
Sesampainya di rumah sakit Devan masih kejang-kejang.
Karna mereka datang pada dini hari maka hanya ada perawat jaga saja yang datang menyambut pasien.
Meski begitu para perawat segera menangani Devan dengan sigap.
Para perawat dan juga dokter yang berjaga sibuk memasang selang infus di tangan mungil Devan.
Beberapa kali tusukan namun tak juga membuahkan hasil.
Hingga akhirnya setelah beberapa kali mencoba berhasil juga.
Intan yang melihat hal itu tak kuasa menahan tangisnya.
Ia merasa sudah lalai dalam mengasuh Devan sehingga Devan bisa sakit seperti sekarang.
Melihat bayi yang biasanya aktif bergerak dan tengkurap itu kini terbaring lemah membuat hati seorang ibu menjadi rapuh.
Digenggamnya tangan mungil Devan,mencoba memberi kekuatan untuk sang buah hati agar kuat menjalani pengobatan.
"Maaf,ibu tunggu di luar dulu ya,adeknya biar di periksa dulu sama dokter jaga."Ucap salah seorang perawat.
Intan mengangguk pasrah.Mau tak mau Intan melepaskan tangan Devan.Membiarkannya masuk ruang gawat darurat untuk segera di periksa.
Ibu mertua mendekat lalu mengusap bahu Intan yang bergetar karna tangis.
"Kita tunggu sambil duduk di situ ya."Ibu menunjuk kursi panjang di samping pintu.
Intan mengangguk dan mengikuti langkah ibu.Pikirannya kalut,ia tak bisa lagi berpikir.Sungguh dia tak pernah berpikir akan membawa Devan ke rumah sakit.Ia tak sanggup jika apa yang ia khawatirkan akan terjadi pada Devan.Ia tak mau kehilangan buah hatinya yang sedang lucu-lucunya itu.
"Bu...bagaimana dengan Devan Bu...kasihan dia di dalam ruangan itu sendirian."Intan menangis sambil tersedu-sedu.
"Devan sedang di tangani dokter,kamu harus tenang..."
"Tapi kalau Devan kenapa-napa gimana Bu..."
"Ssssttt...kamu gak boleh ngomong gitu.Kamu ibunya,kamu harus tenang,karna kekuatan anak ada pada ibunya,kalau ibunya tenang,pasti anaknya juga akan kuat."Ibu berusaha menyemangati Intan agar tak berpikiran aneh-aneh.
__ADS_1
"Iya,kita harus berdoa agar Devan baik-baik saja.Sementara kita harus sabar menunggu hasil pemeriksaan dokter."
"Iya pak."
Cukup lama mereka menunggu di luar,hingga akhirnya dokter penjaga yang tadi memeriksa Devan keluar dari ruang unit gawat darurat.
Intan segera berlari menghampiri dokter tersebut.
"Bagaimana keadaan anak saya dok?"Tanya Intan tanpa basa basi.
"Beruntung ibu segera membawanya kemari,telat sedikit saja akan berakibat fatal."Ucap dokter tersebut memberitahu keadaan Devan.
"Apa sebelumnya sudah pernah kejang seperti tadi?"Tanya dokter itu pada Intan.
"Tidak dok,anak saya baru pertama tadi kejang.Sebelum-sebelumnya hanya panas biasa tapi tidak sampai kejang seperti tadi."Penjelasan Intan.
"Berapa kali tadi kejangnya terjadi?"
"Beberapa kali saat perjalanan kesini dok,tapi lumayan lama kejangnya.Apa ada yang berbahaya dengan anak saya dok?"Intan diliputi rasa khawatir.
"Untuk mengetahui lebih lanjut kita harus memastikan melalui serangkaian pemeriksaan ibu.Baru saja sudah saya ambil sampel darah,nanti kita menunggu hasilnya bersama dokter yang akan menangani ananda."
Setelah sedikit berbasa-basi dokter jaga dan perawat tersebut pun pamit pergi.Devan untuk sementara waktu masih berada di ruang gawat darurat untuk memastikan bahwa tidak ada kejang selanjutnya.
Hanya satu orang yang di perbolehkan menunggu Devan.Untuk itu Intan langsung masuk dan melihat putra bayi nya yang berada di atas tempat tidur.
Dilihatnya Devan yang tertidur.Mungkin karna dia capek menangis,dan juga sudah di beri obat oleh dokter,kini Devan bisa tidur.Meski sesekali Devan terlihat gelisah dan kaget.
Setelah hari berganti pagi,mulai banyak aktifitas yang terjadi di rumah sakit yang cukup besar tersebut.
Ibu Herman masuk ke ruangan Devan,ia meminta ijin pada suster yang berjaga untuk berpamitan pada anaknya.
"Intan,bagaimana Devan,dia sudah tidak kejang lagi bukan?"Tanya ibu yang membuat Intan yang duduk di sebelah ranjang jadi kaget.
"I-ibu.Devan dari tadi tidur Bu...meski sering gelisah tapi sudah tidak kejang seperti tadi."
"Syukurlah...Devan pasti kuat ya nak,nanti setelah di periksa dokter dan di kasih obat,Devan harus segera sembuh ya sayang.Nanti kalau sembuh nenek belikan mainan."Bu Herman menyemangati Devan sambil membelai rambutnya yang sudah mulai tebal.
__ADS_1
"Intan,sekarang sudah pagi,ibu pulang dulu ya sama bapak,nanti ibu buatkan kamu sarapan sekalian bawakan baju ganti buat kamu.Kamu gakpapa kan nunggu Devan sendirian?"Tanya ibu.
"Iya Bu,gakpapa,ibu gak usah capek-capek masak,ibu pulang istirahat saja dulu,nanti Intan bisa beli kok Bu..."
"Mana bisa ibu istirahat,jika cucunya ibu saja sedang berjuang sembuh disini.Ibu cuma gerah saja,pengen mandi dulu."
"Bu..."Intan menggenggam tangan ibu mertuanya.
"Terimakasih ya Bu..."
"Terimakasih untuk apa?"
"Terimakasih ibu sudah mau menerima Devan,dan ibu sudah sangat menyayanginya."
"Haisss...kamu ngomong apa!Devan itu cucu ibu satu-satunya.Ibu tidak mau terjadi hal buruk padanya.Apa ibu tak boleh dekat dengan cucu sendiri?"
"Boleh Bu....tentu saja Devan sangat boleh dekat dengan kakek neneknya."Intan tersenyum.
"Ya sudah,ibu pulang dulu.Ibu juga mau bangunkan Dery."
"Ibu tak perlu melakukan itu Bu...jika mas Dery menyayangi anaknya,dia pasti akan kesini."
"Kamu harus sabar.Memang Dery seperti itu.Karna dia seorang dosen,dia biasa mengajar tidak hanya siang hari,tapi juga malam hari.Sejak dulu dia memang jarang di rumah,dia sibuk dengan kegiatannya."Ucap ibu guna menutupi sikap anaknya.
Tapi yang di rasa Intan disini bukan seperti itu.Intan lebih merasa jika Dery masih belum bisa menerima kehadirannya dan sang anak.
Ibu mertua yang awalnya tak merestui mereka saja bisa berubah semenjak melihat kelahiran cucu pertamanya yang sangat tampan itu,Tapi rupanya kehadiran Devan tak begitu berarti bagi Dery.
Bu Herman akhirnya memutuskan untuk pulang bersama suaminya.Seperti janjinya,Bu Herman pulang untuk memasak dan menyiapkan keperluan Intan.
Niatnya Bu Herman akan membangunkan Dery dan mengajaknya untuk ke rumah sakit,tapi ternyata Dery sudah tidak berada di rumah.Mungkin ia sudah pergi ke kampus.
Pak Herman mencoba menghubungi Dery,namun tak di jawab oleh Dery,akhirnya pak Herman mencoba mengirim pesan untuk Dery,memintanya untuk segera menjenguk Devan di rumah sakit setelah urusannya di kampus selesai nanti.
Entah sibuk atau apa,tapi pesan dari pak Herman pun tak di balas oleh Dery.Hanya di baca saja tanpa ada balasan.
Pak Herman mulai jengah dengan sikap anak lelakinya itu.Dia sudah terlalu sering di biarkan berbuat sesuka hatinya.
__ADS_1
Untuk itu pak Herman sudah berniat akan memberi peringatan keras pada Dery jika keadaan Devan sudah membaik nanti.