Pengagum CEO Tampan

Pengagum CEO Tampan
kepergian


__ADS_3

Akhirnya hari ini Rania bisa bersantai sejenak,setelah beberapa hari selalu lembur pulang malam.Rencananya hari ini ia ingin main ke kamar intan.


Rania sudah sangat rindu dengan sahabat baiknya itu.


Biasanya tiap malam mereka selalu ngobrol berdua di kamar Rania.


Tapi beberapa Minggu ini mereka jarang sekali bisa ngobrol berdua.


Mereka di sibukkan dengan kegiatan masing-masing.


Di hari kerja Rania banyak lembur,sampai di kost Intan sudah tidur.


Sedang di hari Minggu Intan sibuk Wira wiri pulang kerumah.


Karna sejak Bapaknya Intan di bawa kerumah sakit sebulan yang lalu,kondisinya belum sembuh sampai sekarang.


Meski sudah pulang dari rumah sakit,namun masih harus rutin rawat jalan.


Tok tok tok..


Rania mengetuk pintu kamar Intan.


Intan segera membuka pintu.


"Masuk Ran."Ajak Intan.


"Kamu hari ini gak pulang kan Tan?"Tanya Rania.


"Enggak Ran,capek bolak balik terus."Jawab intan.


"Yee...aku bisa puas curhat sama kamu dong..."Rania tersenyum senang.


"Curhat apa sih,kayaknya seneng banget."Ledek Intan.


"Kangen tau lama gak bisa ngobrol gini."Kata Rania.


"Eh,tapi gimana keadaan Bapak kamu?"Tanya Rania.Telihat Intan sedang terdiam.

__ADS_1


Lalu menjawab pertanyaan Rania sambil menunduk."Doa'in aja ya Ran,"


"Semoga Bapak kamu cepet sembuh ya Tan.kamu yang sabar."Rania mengusap tangan Intan.Ada beban tersendiri yang Intan rasakan bila mengingat kondisi Bapaknya yang sudah sangat lemah.


Namun Intan tak ingin dulu menceritakan pada Rania.


"Tadi katanya mau cerita...cerita apa coba?"Intan mengalihkan topik pembicaraan.


"Sebenernya aku pengen cerita,sebulan yang lalu pas kamu pulang itu aku..."Belum selesai Rania bercerita,terdengar suara ponsel milik Intan yang berdering.


Mereka menoleh pada sumber suara.


Dan terlihat nama"Ibu" di layar hp Intan.


"Angkat dulu gih,takut penting."Kata Rania.


Dengan segera Intan mengangkat telponnya.


"Halo...iya buk...ada apa?"Tanya intan.


Tak terdengar suara ibuk.Intan merasa khawatir."Halo,ibuk,ada apa buk...kok diam aja.."Intan terus bertanya.


Jantungnya berdegup kencang.Ia terdiam sesaat.Lalu terdengar suara ibuknya mulai berkata sambil terisak menahan tangis.


"Bapak Tan..."


"Bapak kenapa buk..."Tanya Intan tak sabaran.


"Kamu pulang ya..."Kata ibuk sambil menangis.


"Ada apa buk?"Intan semakin tak sabar menanti jawaban pasti dari sang Ibu.


Lalu seseorang mengambil alih ponsel ibuk sambil berkata."Bapak sudah gak ada Tan...kamu pulang ya..."Terdengar suara kakak pertama Intan.


Seketika Intan mematung.Ia tak kuasa menahan tangis.Air matanya luruh.


Ponselnya terjatuh.Rania memeluk menguatkan Intan.

__ADS_1


Intan tergugu sambil berusaha bicara pada Rania."Bapak Ran...Bapak sudah gak ada..."


"Innalillah...kamu yang kuat ya Tan..."Ucap Rania menenangkan Intan.


Rania segera menghubungi Dery.


Ia meminta Dery untuk mengantarkan Intan pulang.


Intan sudah ganti baju dan bersiap pulang.


Tak berselang lama Dery datang.


Dery sudah siap mengantar Intan pulang.


Disela kesedihannya Intan merasa antara kaget dan senang.


Dery ada saat Ia sedang terpuruk.


Orang yang sudah Ia perhatikan selama beberapa bulan ini.


Dery sengaja membawa mobil untuk mengantar Intan.


Supaya Rania bisa ikut sekalian.


Dery segera membuka pintu mobil.


Mempersilahkan Rania dan Intan untuk masuk.


Mereka berdua duduk di belakang.Sambil menenangkan dan mencoba menguatkan Intan.


Sekitar satu jam perjalanan akhirnya mereka sampai di desa Intan.


Intan langsung berlari setelah turun dari mobil.


Ia di sambut oleh kakak Intan.


Menuntunnya masuk di antara keramaian para pelayat.Ia bersimpuh di hadapan jenasah sang Bapak.Bapak yang paling dekat dengannya kini sudah tiada.Ia memeluk Bapak dan mencium keningnya untuk terakhir kalinya.

__ADS_1


Ibu mendekat dan memeluk Intan.


Mereka saling menguatkan meski mereka sama-sama menangis.


__ADS_2