
Sampai di rumah senyum Arya masih tak berubah.
Orang serumah jadi bingung melihatnya.
Tadi Arya pergi dengan kekhawatiran,tapi pulang dengan senyum yang terus mengembang.
"Assalamualaikum..."Rania dan Arya mengucapkan salam secara bersamaan.
"Waalaikumsalam..."Jawab mama,papa,dan nenek bersamaan juga.
"Rania...kamu darimana saja,kenapa baru pulang?"Tanya sang nenek.
"Ma-maaf nek,ma,pa,tadi tidak sengaja ketemu Intan terus jalan-jalan.Maaf Rania lupa tidak kasih kabar."Rania merasa bersalah atas sikapnya barusan.
"Lain kali kalau mau kemana-mana kasih kabar dulu ya...biar semuanya gak khawatir.Arya sampai gak jadi makan lho karna kamu gak ada."Kata mama Anita.
"Iya,padahal dia lagi sakit lho Rania.Sampek marah-marah dia saking terlalu khawatirnya.Tapi sekarang udah enggak kayaknya karna udah ketemu kamu."Tambah nenek.
Mama dan nenek sama-sama tersenyum.
"Apaan sih Nek..."Arya protes dikatakan begitu.
"Ya sudah,Rania,temani Arya makan.Dia belum sembuh betul,nanti maagnya kambuh lagi.Tadi belum sempet makan."Pak Jaya menghentikan keisengan mama dan nenek.
"Iya pa.Rania permisi dulu."
"Iya."
Arya pergi ke ruang makan ditemani Rania.
Menghangatkan kembali masakan yang sudah dingin.
Seperti biasa Rania mengambilkan nasi beserta sayur dan lauk ke dalam piring Arya.
Mereka makan berdua tanpa suara.
Selesai makan Arya kembali ke kamar,sedangkan Rania pergi ke dapur membuatkan teh sesuai pesanan Arya.
Tak lupa membawakan segelas air putih.
"Rania,tadi kamu habis jalan-jalan kemana sih?"Rania kaget mendengar nama Anita yang ternyata sedang di belakangnya.
"Nemenin Intan belanja perlengkapan bayi ma."Jawabnya.
"Ow...seru pasti ya..."Pancing sang mama mertua.
"Iya ma,lucu-lucu banget pakaian bayinya.Gemes deh liatnya."Dengan antusiasnya Rania cerita karna mengingat saat belanja tadi.
"Kamu...gak pengen punya baby sendiri?Kayaknya Arya juga pengen tuh."
"Mama tau darimana ma...?"Rania tak percaya ucapan mama Anita.
__ADS_1
"Sepulang dari jemput kamu dia tersenyum terus.Padahal sebelumnya marah-marah gak jelas tau gak."
"Masak sih ma.Tapi apa hubungannya sama anak ma...."
"Ya mungkin karna liat kamu belanja perlengkapan bayi jadinya Arya membayangkan bayi terus jadi pengen punya anak."
"Mama bisa aja."Rania tersipu malu.
"Rania...bagaimanapun awal pernikahan kalian,tapi mama sangat berharap semuanya akan berakhir indah.Kalian bahagia bersama anak-anak kalian kelak."Mama Anita menghela nafas.Berharap semuanya akan bahagia.
"Aamiin...mama jangan berhenti do'ain kita ya ma."
"Meskipun aku gak yakin akan hal itu."Rania tersenyum menyimpan rasa ragunya dalam hati.
"Iya sayang,pasti mama akan selalu doain kamu."
"Makasih ya ma."Mata Rania mulai berkaca-kaca.
"Makasih buat apa sayang?"Mama Anita mengusap bahu Rania.
"Makasih karna mama,nenek,papa,semuanya begitu baik dan tulus menerima Rania yang hanya berasal dari keluarga..."Mama Anita menutup bibirnya dengan jari telunjuk.Meminta Rania untuk tak melanjutkan ucapannya.
"Rania...mama tulus sayang sama kamu.Mama tidak pernah memandang kamu hanya karna status keluarga kamu.Dan mama sangat berharap kamu bisa terus bersabar buat mendampingi Arya."
"Mama..."Rania menangis di pelukan mama Anita.
"Ingat Rania,kalian sudah sah.Belajarlah membuka hatimu untuk suamimu.Buat dia jatuh cinta sama kamu."
"Tapi bagaimana kalau dia tidak bisa ma...bagaimana kalau di hatinya masih ada mbak Sesil.Bagaimana kalau dia datang kembali,dan mas Arya akan ninggalin aku.Rania takut kalau Rania akan kecewa dan merasakan sakit ma..."Rania mengungkapkan kekhawatirannya.
"Sssttt...Jangan mikir terlalu jauh Rania.Sesil hanyalah mantan Arya,sedangkan kamu?kamu adalah istri sah Arya.Kamu berhak mendapatkan hatinya.Jadi jangan biarkan hatinya dimiliki orang lain.Apalagi hanya mantan!"
"Apa Rania bisa ma?"Rania sangat ragu akan hal itu.
"Harus.Kamu harus yakin kalau kamu bisa!Mama,papa,nenek,semua mendukung kamu."Support mama.
"Mmmm...Akan Rania usahakan ma."
"Ya sudah sana,keburu dingin tehnya."Mama Anita mengusap air mata Rania.
"Eh,iya.Ya udah,Rania ke atas dulu ya ma."Pamit Rania sambil mengambil minuman di nampan.
"Ya..."Mama Anita pun pergi dari dapur setelah mengambil air putih.
Rania segera naik ke lantai atas.Takut Arya marah karna menunggunya terlalu lama.
Sambil berjalan Rania masih terus memikirkan ucapan mama Anita tadi.
Di satu sisi ia pun ingin memperjuangkan rumah tangganya bersama Arya,namun disisi lain ia tidak ingin terluka untuk kedua kalinya karna lelaki.
Jika dulu ia bisa merelakan dan melupakan Dery untuk Intan karna mereka hanya baru sekedar pacaran.Tapi untuk saat ini,ia tak tau bagaimana sakitnya kehilangan orang yang sudah sah jadi imam dalam hidupnya.
__ADS_1
Menatap pintu kamar dengan perasaan ragu.
Di sini,saat ini,Rania bisa dalam keluarga Adiyasa sebagai menantu.Di sini ia ikut suaminya.Orang yang bertanggung jawab dalam keutuhan rumah tangganya.
Namun apa jadinya jika suaminya sendiri suatu saat yang akan menyuruhnya untuk pergi?
Entah kenapa ada rasa takut menyelimuti perasaannya jika hal itu terjadi kelak.
Akan seberapa hancurnya hatinya.
Untuk itulah Rania selalu menjaga hatinya untuk tak jatuh cinta pada Arya.
Namun bagaimana bisa,sementara setiap hari,setiap malam,mereka sering menghabiskan waktu berdua.
Perasaan nyaman pun muncul dengan sendirinya.
Siapkah jika suatu saat semua itu harus rela ia lepaskan?
Dengan hati-hati satu tangan Rania membuka pintu kamar,sedang tangan satunya masih memegang nampan dengan erat.
"Pak Arya minum obatnya dulu ya.Ini sudah saya bawakan air putih."Rania mengangkat segelas air putih yang ia bawa ke depan Arya.
Menyiapkan obat untuk diminum.
Arya masih tetap diam meskipun tak menolak perintah Rania untuk minum obat.
"Emm...pak Arya sudah baikan?Maaf kalau tadi membuat khawatir."Rania menunduk,ia merasa bersalah.Takut jika Arya semakin marah.
Sebenarnya Arya tak suka dengan panggilan itu,namun kali ini karna ia sedang senang,maka ia tak akan marah pada Rania.
"Nia,apa kamu suka bayi?"Pertanyaan Arya spontan membuat Rania kaget.
Dilihatnya wajah Arya yang tersenyum sumringah.
"Benar kata mama tadi,dia tersenyum."
Rania mengalihkan pandangannya saat Arya menatapnya seakan meminta jawaban dari pertanyaan yang baru saja dia tanyakan.
"Mak-maksud pak Arya?"Lagi-lagi panggilan itu mengganggu pendengaran Arya.
"Bisa tidak sih mulai sekarang panggil saya seperti kamu memanggil saya saat di depan mama,papa,dan juga nenek?"Senyum Arya harus terganti dengan tatapan tajam.
Karna hal itu Arya tidak jadi membahas tentang anak.Ia begitu benci saat Rania memanggilnya pak.
Terasa begitu jauh hubungan mereka.
Serasa ada jarak yang begitu sulit untuk menyatukannya.
Tanpa banyak bicara lagi Arya merebahkan tubuhnya di ranjang.Meninggalkan Rania dengan beribu pertanyaan.
"Apa kubilang...dia memang aneh.Dalam sekejap senyum manis berganti begitu dingin.
__ADS_1
Dia begitu sulit dimengerti.Hhuhhh...."Rania pergi berganti baju tidur dan ingin segera istirahat.Seharian pikirannya sudah bekerja terlalu berat hanya karna memikirkan suaminya yang super menyebalkan itu.