pulang.


Dua buah nasi bungkus beserta cemilan sudah Rania bawa.


Sengaja ingin sarapan bersama dengan Intan.


Sesampainya di tempat kost Rania tak melihat Intan.


Meski sudah berkali-kali di panggil namun tak ada jawaban.


"Ah,mungkin Intan sedang di kamar mandi.Pintu nya aja gak di kunci.Gak mungkin kan dia lagi pergi."Rania bicara sendiri.


Rania meletakkan plastik makanan yang ia bawa di meja dekat kasur.


Lalu mengambil piring dan sendok.


Di tatanya makanan itu.


Tak lama setelah itu terdengar suara langkah kaki mendekat.


Kemungkinan besar itu adalah Intan.


Rania sudah tak sabar menunggu Intan masuk.


Perutnya yang sudah lapar ingin segera di isi makanan.


Benar dugaan Rania,tak lama setelahnya datanglah Intan.


Begitu pintu di buka,Intan terkejut melihat Rania sudah berdiri di hadapannya.


"Ra-rania."


Tak di sadari Intan,sebuah benda pipih jatuh ke lantai.


Rania yang melihat benda itu penasaran.


Ia berjongkok lalu mengambil benda itu.


Rania mengangkat benda mungil itu sambil terus memperhatikannya.


Ia tak mungkin salah duga.


Ia tatap mata Intan.


Terlihat wajahnya yang pucat pasi.


Terlihat gugup dan tangannya bergetar.


Dengan cepat Intan merebut benda itu dari tangan Rania.


"Intan,bilang sama aku kalo benda itu bukan milik kamu!"Rania berharap cemas akan jawaban Intan.


Intan masih saja diam.Tak ada sepatah katapun yang ia keluarkan.


Rania semakin di buat tak sabaran dengan kediaman Intan.


"Intan,jawab aku."Memegang kedua bahu Intan sambil di goyang-goyang.


"Apa sih Ran."Intan memalingkan wajahnya.


Melepaskan tangan Rania yang berada di pundaknya.


Berjalan ke arah meja rias dan memasukkan benda kecil itu ke dalam lemari.


Rania masih terus berdiri tak berpindah barang selangkah pun.


Ia terus memperhatikan gerak gerik Intan.

__ADS_1


Yang terlihat jelas kegugupan dan ketakutan.


"Kamu bawa sarapan ya Ran,aku makan ya...heemmm...enak."Intan menyendok nasi itu lalu memasukkan kedalam mulutnya yang mungil hingga penuh.Mengunyah lalu dengan susah payah menelannya.


Tak sedikitpun Rania berniat menjawab ucapan Intan yang sedang berusaha mengalihkan pembicaraan.


Maju mendekat ke arah Intan.


"Intan,jawab pertanyaanku."


Intan menghentikan kunyahan di mulutnya.


Tanpa berbalik badan ia mulai meneteskan air mata.


"Itu bukan apa-apa kok Ran."Mulai terdengar suara Isak tangis.


"Aku bukan lagi anak kecil Intan,sekalipun aku belum menikah dan belum pernah hamil,tapi aku paham betul apa benda kecil itu tadi."Bicara dengan nada geregetan.


"I-itu bukan punyaku."Intan mencoba berbohong.


"Sini,liat aku.Kalau memang itu bukan punya kamu,lalu itu punya siapa?"Rania menarik badan Intan menghadapnya.


Intan menunduk sambil menangis.


Rania yang melihat itu jadi tak tega mau marah sama Intan.


Di rangkulnya tubuh Intan.


Mencoba menenangkan tangisnya yang semakin terdengar pilu.


"Tenang Intan....kamu minum dulu."Mengambil minum yang tadi sudah Rania siapkan.


Menuntun Intan duduk lalu menyodorkan minum padanya.


Intan langsung meneguk minuman itu hingga habis satu gelas kecil.


Rania menepuk-nepuk punggung Intan.


Memperlakukannya seperti saat sedang menenangkan anak kecil yang dilanda ketakutan.


Semua yang terjadi padanya akan di ketahui Rania.


Bagaimana jika Rania mengetahui kebenarannya.


Ia pasti akan sangat kecewa,dan tentunya akan pergi menjauh darinya.


Namun apa daya.Rania sudah terlanjur mengetahuinya.


Sudah pasti ia akan meminta kejelasan dari semua yang terjadi padanya.


Setelah dirasa Intan cukup tenang,Rania kembali bertanya padanya.


"Intan,tolong jujur sama aku.Apa yang sebenarnya terjadi sama kamu?"


Intan kembali menangis.


"A-aku hamil Ran."


Rania benar-benar terkejut mendengar pengakuan dari Intan.


Namun ia segera menyadarkan dirinya.


"Sama siapa?"


Hening...


Intan tak berani menjawab.


Mulutnya seolah terkunci rapat.


Namun bukan Rania jika ia hanya akan diam dan berhenti disitu saja tanpa mau tau kejelasannya.


Rania berdiri.Menutup pintu yang tadi belum sempat tertutup rapat.Takut jika ada orang yang tak sengaja mendengar pengakuan Intan.

__ADS_1


Masih dalam keadaan berdiri ia kembali bertanya pada Intan.


"Siapa ayah dari janin yang kamu kandung?"


Intan tak punya keberanian untuk berbohong.


Meski ini sangat menyakitkan,tapi ia tak bisa terus berbohong pada Rania.


Yang terjadi biarlah terjadi.Apapun yang akan terjadi kedepannya Intan hanya bisa pasrah.


Meski dengan kejujurannya ia akan kehilangan Rania,serta mungkin cacian kebencian juga akan ia dapatkan dari Dery,namun ia harus jujur.


Dan setelahnya ia akan pergi jauh dari sini.


Ketempat yang tak ada seorangpun yang tau tentang masa lalu nya.


"Dery."


Telinga Rania berdengung,seolah tuli setelah mendengar nama yang baru saja di sebut oleh Intan.


Seketika lututnya terasa lemas.


Tak kuasa menopang berat tubuhnya.


Badannya merosot di tembok yang jadi pegangannya.


Sesaat pandangannya terlihat buram.


Tapi ia segera mengembalikan kesadaran dalam dirinya.


Intan yang melihat keterkejutan Rania,ia segera datang menghampirinya.


Rania yang di dekati Intan segera berdiri kembali.Berusaha menguatkan hatinya.


"Intan,jelaskan apa yang terjadi sama kamu dan dia."


"Ran,aku mohon dengerin penjelasanku dulu."Rania tak bergeming.


"Tolong percaya sama aku Ran..."Intan berlutut di kaki Rania.


"Jelaskan!"Masih dalam posisi yang sama.


"Malam itu..."


Intan menjelaskan semua yang terjadi pada dirinya.


Meskipun hal itu tak ingin lagi di ingat oleh Intan.Namun ia tak ingin lagi berbohong pada Rania.Sekalipun Rania tak percaya padanya,namun ia berusaha jujur.


Entah penilaian seperti apa yang akan Rania cap kan padanya.Intan akan berusaha terima dengan lapang dada.


Menceritakan secara detail tentang kesalahpahaman Dery malam itu.


Serta kecerobohannya yang membuat malang nasibnya.


Tak satu hal pun Rania lewatkan dari penjelasan Intan.


Walaupun itu sangat menyakitkan bagi Rania,namun ia tak mau egois.


Ada janin yang tak tau apa-apa.


Ia layak hidup,ia berhak tau siapa ayah biologisnya.


"Rania,aku mohon,maafkan aku."Intan masih terus bersujud di kaki Rania.


"Tapi kamu tenang aja Ran,aku sudah melupakan semuanya,seperti apa yang sudah Dery pesan sama aku.Untuk melupakan kejadian menjijikkan itu.Menganggap semuanya seolah tak pernah terjadi."Mengingat hal itu membuat Intan kembali tercabik-cabik harga dirinya.


Sedang Rania yang mendengar pesan dari Dery,ia merasa geram pada sosok laki-laki yang baru sebulan ia putuskan itu.


Semudah itukah ia membuang seorang wanita yang kesuciannya ia renggut.


Kelakuannya yang sudah menghadirkan janin yang tak berdosa.


Tangan Rania mengepal kuat.

__ADS_1


Sesekali meremas ujung kerudung yang menutupi dadanya.


Menguatkan hatinya untuk mendengarkan berita yang membuat jantungnya berdetak jauh lebih cepat dari biasanya.


__ADS_2