Pengagum CEO Tampan

Pengagum CEO Tampan
Curhat pada sahabat


__ADS_3

Hari ini semua kembali beraktifitas seperti biasa.


Rania sudah kembali dari rumahnya.


Dan ia bekerja penuh dengan semangat.


Tanpa terasa sudah saatnya untuk isirahat.


Istirahat kali ini Rania ingin ketemu sama Intan.


Untuk itu ia segera menuju ke kantin.


Sesampainya di kantin ia mengambil jatah makan siang dan membeli minum.


Ia melihat sekeliling kantin untuk mencari Intan.


Intan terlihat melambaikan tangan.


Rania segera berjalan mendekat ke arah Intan.


"Lama banget sih Ran,katanya mau ngobrol..."Protes Intan.


"Ya maaf...biasa,tadi lagi ngurusin kerjaan."Rania membuka bungkus makanan.


"Ya udah,mau cerita apa,mumpung aku dah selesai makan.Bisa fokus dengerin kamu...hehehe..."Intan tertawa.


"Iya,kamu kalo lagi makan sering gak fokus."


"Ya iyalah...kan fokus sama makannya..."Intan tertawa.


"Aku pengen curhat sama kamu.Tapi kamu jangan marah ya..."Rania merayu Intan.


"Kenapa mesti marah?"Tanya Intan.

__ADS_1


"Ya....soalnya aku baru bilang sekarang."Rania merasa gak enak sudah menyembunyikan hal ini dari Intan.Untuk itu ia ingin mengatakan semuanya sekarang.


"Tapi bukan maksudku buat nyembunyiin dari kamu.Cuma waktu itu kamu lagi sibuk ngurusin Bapak kamu.Sampek pada akhirnya Bapak meninggal.Maka dari itu aku belum cerita sama kamu."Rania mengingat waktu itu mereka jarang bisa ngobrol berdua.


Intan pun berpikir kejadian beberapa bulan yang lalu.Dimana dia saat itu sangat sibuk.Hingga tak ada waktu bareng Rania.


Juga kesedihannya yang ditinggal Bapak.


Mengingat itu Intan kembali bersedih.


"Waktu itu aku dah mau cerita sama kamu.Tapi tiba-tiba kamu dapat telpon kalo Bapakmu sudah gak ada.Ingat kan?"Rania mengingatkan.


"He-em...terus apaan?"Intan kembali bertanya.


"Kamu janji jangan marah sama aku ya."Rania memohon.


"Iya...emang apaan sih?"Intan minum sambil melihat Rania dengan penuh rasa penasaran.


"Sebenarnya....aku sudah jadian...sama...mas Dery."Rania mengecilkan suaranya,takut banyak yang dengar.


"Uhuk uhuk..."Intan terbatuk.


Seketika Intan mematung.


Ia seperti orang linglung yang tak sadarkan diri.


Seluruh kekuatan dalam tubuhnya seolah hilang.


Ia berharap yang ia dengar tadi adalah mimpi.


Mimpi terburuk yang telah ia alami.


"Tan...Tan...Intan.iih...kamu dengerin aku gak sih.Kok malah asyik ngelamun..."Rania menepuk bahu Intan.

__ADS_1


Seketika Intan sadar,bahwa ia sedang tidak bermimpi.Ini sungguh nyata.


Ia mencoba bersikap biasa.


Menyembunyikan rasa terkejutnya.


"Eh,iya Ran,ini juga lagi dengerin kamu kok."Bohong Intan.


"Kamu gak marah kan?"Rania takut Intan marah karna merasa tak di anggap teman.


Sejujurnya Intan ingin marah.Tapi pantaskah ia marah?Dan pada siapa dia akan marah?


Rania sama sekali tak bersalah.


Karna rasa yang ia punya untuk Dery,hanya ia dan Tuhan yang tau.


"Sejak kapan kamu jadian sama Dery?"Intan mencoba tersenyum.


"Kira-kira tiga bulan lebih lah."Rania mengingat-ingat.


"Jadi selama itu mereka jadian dan baru cerita sekarang?"Dalam hati Intan merasa kecewa.


"Pas kamu bolak balik pulang itu lho...Tadinya pengen cepet cerita sama kamu.Tapi kita jarang ketemu...Kamu gak marah kan Tan...?"Lagi dan lagi Rania bertanya.


Sambil masih memberikan senyum manisnya Intan mengulurkan tangan.


"Aku gak marah kok.Selamat ya..."Mereka berpelukan.


Intan menyembunyikan air matanya di balik pelukan Rania.


"Sudah habis jam istirahatnya.Aku mau balik duluan ya Ran."Intan terburu-buru membuang sampah makanan.Lalu berlari kecil masuk ke tempat kerjanya.


Rania merasa lega.Karna ia sudah menceritakan tentang hubungannya dengan Dery pada Intan.Meski belum bisa cerita banyak,tapi setidaknya ia sudah menceritakan hal intinya.

__ADS_1


Ia tidak mau jika suatu saat sahabatnya tau berita itu dari orang lain.


Pasti Intan akan sangat kecewa karna merasa tak berarti sebagai sahabat Rania.


__ADS_2