
Membuka kardus satu persatu.Dua kardus berisi kue dan aneka makanan ringan.Serta dua kardus yang lainnya berisi perlengkapan sekolah.
"Dek...ini ada titipan dari mamanya mas Arya dari kota.Satu buat dek Tomy,satunya lagi buat dek Nabila."Rania menyerahkan masing-masing kardus pada kedua adiknya.
"Waw...ini apaan mbak?Kok kardusnya besar-besar."Nabila sangat penasaran dan tak sabar ingin membukanya.
Tomy yang melihat tingkah sang adik pun merasa malu.
"Katanya sih tadi peralatan sekolah.Coba aja dibuka."Rania paham adiknya sudah sangat penasaran,tapi mereka belum berani buka jika belum dapat perintah untuk membukanya.
"Boleh mbak di buka sekarang?"Kembali Nabila bertanya.
"Buka saja dek."Arya yang jawab.
"Yeeeaa...."Nabila kegirangan.
Dibukanya kardus itu dengan penuh rasa penasaran.Begitu dibuka terdapat sebuah tas baru serta beberapa buku dan alat tulis.
Di tumpukan paling bawah terdapat sepasang sepatu untuk sekolah.
"Mbak...banyak banget...bagus-bagus lagi."Nabila sibuk melihat sampul buku tulis yang berwarna warni.
"Terimakasih ya mas.Tolong sampaikan terimakasih juga buat Ibunya mas Arya."Ucap Tomy.
Ya,Tomy sudah lebih dewasa dari Nabila,cara bicaranya pun juga lebih tertata.
"Iya...nanti mas sampaikan."Arya mengangguk melihat kedua adik Rania yang terlihat bahagia meski hanya dengan barang sederhana.
"Itu apa...?"Bapak ikut bergabung setelah selesai mandi.
"Ini pak,oleh-oleh dari mama."Jawab Rania.
"Ucapkan terimakasih banyak pada Ibu Anita ya nak Arya,tapi sebaiknya tidak perlu repot seperti ini."
"Tidak apa-apa pak...Hanya sekedar saja kok."Jawab Arya.
"Iya lho pak...lihat ini.Bu Anita juga memberikan kue dan makanan banyak sekali."Ibu datang membawa kue yang tadi di bawa ke dapur.
"Jangan dibiasakan seperti ini nak Arya,kalian mau berkunjung kesini saja Bapak sudah sangat senang."Imbuh Bapak.
"Iya pak...gak apa-apa.Ini rezeki buat kita semua,tolong jangan ditolak."Menyodorkan kue yang di bawa Ibu ke depan Bapak Tomy serta Nabila.
Dengan malu-malu Nabila mengambil satu potong kue.
Mencobanya dan menikmati kue yang penuh dengan toping coklat itu.
__ADS_1
"Eeemmm,enak banget."Memejamkan mata beberapa detik.
"Benarkah,kalau enak dek Nabila boleh kok ambil lagi."Arya senang melihat ekspresi Nabila yang begitu menikmati kue nya.
"Boleh minta lagi?"Ucapnya malu-malu dengan mulut yang masih terisi penuh.
"Boleh...ambil saja."Arya menyodorkan kembali piring yang berisi kue tadi.
Nabila tersenyum malu-malu tapi tangannya kembali mengambil dua potong kue sekaligus.
"Hahaha..."Semua tertawa melihat tingkah lucu Nabila yang malu-malu tapi nambah lagi.
"Kalian nanti tidur di sini bukan?"Tanya Bapak memastikan.
"Iya pak,rencana kita mau tidur di sini malam ini,dan insya Allah kembali besok sore."Arya menoleh pada Rania.
"Syukurlah kalian mau tidur di sini...Bapak senang sekali,meski bagaimanapun keadaan kami disini...tapi ini orang tua kalian.Kita semua senang kalian mau kesini disela kesibukan kalian."Ucap Bapak.
"Iya pak,nanti bisa kita agendakan buat main kesini sebulan sekali."
"Alhamdulillah...Bapak tau kalian sibuk,untuk itu Bapak tidak memaksa kalian untuk sering kesini,meski Bapak berharap sekali kalian tiba-tiba datang seperti ini.Itu merupakan kejutan buat kita di sini."Membuka tutup gelas lalu minum teh yang sudah disiapkan ibu.
"Kami tidak mengharapkan apapun dari kalian,Bapak hanya bisa berdoa semoga anak-anak bahagia semua,di manapun berada."Imbuh sang Bapak.
Bapak mengusap lengan Arya yang duduk di sampingnya.
"Kalau kalian capek lebih baik istirahat saja di kamar.Bapak mau ke rumah pak RT dulu."
"Bapak mau apa ke rumah pak RT?"Tanya Rania yang belum mengerti maksud Bapak.
"Mau lapor sama pak RT kalau kalian datang dan malam ini nginap di sini."
"Memang harus ya pak?"Tanya Rania.
"Biar tidak terjadi kesalahpahaman saja nduk...kalian kan baru kesini setelah kalian menikah."Bapak berdiri dari duduknya.
"Sudah,kalian istirahat saja dulu."Kembali menyuruh Arya dan Rania.
"Buk...siapkan beberapa kue oleh-oleh dari Bu Anita ya buk,buat pak RT."Ibu yang di suruh pun segera pergi ke dapur.
"Tunggu sebentar ya pak,biar ibuk siapkan dulu."Jawab ibu dari dapur.
"Kita istirahat dulu yuk mas,pasti mas Arya capek."Ajak Rania.
"Mas sama mbak mau istirahat dulu ya dek...kalian habiskan saja kue sama camilannya.Gakpapa kan kita tinggal?"Merangkul pundak Tomy.
__ADS_1
"Iya mas,gakpapa.Mas Arya pasti capek habis perjalanan jauh."Jawab Tomy.Sedangkan Nabila masih sibuk dengan beberapa kue yang masih ingin di nikmati.
Rania membuka pintu kamar,dan Arya menyusul di belakangnya sambil menarik koper yang berisi pakaian mereka berdua.Lebih tepatnya pakaian untuk Arya.
"Assalamualaikum..."Mengucapkan salam sebelum masuk kamar.
"Mas,maaf ya kalau nanti tidurnya gak nyaman.Biar aku bersihkan dulu."Karna mereka datang tanpa memberi kabar,alhasil kamar Rania belum dirapikan.Meski sebenarnya tidak terlalu kotor,karna setiap hari ibu selalu rajin membersihkan kamar sang anak.Bahkan tak jarang kamar Rania di tiduri oleh Nabila saat tau pemiliknya jarang pulang.
Namun tak ingin mengganggu kenyamanan Arya maka Rania membersihkan kembali kamarnya serta mengganti seprei nya dengan yang baru.
"Aku bantu."Mereka pun saling bekerja sama membersihkan kamar demi kenyamanan berdua.
"Capeknya..."Mereka berdua sama-sama merebahkan tubuh di kasur.
"Kita tidur dulu ya mas,capek nih."Rania mulai memejamkan mata.
"Heeemmm."Begitu pula Arya.Dia pun ikut memejamkan mata.
Tanpa menunggu lama akhirnya mereka berdua sudah terlelap saking terlalu capeknya.
Mereka tidur cukup lama.
Hingga terdengar suara sayup-sayup membangunkan mereka berdua.
"Nak,nduk...bangun...sudah sore,kalian mandi dulu."
Rania mencoba membuka matanya yang serasa masih enggan untuk bangun.
"Nduk....bangun dulu."Ucap ibu lagi.
Rania memaksa matanya untuk terbuka lebar.
Ia baru sadar jika ternyata dia benar-benar sedang di rumah orang tua nya.
Sempat takut jika ternyata ia hanya mimpi belaka.
Ia meraba ke arah sisi samping dari tubuhnya.
Ia mendapatkan seseorang yang sedang ikut terlelap juga di sebelahnya.
"Tampannya suamiku...benar-benar ciptaan Tuhan yang sempurna.Betapa beruntungnya jika aku bisa memiliki hatinya,bukan hanya tubuhnya"Dalam hati memuji sang suami.
Yang sampai saat ini dia masih belum yakin dengan perubahan sikap Arya.
Berdiri pelan dan membuka pintu juga dengan hati-hati.Takut mengganggu tidur Arya.
__ADS_1