Pengagum CEO Tampan

Pengagum CEO Tampan
Selepas resepsi


__ADS_3

Sesampainya di luar acara pernikahan Intan,Arya masih terus mengikuti langkah Rania.


"Pak Arya,terimakasih banyak."Rania memelankan langkahnya sambil menoleh pada Arya.


"Untuk?"


"Emm...sudah nemenin Rania di acara ini."


"Saya kesini karna di undang pak Herman."Jawabnya terlihat cuek dan tetap dingin tanpa melihat lawan bicaranya.


Rania merasa malu.


"Bukanya tadi pas di tanya Intan dia bilangnya Dateng bareng aku?


Ah,mungkin itu cuma basa basi aja.


Rania...kamu jangan ke GR an."Batinnya.


"Mmmm...baiklah.Saya mau pulang duluan ya pak.Permisi..."Rania menunduk lalu melangkah pergi meninggalkan Arya.


Namun Arya memanggil Rania.


"Saya antar."


Rania berhenti sebentar.


"Terimakasih pak Arya,tapi dekat kok.saya bisa jalan kaki."Ia mulai berjalan lagi.


Tanpa aba-aba Arya menarik tangan Rania.


"Temani saya ambil mobil dulu."


Rania terpaksa mengikuti keinginan sang bos.


Karena memang acara belum selesai maka masih banyak mobil parkir di sepanjang tempat.


Mobil Arya terletak di bagian depan sehingga semakin menyusahkannya untuk keluar.


Ia berjalan sambil menggerutu.


Entah bicara apa Rania kurang jelas.


"Pak,tolong dong mobil saya mau keluar."Bicara pada juru parkir yang bertugas.


"Tapi letaknya di depan pak.Sedang acaranya belum selesai."Jawab juru parkir.


"Tapi saya mau pulang pak..."Muka Arya masam.


"Ah,baiklah.Bapak tunggu sebentar,saya panggilkan mobil yang menghalangi di belakang mobil pak Arya."


"Saya tunggu segera."Jawabnya dengan aura geram.


"Baik pak."


Juru parkir itupun berlari tergopoh-gopoh.


Ia takut jika pimpinan Adiyasa grup yang terkenal dingin itu akan marah padanya.


Arya mendekati Rania yang duduk di bawah pohon mangga.


"Tunggu sebentar.Ada mobil yang menghalangi."Ikut duduk di sebelah Rania.


Rania mendongak,melihat Arya yang ternyata sudah di dekatnya.


"Di acara seperti ini tuh enaknya bawa motor aja pak,gak terlalu sulit keluarnya..."Rania menutup mulutnya.Takut bos dingin marah dengan ucapannya.


"Gak biasa bawa motor."


"Huuft..."Rania merasa lega.karna ternyata Arya tidak tersinggung.


Tak lama kemudian juru parkir datang dengan tersenyum bangga.


"Mobil pak Arya sudah bisa di ambil sekarang pak.Maaf ketidak nyamanannya."Tukang parkir itupun pergi setelah menunduk hormat pada Arya.


Arya pergi begitu saja mengambil mobilnya.

__ADS_1


Setibanya di sebelah Rania mobilnya berhenti.


"Ayo masuk."Membuka pintu mobil.


"Rania gak belakang aja pak duduknya?"Tanyanya merasa tidak enak.


"Cepetan."Arya tak terima penolakan.


Akhirnya Rania masuk mobil dan duduk di sebelah Arya.


"Sebenarnya apa maunya sih bos dingin ini.sikapnya kadang membingungkan!"Gerutu Rania dalam hati.


"Pak!"Arya memanggil tukang parkir yang duduk di bawah pohon.


Tukang parkir itu langsung berdiri dan berlari kecil ke arah Arya.


"Iya pak,ada yang bisa saya bantu?"Tanyanya.


"Terimakasih."Memberi selembar uang berwarna merah.


"Terimakasih pak Arya.Terimakasih."Ucapnya dengan wajah berbinar senang.


"Meski dingin tapi dermawan."Rania terkesan dengan sifat Arya.


Arya melajukan mobilnya pelan.


"Mau langsung pulang?"Bertanya tanpa menoleh.


"Iya pak."


"Gak mau kemana dulu,atau makan dulu?"


"Hah...apa maksudnya ini?pertanyaan menjebak!"


"Sudah kenyang pak.Kan habis makan."


"Ok!Aku juga capek.Mau cepetan pulang."Tersenyum mengejek pada Rania.


"Tuuuhhh kan."Tebakan Rania tak meleset.


Dingin,cuek,seenaknya sendiri dan suka iseng.


Mobil Arya berhenti di depan kost Rania.


Rania segera membuka pintu mobil setelah Arya membuka kuncinya.


"Huuh...sampai.Terimakasih banyak pak Arya."Rania menunduk sebentar lalu menutup kembali pintunya setelah ia keluar dari mobil.


"Tunggu."Arya membuka jendela mobilnya dan menjulurkan kepalanya.


"Iya..."Rania berhenti dan mendekat kembali pada Arya.


"Tiga bulan lagi aku mau nikah.Kamu boleh datang."


"What...?Apa-apaan ini maksudnya.Mau ngundang atau mau ngasih pengumuman."Rania menyipitkan matanya sambil memikirkan jawaban yang tepat.


"Terimakasih pak."


"Pas ijab Qabul cuma keluarga aja yang nemenin.Kamu boleh datang."


"Mmm....Insya Allah."


Setelah itu Rania masuk ke kost'an.


Ia masih terngiang ucapan Arya yang baginya membingungkan.Seperti pemberitahuan tapi juga dengan nada sedikit meminta.


Sementara itu Arya kembali melajukan mobilnya pelan.


Ia pun merasa malu atas kebodohannya.


Tanpa ia rencanakan,ia sudah meminta Rania datang ke acara pernikahannya.


Sesampainya di rumah ia segera masuk kamar.


Ia masih berdebat dalam batinnya.

__ADS_1


Atas keberanian yang ia ucapkan pada Rania tadi.


Namun yang lebih membuatnya heran,adalah sikap Rania yang begitu tegar.


Ia ingat betul dengan wajah kedua pengantin tadi.


Yang lelaki adalah pacar Rania,dan yang perempuan adalah teman dekat Rania.


Entah apa yang membuat status mereka menjadi suami istri.


Dan sejak kapan lelaki itu putus hubungan dengan Rania?


Namun ia salut dengan sikap Rania.


Rania masih bisa datang ke acara tersebut dengan keadaannya yang baik-baik saja dan justru terlihat tenang dan anggun.


Untuk itu ia segera mengikuti Rania antri panjang untuk bisa bersalaman dan mengucapkan selamat.


Juga sedikit memberi pelajaran pada pengantin pria,bahwa Rania baik-baik saja.


Ada sedikit rasa yang mencubit di hati Arya,ketika membayangkan Rania bersedih dengan keadaannya.


Ingin rasanya ia memeluk Rania dan menenangkannya.


Namun Arya segera menepisnya.


Sebentar lagi dia akan menikah.


Ada hati yang harus ia jaga.


Lain halnya dengan Rania.


Sesampainya di kost ia segera ganti pakaian dan membersihkan make up di wajahnya.


Ia masih terbayang dengan sikap Arya.


Masih tak paham dengannya.


Ia yang terkadang baik,manis,perhatian.


Tapi kadang juga menunjukkan sifatnya yang dingin sedingin batu es di kutub Utara.


Dan ternyata,sebentar lagi pak Arya akan menikah.


Ah,ia jadi rindu nenek.


Sudah hampir sebulan ia tak bertemu nenek.


Berkali kali nenek memintanya bertemu tapi Rania selalu mencari alasan.


Di karenakan Rania tidak ingin nenek melihat ia yang dalam keadaan sedih.


"Huuhhh...Rania...kamu mesti kuat.kamu pasti bisa!"Ucapnya memberi semangat pada dirinya sendiri.


Mulai sekarang ia akan memulainya dari awal kembali.


Seperti saat ia pertama kali datang dan bekerja di sini.


Saat ia belum mengenal siapapun.


Ia akan fokuskan bekerja dan menabung guna membiayai sekolah adiknya.


Supaya tak sempat lagi ia mengingat-ingat kenangannya bersama Dery.


Biarkan dia bahagia bersama Intan.


Karena melepaskan itu jauh lebih sulit dari mempertahankan.


Namun meski ia berusaha setegar apapun saat di depan banyak orang,jika sedang sendiri ia begitu rapuh.


Airmatanya masih menetes.


Ia hanya berusaha kuat dan baik-baik saja.


Kesedihannya membuatnya capek.

__ADS_1


Dan iapun terlelap dengan air mata masih menetes di pipinya.


__ADS_2