Pengagum CEO Tampan

Pengagum CEO Tampan
Seharusnya malam pertama.


__ADS_3

"P-pak Arya mau tidur di sofa lagi?"Tanya Rania gugup.


"Kenapa memangnya?"Arya justru bertanya balik.


"Emm...sebaiknya pak Arya tidur di tempat tidur saja.Biar saya yang tidur disini."Rania tak berani melihat Arya.


"Kenapa begitu?"Arya tersenyum melihat kegugupan Rania.


"Be-besok pak Arya harus kerja,jadi biar tidurnya nyenyak."Rania hendak berdiri namun tangannya segera di pegang Arya.


"Aku mau bicara dulu."Arya mengajak Rania duduk kembali.


Tanpa berani menolak Rania pun mengikuti keinginan Arya.


Mereka duduk bersebelahan dengan posisi berdekatan.


Sedang pikiran Rania sudah berlari entah kemana.


"Apa pak Arya akan membicarakan tentang pernikahan kontrak seperti di novel-novel yang biasa aku baca?


Apa ia hanya membutuhkan aku untuk beberapa waktu hingga kembalinya mbak Sesil?"


"Oh...ayolah Rania...kamu harus sabar,kuat,dan bersikap biasa saja."


Rania berusaha menguatkan dirinya sendiri.


"Ehemmm!"Arya terus tersenyum dalam hati saat melihat Rania yang terdiam tapi tangannya bergetar.


"Saya mau bicara dulu."Arya kembali mengulang ucapannya.


"Dari tadi bilang mau bicara,tapi gak bicara-bicara.Gimana sih pak bos dingin?"Sederet protes yang hanya mampu Rania ucapkan dalam hati.


"Iya pak."Hanya kata itu yang dapat keluar dari mulut Rania.


"Meskipun pernikahan kita bisa di katakan tanpa rencana dan tanpa cinta,tapi kita sudah sah di mata agama dan negara."


Rania terus diam dan mendengarkan kelanjutan ucapan Arya.


"Pernikahan itu sakral,itu berarti tidak untuk dipermainkan.


Jadi....


Kita tetap seperti suami istri yang sesungguhnya."Arya sengaja menggantungkan ucapannya demi melihat reaksi Rania.


Dan benar saja,Rania membelalakkan kedua matanya karena kaget dengan ucapan Arya.


Ia tak mengerti apa maksud dari semua itu.


Ia diam dengan kebingungannya.


"Kita akan mencobanya.Jika dalam waktu enam bulan salah satu diantara kita belum ada yang saling cinta....maka aku akan melepaskan kamu.Dan selama waktu itu kita harus seperti pasangan pengantin baru.Tapi tenang saja.aku tak tak akan menyentuhmu sebelum kita saling cinta."


"Hah....apa maksudnya ini.Kenapa rumit sekali?"


"Kamu paham maksud saya?"


"Ta-tapi saya ada satu permintaan pak."


"Apa itu?"


"Tolong ijinkan saya bekerja seperti biasa."


"Oh,tentu.Kamu bisa bekerja seperti biasa.


Diluar kamu bisa seperti biasanya,yang penting kamu bisa menempatkan diri sebagai istri saat di rumah.


Rania lega,setidaknya ia masih bisa mendapatkan uang untuk sekolah adik-adiknya dan juga menabung seperti biasanya.


Jika suatu saat ia dipecat dari pekerjaannya ia sudah punya cukup uang untuk modal usaha dirumah.


"Lebih baik kita segera tidur supaya besok tidak kesiangan."Arya beranjak dari tempat duduk.

__ADS_1


Menuju ranjang dan segera merebahkan tubuhnya di sisi ranjang.


Rania yang masih terus melamun masih tetap duduk di tempatnya.


Ia berfikir keras dengan apa yang harus ia lakukan.


Ia berinisiatif untuk menunggu Arya tidur baru ia akan tidur di sofa.


Setelah beberapa saat Arya terlihat sudah tak bergerak.


Menandakan bahwa ia sudah tidur,maka Rania segera mengambil selimut baru di ruang ganti dan menarik satu bantal yang berada di samping Arya tidur.


Dengan sangat pelan ia menarik bantal.


Tapi rupanya Arya belum benar-benar tidur.


"Kamu mau kemana?"


"Ma-u tidur."Rania tak berani melihat Arya.


"Tidur disini."


"Ta-tapi."Belum selesai Rania bicara sudah di potong duluan oleh Arya.


"Ingat ucapanku tadi.Dan aku tidak suka di bantah!"


Akhirnya mau tak mau Rania pun merebahkan tubuhnya di sisi yang berseberangan dari Arya.


Kemudian Arya meletakkan guling di tengah mereka.


Sebagai tanda sekat untuk memisahkan keduanya.


Menatanya di tengah sambil berkata",Ini jika kamu takut."


Kemudian Arya berbalik badan dan tersenyum


Entah apa yang ia rasakan saat ini.


Arya terus tersenyum sendiri sampai pada akhirnya ia tidur terlelap.


Sedang Rania justru kebalikannya.


Ia tak bisa segera tidur seperti biasanya.


Meski berulang kali memejamkan mata namun ia tak bisa benar-benar tidur.


Tiba-tiba Arya membalikkan badan.


Posisinya sekarang sedang tidur miring berhadapan dengan Rania.


Rania yang tadinya memejamkan mata pun akhirnya membuka kembali matanya karna kaget dengan pergerakan Arya.


Sedetik dua detik Rania memandang wajah Arya.


Hingga tanpa sadar ia mengagumi ketampanan seorang laki-laki yang sudah sah jadi suaminya itu.


"Wajah ini...tak berubah sejak saat pertama kali aku melihatmu.


Begitu sempurna ciptaanNYA.


Dari alisnya,matanya,hidungnya,bibirnya,bahkan bentuk wajahnya.


Semua terlihat begitu indah dilihat."Jari tangannya sudah bergerak mendekat ke arah wajah Arya.


Ingin sekali menyentuh wajah yang sudah halal baginya.


Namun ia segera mengurungkan niatnya dan kembali menarik tangannya.


Takut jika Arya bangun dan marah padanya.


Ia kembali bergumam dalam batinnya.

__ADS_1


"Apakah iya,aku yang begitu berbeda seberani itu untuk mengharapkan cintanya?


Mengharapkan memilikinya seutuhnya?


Apakah tidak terlalu rakus jika aku menginginkan semua itu.


Entah,bertemu dengannya ini akan berakhir duka atau bahagia.


Lalu bagaimana jika hatiku suatu ketika mencintainya?


Ah,memikirkan semua itu membuatku semakin tak bisa tidur.


Takut untuk menghadapi kenyataan yang akan terjadi kedepannya.


Biarlah semua berjalan apa adanya saja.


Terlalu lelah ia memikirkan masa depannya,hingga ia pun tertidur dengan sendirinya.


Pagi harinya Arya mendengar suara alarm.


Ingin bangun,tapi serasa tak seperti biasanya.


Ia merasa begitu nyaman.


Masih enggan untuk bangun.


Hingga alarm berbunyi untuk kedua kalinya.


Arya mencoba membuka mata perlahan.


Ia begitu kaget,saat pertama kali bangun yang dilihatnya adalah wajah polos Rania.


Tangannya sudah memeluk pinggang Rania meski ditengahnya masih ada guling.


Ternyata itu yang membuatnya nyaman dan serasa tak ingin bangun.


Arya tersenyum.


Tak ingin melewatkan hal indah untuk pertama kalinya ini.


Melihat wajah seseorang yang sudah sah menjadi istri nya.


Disaat sang istri masih terbuai dengan mimpinya.


Di tatapnya dalam-dalam wajah Rania.


"Cantik!


Kenapa semakin lama aku memandangmu,semakin terlihat cantik wajahmu?


Oh,tidak Arya,apa kamu sudah mulai menyukainya?


Sejak kapan rasa itu muncul?


Sejak saat ini,atau mungkin sudah sejak saat pertama kali bertemu?


Entahlah,yang kurasa hanya nyaman dan bahagia saat bersamanya.


Tapi bagaimana dengannya?


Oh,jangan Arya.


Kamu tak boleh semudah itu mencintai seseorang?


Ingat Sesil,dia orang yang sudah lama kamu perjuangkan nyatanya bisa pergi begitu saja dalam waktu sekejap."


Arya terus menggelengkan kepalanya.


Mencoba menyudahi perdebatan sengit di dalam batinnya.


Hingga ia di kagetkan dengan suara alarm yang sudah berbunyi untuk ketiga kalinya.

__ADS_1


Karna tak ingin Rania terbangun dari tidurnya dan ketahuan kalau Arya sudah sedari tadi memperhatikannya,akhirnya Arya bangun dan mematikan alarm itu.


__ADS_2