
Sepulang dari rumah Dery.
Rania memasuki rumah kost dengan berjalan lamban,seakan tak ada semangat.
Terus berjalan menuju kamarnya dengan tatapan kosong.
"Rania,udah pulang?Gimana nih?"Intan menaik turunkan alis matanya.
Rania hanya menjawab dengan menoleh pada Intan dan sedikit memaksakan senyumnya.
Ia terus berjalan santai.
Merasa tak mendapat jawaban yang jelas,Intan mengikuti langkah Rania masuk kamar.
Rania duduk di kursi meja riasnya.
Terlihat lesu dan tak bersemangat.
"Rania,kenapa sih,pulang dari rumah camer kenapa lemes gitu?"Intan berdiri di samping Rania.
"Gak papa."Jawabnya lesu.
"Gak papa gimana,tadi aja mau berangkat semangat,kenapa pulangnya lesu gini?"Intan menggoyang pundak Rania.
"Aku gak tau sih Tan,tapi kayaknya ibu sama mbak Desy gak begitu suka sama aku."Rania mengingat respon mereka tadi.
"Kok kamu bisa ngomong gitu.Emang mereka gimana sama kamu?"Intan penasaran.
"Ya,mereka terlihat cuek dan kadang ngomongnya agak gimana...gitu."
"Gimana...gimana maksud kamu?"Intan duduk di samping Rania sambil mengerutkan keningnya.
Rania mendesah pelan.
"Gak tau lah Tan,mungkin cuma perasaanku aja."
"Emang gimana ceritanya?"Intan masih terus mendesak Rania demi menuntaskan rasa penasaran nya.
Mau tak mau Rania menceritakan tentang ucapan dari Bu Herman dan mbak Desy tadi.
__ADS_1
Intan mendengarkan cerita Rania sambil mengusap bahunya.Mencoba menenangkan.
"Gak usah terlalu di ambil hati Ran...mungkin emang begitu sifatnya..."Intan menjeda ucapannya.
"Kamu coba lebih deket aja dulu sama mereka.
Nanti baru bisa tau sifat aslinya..."Sambungnya.
"Iya juga sih...tapi aku takut Tan..."Rania melihat wajahnya dari pantulan cermin kecil di meja riasnya.
"Takut apa lagi sih Ran...?"Intan tak habis pikir dengan isi hati sahabat baiknya itu.
"Kalo mereka gak restuin aku sama mas Dery gimana?"Khawatir jika semuanya tak berjalan sesuai rencana.
"Alasannya apa coba?"Tanya Intan.
"Ya secara kan mas Dery seorang dosen,sedang aku?Aku cuma karyawan pabrik,Intan..."Rania merasa minder.
"Emang apa salahnya,toh Dery cinta sama kamu.Kamu gak liat gimana dia mandang kamu?"
"Emang gimana?"Rania masih cemberut.
"Ya pandangan cinta Ran...dari pandangan aja kan dah kelihatan."
"Ya iya lah Ran..."Intan mencubit pipi Rania karena gemas melihat kepolosannya.
"Udah deh,yakin aja.Pasti Dery bakal nikahin kamu."Intan terus meyakinkan Rania.
Intan tau betapa Dery begitu mendamba Rania.
Dari tatapannya,dari sikapnya,dari tingkah lakunya,dan dari keseriusannya.
Semua nampak jelas betapa Dery mencintai Rania.
"Makasih ya Intan...kamu selalu nguatin aku.Kamu selalu ada buat aku.Aku berdoa semoga kamu juga segera dapat jodoh yang terbaik buat kamu."Doa tulus Rania sambil memeluk Intan.
"Aamiin..."Intan tetap mengaminkan ucapan Rania.
Berharap ada keajaiban yang akan datang padanya.
__ADS_1
Ada seorang lelaki yang tulus mencintainya seperti Dery mencintai Rania.
Dery,Dery,dan Dery....
Entah kenapa selalu Dery.
Selalu Dery yang ada dalam benak Intan.
Seakan Dery adalah pria tersempurna di dunia ini.
Seolah Dery pusat hidup wanita.
Seluruh isi pikirannya tak lepas mengagumi Dery.
Meski hanya dalam hati.
Tapi justru entah kenapa.
Rania tak melihat semua itu dalam pikirannya.
Hatinya selalu diliputi rasa ragu jika tentang Dery.
Bukan meragukan ketulusannya bukan.
Bukan juga meragukan cintanya.
Tapi justru ia ragu dengan hatinya sendiri.
Yang ia rasa,tak seperti saat di dekat Arya.
Jantungnya,perasaannya.
Entah kenapa terasa beda.
Meski ia sering kali harus menepis rasa itu.
Tapi semua terasa beda.
"Arya...ingat Rania...itu bagai langit dan bumi.
__ADS_1
Jangan mengharap sesuatu yang jelas mustahil."Rania menepuk jidatnya.
Mencoba menghilangkan bayangan Arya.