Pengagum CEO Tampan

Pengagum CEO Tampan
Menuju hari H


__ADS_3

Acara pernikahan Dery tinggal besok pagi.


Intan sudah pulang ke kampung nya dua hari sebelum hari H.


Sebelum pulang Intan sempet menemui Rania sebentar.


Untuk pamit dan meminta doa dari Rania.


Berulang kali Intan meminta Rania untuk bisa datang ke acara ijab Qabul nanti.


Namun Rania sama sekali tak berminat untuk datang ke sana.


Selain ia tidak siap melihat mereka menikah,juga Rania tak ingin membuat acara sakral itu menjadi berantakan.


Ia takut jika Dery tak bisa fokus dengan pernikahannya.


Untuk itu Rania memutuskan untuk tak datang saja.


Ia berusaha menolak permintaan Intan secara halus.


Tok tok tok...


Rania yang sedang melamun,membuatnya tersadar karena kaget dengan suara ketukan pintu.


Segera ia berlari keluar dari kamar menuju ruang tamu.


Tok tok tok...


Kembali terdengar suara ketukan yang lebih sedikit terkesan tak sabaran.


"Iya,tunggu sebentar."


Ceklek...


Rania membuka kunci pintu nya.


Ia terkejut melihat Dery sudah berada di depan pintu kost.


"Ma-mas Dery."


"Mas boleh masuk gak?"Dery melihat ke arah dalam kost Rania.


"Mmmm mau ngapain mas kesini?"


"Ada yang mau aku bicarain,boleh kan?"Menatap wajah Rania.


"Kita ngobrol di luar aja ya mas."


Rania seakan merasa takut mengingat Dery yang sudah pernah berbuat nekat pada Intan.


Meski kejadian itu terjadi di saat ia mabuk,tapi Dery sudah merencanakan hal tersebut.


Hanya saja waktu itu Rania beruntung,ia pergi sebelum Dery datang.


Untuk itu sekarang Rania menjadi was-was.


Dan lebih baik dia memilih untuk ngobrol di luar saja.Supaya tidak terjadi hal yang tak di inginkan.


"Kamu takut sama aku?"


Rania bingung mesti jawab apa.

__ADS_1


Akhirnya dia memutuskan untuk menutup pintu dan berjalan menuju teras.


Lalu ia duduk di kursi santai yang berada di teras.


"Enakan disini mas,adem."Alasan Rania.


Dery tau itu hanya sebagai alasan saja.Karna ia ingat betul,jika Rania tidak suka dingin.


Karna ia alergi dingin.Setiap musim dingin tiba ia selalu tak pernah lepas dari jaketnya.


Dery pun akhirnya mengikuti Rania.


Ia duduk di kursi sebelah,menghadap ke arah jalan.


Setelah Dery duduk Rania segera memulai bertanya,"mau ngomong apa mas?"


Dery terdiam sejenak,sebelum kemudian menjawab pertanyaan Rania.


"Besok mas mau ijab Qabul."


Kembali terdiam dengan kalimat nya yang menggantung.


"Mmm....ah iya,selamat ya mas."Basa basi Rania demi mengurangi rasa canggung.


"Kamu...kamu gakpapa?"


"A-aku?"Rania gugup.


"Ah,iya.Aku baik-baik saja kok mas.Mas Dery tenang aja,mas Dery fokus aja sama acara besok."Sedikit menormalkan nada bicaranya supaya tidak lagi gugup.


"Kamu datang?"


"Hah..?"Rania gagal fokus saat melihat pandangan Dery yang terlihat dingin.


"Ke rumah Intan maksud mas?"Rania jadi merasa seperti orang bodoh.


Ia sulit mencerna pertanyaan Dery.


"Iya."Dery melihat Rania sekilas lalu kembali terdiam.


"Gak bisa mas,besok Rania kerjaannya banyak.Biasa akhir bulan.Jadinya gak bisa ijin."


"Tapi Rania tetep terus doain mas Dery kok.Meski cuma dari sini."


Keduanya kembali terdiam beberapa saat dengan pikirannya masing-masing.


"Kamu bahagia?"


"I-iya.Seperti yang mas lihat.Aku baik-baik saja dan aku bahagia."Mengulas senyum manisnya.


"Kamu senang kalo aku nikah sama Intan?"


Dalam hati Rania terus saja protes akan pertanyaan Dery yang aneh-aneh.Membuatnya gugup dan bingung untuk menjawab.


"Iya lah mas.Rania akan sangat senang dan bahagia bila melihat kalian bahagia bersama."


"Tapi sayangnya aku tak merasakan itu Rania."Menghela nafas lalu kembali bicara.


"Aku tak merasakan kebahagiaan saat bersamanya.Tak seperti saat kita masih bersama dulu.Meski baru pacaran,aku merasakan bahagia saat sama kamu."Ungkapnya.


"Mas...sudahlah.Jangan lagi mengingat hal yang sudah berlalu.Fokus kamu sekarang hanya pada Intan.Dia calon istri dan calon ibu dari anak kamu.Dan harus kamu ingat...dia adalah sahabatku mas."Jeda sejenak.

__ADS_1


"Dan mas harus bahagiakan Intan!"Bicara dengan nada sedikit di tekan.


"Dan kamu tidak memikirkan kebahagiaanku?"Menyahut ucapan Rania dengan cepat.


"Aku yakin mas akan bahagia sama Intan."Rania mulai geram dengan sikap Dery.


"Apa itu bisa?Sedangkan aku tak mencintainya sama sekali?"


"Cinta?Rania yakin,seiring berjalannya waktu mas akan terbiasa dengan Intan,dan cinta itu akan tumbuh dengan sendirinya mas."


Dery masih saja diam.


"Tolong Rania,tunggu mas kembali sama kamu."


"Maksud mas Dery?"Rania melirik dari ekor matanya.


"Aku hanya cinta sama kamu.Ini hanya masalah waktu.Tunggu anak itu lahir,aku akan menceraikan Intan dan kita bisa kembali bersama.Aku janji akan segera menikahi mu.Sekalipun ibu melarangnya."


Rania sontak berdiri karena kaget dengan ucapan panjang Dery.


"Kamu jangan gila mas,pernikahan itu bukan untuk di jadikan mainan."


"Plis Rania...mas gak bisa hidup tanpa kamu."Dery meraih tangan Rania.


Namun Rania segera menepisnya kasar.


"Aku tak akan pernah maafkan mas Dery,jika sampai mas Dery menyakiti hati Intan."Rania tak menyangka jika Dery bisa berpikir seegois itu.


Dery mendesah kesal dan ingin membantah kata-kata Rania.


"Tapi Ran..."


Belum selesai menjawab Rania sudah menyela ucapan Dery,"sebaiknya mas pulang,istirahat dan persiapan untuk besok.Rania masuk dulu.Rania juga capek,mau tidur!"Rania pun masuk rumah.Kemudian menutup pintu dan menguncinya.


Dilihatnya Dery dari jendela kaca.Sedikit menyibak korden.


Terlihat Dery masih berada di tempat yang sama.Tak sedikitpun bergeming.


"Maafkan aku mas,kita memang tak berjodoh...ku harap mas akan bahagia bersama Intan."Rania bergumam sambil menangis.


Dalam hati Rania takut jika Dery nekat berbuat hal yang di luar batas.


Namun ia mencoba terus berdoa semoga semua baik-baik saja.


Dery masih duduk termenung di teras kost Rania.


Sepertinya ia masih asyik dengan pikirannya sendiri.


Ia sudah menduga sebelumnya,jika Rania pasti akan marah padanya.


Karena ia tau seberapa dekat Rania dengan Intan.


Setelah hari semakin larut,Dery memutuskan untuk pulang.


Sebelum Bapak dan Ibunya menyadari jika Dery sedang keluar rumah.


Sejak pulang dari rumah Intan waktu lamaran itu,Dery selalu di bawah pengawasan Bapaknya.


Pak Herman tak mau lagi kecolongan.


Ia tak ingin terjadi hal yang lebih memalukan lagi.

__ADS_1


Sedang Bu Herman,ia sibuk menyiapkan acara untuk pernikahan Dery.Meski sebenarnya ia tak setuju,namun tetap harus menurut apa kata pak Herman,jika tak ingin di marahi suaminya.


Ya,karena melihat sikap Bu Herman yang sudah keterlaluan,pak Herman sedikit memberikan peringatan kepada istrinya.


__ADS_2