
Sesampainya dirumah Arya segera menggendong tubuh Rania dan di bawa masuk ke kamar tamu.
Nenek heran melihat Arya membawa masuk seorang wanita ke kamar tamu.
Sang nenek pun berteriak kencang.
"Arya,apa yang kamu lakukan?"Geram dengan cucunya.
Arya menoleh sebentar namun tak menghiraukan sang nenek.
Ia segera masuk kamar dan menidurkan Rania di sana.
Selesai menidurkan dan menyelimuti tubuhnya,Arya berniat mencari mama untuk mengompres dahi Rania.
Saat berbalik badan,ia di kejutkan dengan adanya nenek.
Sang nenek langsung menjewer telinga cucunya yang ia pikir nakal.
Karna sudah berani memasukkan seorang wanita ke dalam kamar di rumahnya.
"Aduh Nek...sakit..."Arya mencoba melepaskan tangan nenek.
"Anak nakal,apa yang kamu lakukan hah?"Protes nenek.
"Apa sih Nek...?"Arya balik bertanya.
"Siapa yang kamu bawa masuk kamar?"Tanya nenek.
"Kamu sudah berani bawa cewek masuk kamar,mau kamu apain wanita itu heh?"Gemas sang nenek dengan tingkah laku Arya.
"Nenek apaan sih,sini lihat dulu."Arya menuntun sang nenek setelah berhasil melepaskan tangannya dari telinga Arya.
"Lihat itu siapa Nek?"Arya menunjuk Rania yang masih terbaring.
"Hah....!"Nenek segera berlari ke tempat tidur dan memeluk Rania.
Seketika nenek kaget mendapati tubuh Rania yang begitu panas.
"Arya,ada apa dengan Rania?"Nenek memegang seluruh tubuh Rania.
Dari mulai dahi,pipi,tangan sampai kakinya.
"Gak tau Nek,tadi pas Arya ke apotek dia nabrak Arya pas lagi jalan.Tak lama setelahnya pingsan."Cerita Arya mengingat pertemuannya tadi.
"Sayang,kamu kenapa nak...bangun Rania,ini nenek.."Nenek mencoba membangunkan Rania.
"Arya,cepetan telephon dokter Andi sekarang."Perintah nenek.
"Sudah nek...sebentar lagi paling Sampek kok."Jawabnya.
"Cepetan panggil mama kamu."Kata nenek lagi.
"Ya ini mau panggil mama,tapi nenek udah dulu jewer Arya."Arya menggosok telinga nya.
"Anak pinter,ya udah sana cepetan,suruh bawa air buat ngompres Rania."Nenek mengibaskan tangannya menyuruh Arya pergi.
"Iya nenek ku yang cantik..."Arya tersenyum lalu segera berjalan.
Namun ia kembali memutar tubuhnya melihat sang nenek.
"Mama dimana Nek?"Tanyanya.
"Di ruang santai,tadi nungguin kamu pulang."Kata nenek.
"Ok Nek,tunggu sebentar ya."Arya segera keluar kamar.
Sesampainya di ruang santai,Arya segera mencari mama nya.
__ADS_1
Bersamaan dengan itu datanglah mbok Jum dari depan.
"Buk...pak,Dokter Andi sudah datang."Mbok Jum berkata sambil menunjukkan dokter Andi yang sudah berada di sampingnya.
"Malam pak...buk.."Sapa dokter Andi.
"Lhoh,siapa yang sakit mbok?"Tanya mama heran.
Karna setahunya tak ada yang sakit dan mama tak memanggil dokter Andi.
"Iya,emang ada yang sakit?"Papa jaya pun ikutan kaget.
"Tadi saya di hubungi pak Arya buk.."Jawab dokter Andi.
Arya yang baru datang langsung berkata.
"Iya pa,tadi Arya yang panggil dokter Andi.
Dokter Andi,silahkan ke kamar tamu ya."Arya berkata.
"Lhoh,emang siapa yang sakit Arya,kok di kamar tamu?"Mama Anita semakin bingung.
"Rania ma."Jawab singkat Arya.
"Rania,pingsan lagi,kok bisa?"Mama Anita bingung dengan gadis itu.
"Gak tau juga ma.Tadi ketemu di depan apotek terus pingsang.Mama tolong kompres dia bisa ma?Badannya panas banget."Arya meminta tolong.
"Anak mama perhatian banget sama gadis cantik.Khawatir ya..."Ledek mama Anita.
"Ma..."Arya melirik mamanya.
"Iya iya,mama siapin dulu.Sabar ya..."Pergi ke dapur dengan senyum jail nya.
Arya kembali berjalan ke kamar tamu.
"Gimana dok keadaannya?"Tanya Arya.
"Sebenarnya dia ini siapa sih Arya?Kenapa bisa pingsan dua kali di rumah kamu?"Dokter Andi tak lagi menggunakan bahasa sopan santun.
Karna ia memang sahabat kecil Arya.
"Ditanya apa jawabnya apa."Dengus Arya.
"Sepertinya dia stres.Mungkin sedang banyak masalah."
Belum selesai dokter Andi berkata tiba-tiba Rania menggerakkan tangannya.
"Rania...nak...kamu sudah sadar..."Nenek memegang tangan Rania.
Perlahan Rania membuka matanya.
Ia seperti tidak asing dengan kamar itu.
Dan ketika ia mendengar suara nenek,ia yakin jika sekarang ia berada di rumah pak Arya.Lagi!
Dan seperti dejavu.Ia mengalami hal yang sama untuk yang kedua kalinya.
Ingin menjawab ucapan nenek yang terlihat mengkhawatirkan keadaannya,namun kepala Rania terasa sangat pusing.
"Sshhh..."Sambil memegang kepalanya.
"Kenapa sayang,kepalanya kenapa?"
"Pusing nek,"Berkata dengan nada lemah.
"Sepertinya migrain juga"Potong dokter Andi.
__ADS_1
"Saya siapkan dulu obatnya."Dokter Andi segera mengambil beberapa obat untuk Rania.
Selesai semuanya,Dokter Andi segera minta pamit.
"Mbak...obatnya segera di minum ya,jangan terlalu banyak pikiran..."Pesan dokter Andi
"Terimakasih dokter..."jawab Rania lirih.
Dokter Andi pun membalas dengan senyuman.
"Arya,ada yang mau aku omongin sama kamu."Dokter Andi setengah berbisik di dekat Arya.
Arya dan dokter Andi berjalan keluar dari kamar.
"Dia siapa sih?"Dokter Andi menyenggol lengan Arya.
"Namanya Rania."Iseng Arya sengaja mengerjai dokter Andi.
"Isshh...kalau itu sih sudah tau...tapi siapa nya kamu?"Dokter Andi sangat penasaran.
"Karyawan pabrik.Puas!"Ucap Arya.
"Yang bener aja kamu itu,mana mungkin kalo cuma karyawan biasa bisa sedekat itu sama keluarga Adiyasa?"Dokter Andi masih tak percaya.
"Kalo gak percaya tanya aja sama mama."Arya mengedikkan kedua bahunya.
"Kalo cuma karyawan biasa kenapa nenek Adiyasa begitu sayang sama dia?Yakin cuma karyawan biasa aja?Gak ada apa-apa gitu?"Pancing dokter Andi.
"Terserah kalau gak percaya."
"Tapi dia cantik banget.Kamu gak tertarik sama dia?"Lagi lagi dokter Andi mencari masalah dengan Arya.
"Gak,apa kamu lupa kalau aku sudah punya Sesil?"Jawab Arya.
"Kalau gitu buat aku aja gimana,boleh gak?Kan aku masih jomblo."
"Asal dia mau sama kamu,ambil aja."
Mereka sampai di depan pintu ruang tamu.
"Sudah,pulang sana."Usir Arya.
"Ya elah...masih pengen ngobrol juga."Jawab dokter Andi.
"Aku lagi sibuk."Jawabnya singkat.
"Sibuk apanya jam segini.Jangan-jangan mau nemenin gadis itu?"
"Jangan sok tau!Udah pulang sana."Arya mendorong tubuh dokter Andi keluar dari rumahnya.
Selesai mengantar dokter Andi ia segera kembali ke kamar tamu.
Ia khawatir dengan keadaan Rania.
Ingin masuk namun ia urungkan niatnya ketika mendengar obrolan Rania,nenek dan mama Anita.
Arya mendengarkan di depan pintu.
"Rania...maaf kalau nenek lancang...Sudah dua kali kamu dalam keadaan seperti ini...sebenarnya ada apa sih...?"Tanya nenek hati-hati.
Rania yang sedang di suapi makan oleh mama Anita kemudian terdiam.
Ia bingung harus bagaimana.
Satu sisi ia tak ingin menceritakan masalah pribadinya dengan orang lain.
Tapi mengingat kebaikan yang tulus dari keluarga Adiyasa membuatnya tak berani untuk tak menjawab pertanyaan nenek.
__ADS_1