
Setelah kejadian waktu itu hubungan Rania dan Arya kembali dingin.
Rania tak berani memulai percakapan karna melihat Arya bersikap cuek kembali.
Rania berpikir jika Arya sedang memikirkan ucapan Dery waktu itu.
Mungkin Arya kecewa,marah,dan mungkin bisa juga benci.
Padahal Arya sendiri merasa malu dengan ucapan Dery.
Hingga ia belum berani sedekat itu dengan Rania.
Beberapa hari dilalui dengan saling diam satu sama lain membuat Arya merasa ada hal yang hilang.
Membuat Arya semakin uring-uringan.
Asisten Roy harus selalu sabar menghadapi sikap bos nya yang sering berubah-ubah mood nya.
"Roy...apa yang harus aku lakukan.Aku tidak bisa terus-terusan diam-diam seperti ini.Aku kangen sama istri ku Roy."Arya memijit pelipisnya.Sudah beberapa hari ini mereka tidak lagi makan siang berdua.
Arya sengaja tak menyuruh Roy untuk menghubungi Rania.
Karna rasa malunya Arya merasa belum siap untuk bertemu Rania.
Ia merasa belum bisa jadi yang terbaik dan membahagiakan Rania.
Apa saja hal yang disuka dan dibenci Rania,Arya tak pernah tau hal itu.
"Gampang,tinggal datang,hampiri dan ajak bicara bos.Dalam sebuah hubungan itu yang terpenting adalah komunikasi."Usul Roy.
"Tapi aku...aku bodoh sekali.Aku belum pernah membahagiakannya.Bahkan apa yang dia mau saja aku tidak tau Roy."
"Bagaimana bisa tau bos...kalau pak Arya sendiri tak pernah mengajaknya bicara."Roy geram dengan bosnya yang terlalu bodoh soal cinta.
"Dulu,pak Arya pernah merayu pacarnya gak sih?"Roy heran.
"Dulu...dengan mantanku aku jarang merayu!"Arya pun heran dengan dirinya sendiri.
"Dulu perasaan aku gak pernah galau kayak gini deh Roy."Arya mengerutkan keningnya mengingat masa lalunya dengan sang mantan.
"Dulu...kita LDR saja aku biasa saja kok.Tapi kenapa sekarang rasanya beda ya Roy.Dia di dekatku,tapi aku gak bisa peluk dia,gak makan siang berdua,itu saja rasanya sangat menyiksa.Padahal setiap hari masih bisa melihatnya."Keluh Arya lagi.
Asisten Roy terus setia mendengar keluh kesah sang bos.
"Itulah yang namanya cinta bos..."
Arya terdiam mendengar ucapan Roy.
"Apakah benar aku sudah jatuh cinta sama dia?"
"Kamu juga merasakan hal itu sama istri kamu?"Arya ingin tau pengalaman cinta Roy.
Meskipun usia Roy dua tahun di bawah Arya,tapi Roy sudah menikah dua tahun yang lalu.Bahkan sudah di karuniai seorang putri.
__ADS_1
Arya adalah tipe seseorang yang bijaksana dan baik hati.Sehingga belum lama bekerja sama dengan Roy saja mereka sudah seakrab itu.
Arya tak pernah membeda-bedakan seseorang.
Jika menurutnya orang itu cocok,maka Arya akan mudah akrab meski baru mengenal.
Apalagi melihat kinerja Roy yang disiplin dan profesional membuat Arya merasa senang memiliki asisten seperti Roy.
Terkadang Roy bisa jadi asisten,terkadang juga bisa jadi teman dekat bagi Arya.
"Kurang lebih ya begitu bos."Jawab Roy.
Membuat Arya semakin penasaran ingin belajar soal rumah tangga pada Roy.
"Kamu juga merasa kangen sama istri kamu maksudnya?"
"Iya lah bos,masak iya kangen sama istri orang.Yang ada ntar di pukuli saya bos...hahaha..."Secepat kilat Arya melempar bantal sofa ke arah Roy.
"Aku lagi serius Roy..."
"Hahaha...ampun bos..."Roy menutup mulut Dangan kedua tangannya.
"Saya selalu kangen sama istri di rumah.Meskipun setiap hari bertemu tapi makin kesini makin sayang dan kangen sama istri.Begitu sampai di rumah ketemu istri dan anak,rasanya hati senang sekali.Semua rasa lelah seolah hilang begitu saja."Terang Roy.
"Gak usah lebay juga kali Roy."
"Jangan salah bos,cinta itu bukan lebay,tapi jika hati yang bicara,ibarat kata mata kita buta.Ingin selalu bersamanya di setiap kesempatan.Itulah cinta."
"Tapi...?"Arya kembali meyakinkan hatinya.
"Maksud kamu apa Roy?"Arya kembali melemparkan satu bantal lainnya yang kemudian di tangkap lebih dulu oleh Roy sebelum mendarat di kepalanya.
"Wanita butuh kepastian.Jika bos tidak ingin kehilangannya,maka perkenalkan dia pada dunia bahwa dia milik pak Arya."
Seperti mendapat sebuah pencerahan.Arya semakin yakin tentang perasaannya pada Rania.
Arya semakin tak sabar ingin segera pulang dan memeluk Rania.
Malam yang ditunggu pun tiba.
"Mas,gak sholat isya' dulu?Sudah adzan."Rania mengingatkan Arya,karna biasanya setelah mendengar adzan Arya segera bergegas ke mushola untuk sholat berjamaah.
"Kita sholat berdua aja ya."Ucap Arya sambil terus melihat Rania.
Rania yang terus di perhatikan Arya jadi salah tingkah.
"Ya udah gakpapa,aku siapin dulu sajadahnya."
Rania menyibukkan diri dengan menyiapkan keperluan Arya.
Melihat Arya masih diam di tempat dan masih terus memperhatikan Rania membuatnya semakin heran.
"Mas Arya gak wudhu dulu?"
__ADS_1
"Ah i-iya."Seketika pandangan Arya terputus,dengan gugup ia segera berdiri dari duduknya dan segera pergi wudhu.
Selesai sholat berdua seperti biasa,Rania mencium punggung tangan Arya dan di balas ciuman di kening yang cukup lama.
Arya menggeser tubuhnya mendekati Rania.
Lalu dengan tiba-tiba Arya memeluk Rania dari belakang.
Rania yang kaget hanya bisa diam mematung.
"Mas."Rania merasakan jantungnya yang berdebar kencang.
"Biarkan seperti ini sebentar."Arya menyandarkan kepalanya di bahu Rania.
"Ya Allah...kenapa sedekat ini...detak jantungku semakin tak bisa di kontrol."Rania masih diam tak bergerak untuk beberapa menit.
"Maafkan aku mas."Ucap Rania lirih.
Arya memiringkan wajahnya tepat di samping pipi Rania.
"Maaf untuk apa?"
Melihat pipi Rania yang bersemu merah membuat Arya tak sadar mengecupnya perlahan.
Rania yang di perlakukan seperti itu jadi linglung untuk sepersekian detik.
Hingga Arya kembali menyadarkannya dari lamunannya.
"Kenapa?"Arya kembali menyandarkan kepalanya di bahu Rania sambil mengeratkan pelukannya.
"E...emmm...maaf untuk waktu itu."Seolah lidah Rania menjadi kaku.
"Lupakan saja."
"A-aku gak sengaja ketemu di sana waktu itu."
"Iya,aku tau."
"Hah...tau?Apa dia sudah mendengar semua obrolanku sama Dery?"
"Dia..."Rania menggantung ucapannya.Ingin memberitahu bahwa Dery mantan pacarnya,tapi dia tidak berani.
"Dia mantan pacar kamu bukan?"Tebak Arya.
"Mas Arya tau?"Reflek Rania menoleh dan bibirnya tepat mengenai pipi Arya.
Rania merasa sangat malu.Dengan cepat ia membuang muka,takut Arya marah.
Sedang Arya tersenyum sumringah.Baru kali ini Rania mencium pipinya.Meskipun itu secara tidak sengaja.
Namun tak lama kemudian ia cemberut.
"Apa kamu pernah di cium sama dia?"
__ADS_1
Membayangkan hal itu membuat Arya tak rela.
"Hah...?"Rania bingung harus menjawab apa.