
Usai mendengar kabar yang mengejutkan itu,Intan segera kembali ke tempat kerjanya.
Namun ia tak bisa fokus sama sekali.
Ia mencoba untuk tak memikirkan hal itu,tapi tetap saja ia teringat ucapan Rania.
"Ternyata mereka sudah jadian selama tiga bulan lebih."Intan kembali mengingat-ingat kejadian yang mungkin sudah ia lewatkan sekitar tiga bulan yang lalu.
"Jadi....nasi goreng yang di kirim Dery waktu itu...berarti itu untuk Rania.Dan waktu itu mereka sudah jadian?"Rania masih terus berpikir.
"Dan waktu Dery nganterin aku pulang waktu Bapak meninggal..."
"Intan....Intan.Kenapa kamu berpikir kalau saat itu Dery perhatian sama kamu..."Intan menertawakan kebodohannya sendiri.
"Aduh!awww."
Karna terlalu sibuk dengan batinnya,jari tangan Intan tertusuk jarum dari mesin jahit yang ia gunakan.
Darah segar mengalir.Ia segera mengambil tisu untuk mengusap darah yang keluar.
Teman di sebelahnya panik melihat kejadian itu.
Ia segera membawa Intan pergi ke ruang kesehatan.
Sesampainya di ruang kesehatan,salah satu perawat jaga segera memberi pertolongan pada Intan.
Untung saja jarumnya tidak menancap di jari tangan Intan.
Meskipun begitu lukanya lumayan dalam.
Hingga menembus ke dalam kuku.
Untuk itu Intan di sarankan pulang agar bisa segera minum obat dan istirahat.
Saat Rania akan mengambil aksesoris di gudang,ia melihat tempat kerja Intan kosong.
__ADS_1
"Kemana Intan ya?Apa mungkin ke toilet?"Gumam Rania.
Basa basi Rania bertanya pada teman sebelah Intan.
"Intannya kemana mbak?Kok mesinnya mati.Apa lagi ke toilet?"
"Kamu gak tau ya Ran,tadi kan jari tangan Intan kena jarum."Kata teman Intan yang bernama Sari.
"Masak sih mbak,tadi istirahat masih makan bareng aku lho."Rania tak percaya.
"Iya,beneran.Barusan di suruh pulang istirahat sama perawat jaga."Kata Sari.
"Emang parah ya mbak,kok Sampek dipulangkan."
"Darahnya lumayan banyak Ran,nembus di kuku.Tapi gapapa sih.Tadi dah di obati.Di suruh pulang minum obat terus buat istirahat gitu katanya."Sari menjelaskan.
"Oh...gitu ya.Makasih ya mbak infonya."
"Ehm!"Tiba-tiba ada suara dari belakang.
Rania kaget,begitu berbalik badan ternyata sudah ada Arya di belakangnya.
Segera mungkin Rania menunduk hormat sambil memberikan senyum manisnya,lalu secepatnya pergi dari tempat itu.
Namun Rania segera menghentikan langkah kakinya ketika mendengar suara bariton itu lagi.
"Siapa yang suruh kamu pergi?!"Arya berkata dengan nada yang cukup tinggi.
Rania kembali berbalik badan.
"Saya pak?"Rania menunjuk dirinya sendiri.
"Kamu pikir saya bicara sendiri?"
"Maaf pak."Rania menunduk.
__ADS_1
"Ikut saya."Perintah Arya.
"Tapi pak,saya di tungguin.Mau ambil aksesoris ke gudang."Rania menunjuk gudang yang akan ia tuju.
"Sadar lagi di tungguin tapi malah ngobrol."Gerutu Arya.
"Maaf pak."Lagi-lagi Rania mintamaaf.Ia malas jika harus berdebat.
"Serahkan kertas catatannya ke gudang.Saya tunggu disini."Arya mengibaskan tangannya menyuruh Rania untuk segera pergi.
Rania berlalu sambil mengusap dadanya.
"Sabar Nia...."
Selepas menyerahkan catatan ke gudang,Rania kembali ke hadapan bos besar.
"Sudah pak."Lapor Rania.
"Ikut saya."
"Baik pak."
Tanpa banyak bertanya Rania segera mengikuti langkah Arya.
Ternyata Arya mengajak Rania untuk cek barang yang datang.
Sebenarnya pikiran Rania sedang tidak fokus.
pikirannya bercabang antara pekerjaan dan Intan.Ia terlihat sering melamun.
Arya sesekali memperhatikan Rania.
Ingin marah,tapi ia tak tega.
Saat melihat ekspresi Rania,justru Arya tanpa sadar semakin tertarik pada gadis polos yang terlihat unik baginya itu.
__ADS_1
Senyumnya,matanya,hidungnya.
Seluruh wajahnya yang terlihat natural tanpa polesan apapun.