Pengagum CEO Tampan

Pengagum CEO Tampan
Program kehamilan


__ADS_3

Seperti yang sudah mereka rencanakan malam sebelumnya,pagi ini Arya sengaja berangkat ke kantor agak siangan.


Arya mengantarkan Rania pergi ke rumah sakit terlebih dahulu.


Setelah membuat janji dengan sang dokter,maka Rania dan Arya tidak perlu sibuk untuk antri.Mereka langsung datang keruang dokter untuk segera berkonsultasi soal program kehamilan.Tak lupa mereka memberikan hasil pemeriksaan beberapa bulan yang lalu.


Setelah dokter melihat hasil tes yang sudah ada,maka dokter mengatakan jika mereka hanya perlu melakukan program kehamilan saja terlebih dahulu.


Arya dan Rania mendengarkan setiap keterangan yang dokter jelaskan.


"Ibu Rania harus mulai pola hidup sehat dan juga pola makan.Olahraga ringan dan tidak boleh terlalu kecapek'an.Usahakan istirahat yang cukup dan jangan banyak pikiran ya Bu..."Ucap dokter yang bernama Tiara tersebut.


"Baik Bu...."Jawab Rania sambil melihat suaminya.


"Nanti saya akan memberikan resep vitamin yang bisa di tebus di apotek rumah sakit ini ya ibu...bapak..."Dokter itu memberikan secarik kertas pada Arya.


"Baik dok."Arya pun menerima kertas tersebut.


Setelahnya dokter Tiara menjelaskan tentang beberapa makanan yang baik untuk di konsumsi dan juga yang harus di hindari.


Setelah dirasa cukup jelas Arya dan Rania berpamitan pada dokter Tiara.


Dan merekapun pergi dari rumah sakit dengan harapan yang sangat besar.


Rania berharap tak lama lagi ia datang kesini dengan kabar yang gembira tentunya.


Tak lagi program kehamilan tapi untuk periksa kandungan.


"Sayang,kamu masih ingin bekerja?Bukankah tadi dokter sudah berpesan jika kamu tidak boleh terlalu capek?"Tanya Arya saat sudah sampai di mobil.


"Emmm...tapi kalau aku di rumah terus dan gak ngapa-ngapain aku justru bakalan kepikiran terus soal kehamilan mas."Rania menggigit jarinya bimbang.


"A..aku boleh gak masih kerja,aku janji gak bakalan capek-capek.Aku gak akan ambil lembur.Dqn kalau memang aku sudah beneran hamil,aku bakalan langsung resign."Rania berharap Arya akan mengijinkannya.


"Apa kamu merasa gak nyaman di rumah sayang?"Arya menatap mata Rania.

__ADS_1


"Bu-bukan begitu mas,tapi mas tau sendiri kan kalau mama dan nenek sangat memanjakan ku,pasti mereka akan melarang ku untuk ikut beberes rumah,nanti aku takut bosan di rumah terus....selain itu..."Rania tak meneruskan ucapannya,takut Arya marah.


"Selain itu apa sayang?"Arya menggenggam tangan Rania.


"Aku...masih ingin kumpulin uang buat bantu kuliahnya Tomi.Aku gak enak kalau mas terus-terusan yang biayain kuliah Tomi."


"Sayang,mas kan udah berulang kali bilang,Tomi dan Nabila juga adeknya mas.Jadi gak masalah kalau mas sedikit bantu mereka."


"Mas gak cuma bantuin sedikit mas,tapi sudah lebih dari banyak,bahkan hampir semua kebutuhan keluarga Nia mas Arya yang cukupin."Rania mengangguk.


"Sayang,sejak kapan kamu itung-itungan?Mas ikhlas kok bantu mereka.Lagian ya,mas cuma modalin sedikit buat mereka.Tapi mereka begitu mandiri.Semua bantuan dari mas di manfaatkan dengan sangat baik.Jadi mas sama sekali gak keberatan."


Memang benar apa yang Arya katakan,sejak bapak di beri modal untuk membuat warung di rumah,bapak menggunakannya dengan sangat baik,sehingga warung itu kini sudah semakin ramai.Hasil dari warung sudah bisa mencukupi kebutuhan sehari-hari dan juga bayar sekolah untuk Tomi dan Nabila.


Begitupun dengan Tomi,semenjak tinggal dan ngekost di kota tempatnya kuliah,ia mempergunakan sepeda motor dari Arya untuk kuliah,selain itu ia juga bekerja part time di sebuah restoran terkenal.Meskipun hanya sebagai waiters tapi gajinya ia tabung untuk kebutuhan masa depannya.Sedang uang kiriman dari bapak ia gunakan untuk bayar kost dan makan sehari-hari.


Kiriman uang dari Arya tiap bulannya ia gunakan untuk membayar kuliah,dan sisanya ia simpan di ATM yang Arya berikan.


"Sayang,kok malah melamun?"Arya mengusap pipi Rania.


"Makasih?untuk?"Arya mengerutkan keningnya.


"Makasih untuk semua yang sudah mas berikan untuk Nia dan keluarga Nia."


"Sayang,udah deh gak usah ngomongin itu.Nanti ujung-ujungnya kamu nangis.Aku gak bisa liat kamu nangis sayang..."Arya menarik kepala Rania di dada bidang Arya.


"Nia nangis karna terharu dan bahagia mas..."Rania mendongakkan wajahnya melihat Arya.


"Apapun itu,tapi aku tak suka melihat air mata kamu jatuh."Mengecup pucuk kepala Rania yang tertutup hijab.


"Tapi masih boleh kan Nia kerja?"


"Baiklah...tapi ingat,begitu kamu tau kamu hamil,maka harus segera resign,ok?"


"Ok,aku janji pokoknya begitu positif aku bakalan resign."Rania memeluk erat Arya.

__ADS_1


"Ya sudah,kita berangkat ke kantor ya."Arya melepaskan pelukannya lalu memakaikan Rania sabuk pengaman.


🌼🌼🌼


Di lain tempat...


"Mas,kok jam segini baru pulang?"Tanya Intan saat melihat Dery masuk kamar.


"Iya,sibuk!"Jawabnya acuh tanpa melihat Intan yang sedang menyusui bayinya.


Dery memang tak pernah berbuat kasar,tapi sampai saat ini dia masih begitu dingin pada Intan.Bahkan hanya sekedar mengajak baby Devan bercanda saja tidak pernah ia lakukan.


Hanya terkadang saja Intan melihat Dery mendekati Devan saat ia sedang meninggalkan Devan mandi atau kedapur.


Begitu Intan mendekat maka Dery pun dengan segera pergi dari Devan.


Intan masih terus sabar,sesuai permintaan bapak mertuanya yang tetap menyuruhnya untuk tinggal bersama mereka.


Karna pak Herman melarang Dery untuk menceraikan Intan,hingga saat ini Intan masih terus setia di samping Dery.


Berharap dengan hadirnya Devan lambat laun akan meluluhkan hati Dery.


Dan menyadarkannya jika mereka bersatu karna memang jodoh.


Namun beberapa hari ini Intan sering mendapati Dery yang pulang larut malam.


Setiap di tanya Dery selalu bilang sibuk lalu menghindarinya tanpa menerangkan arti sibuk yang dia kerjakan hingga pulang larut malam.


Mereka tidur satu kamar,tapi hingga saat Devan berusia enam bulan pun mereka belum pernah berhubungan layaknya suami istri.


Dery lebih suka tidur di sofa di dalam kamarnya,daripada tidur satu ranjang dengan Intan.Pernah Intan yang meminta untuknya saja yang tidur di sofa,tapi Dery marah dan melarangnya,takut jika terjadi sesuatu ia yang akan di salahkan oleh bapak.


Ternyata meluluhkan hati Dery tak semudah itu.Ia masih terus terjebak oleh perasaannya di masa lalu.


Meski lelah namun Intan tetap berusaha sabar.Entah sampai kapan kesabaran itu akan terus setia menemani hatinya yang sering terluka dengan sikap dingin dari Dery.

__ADS_1


Intan sering mengesampingkan luka hatinya dengan menghibur diri.Melihat tumbuh kembang putranya yang mulai belajar duduk membuatnya sedikit melupakan rasa sedihnya.Devan begitu aktif hingga Intan sibuk dengan kegiatannya yang menguras tenaga.Hingga ia sering tertidur tanpa sadar jika Dery belum pulang hingga larut malam.


__ADS_2