
Arya kembali ke ruang kerjanya.
Namun bukanya fokus kerja justru ia terus mondar mandir di ruangannya dan diperhatikan Roy.
"Roy,apa yang harus aku lakukan?"Arya menjambak rambutnya.
"Pak Arya makan saja dulu.Biar bisa mikir lagi."Tadi Arya melewatkan jam makan siangnya karna biasanya ia makan sambil ditemani Rania.
"Aku gak lapar Roy."
"Tapi pak Arya belum makan.Nanti pak Arya bisa sakit."Imbuh Roy.
Arya sampai melupakan jika ia punya penyakit maag yang tidak bisa ia abaikan.
Ia harus rutin makan disaat jam makan dan tak boleh terlewatkan.
"Roy,apa semua wanita seperti itu?"
"Maksud pak Arya?"
"Dia bisa tertawa lepas dan duduk berduaan dengan lelaki lain.Padahal dia sudah punya suami."Geram Arya saat mengingat hal tadi.
"Menurut saya sih itu masih wajar saja kok pak."
"Wajar menurut kamu Roy?"Arya tersenyum sinis.
"Ya...wajar saja pak Arya,mereka kan sudah kenal sebelumnya.Dan tadi mereka gak cuma berduaan apalagi di tempat sepi,hanya saja mereka duduk di satu tempat yang sama dan di tempat keramaian kok pak.Di kantin malah.Jadi ya wajar saja menurut saya."Roy mengatakan pendapatnya.
"Tapi dia istriku Roy!"Arya mulai emosi.
"Iya,tapi istri yang di sembunyikan.Harusnya pak Arya bisa berada diposisi itu jika saja pak Arya mau."
"Tapi Roy...belum saatnya aku mengumumkan pernikahan itu..."
"Lalu kapan pak?Menunggu mbak Rania direbut orang lain karna dia merasa pak Arya tak menginginkannya?"
"Bukanya aku tak menginginkan dia...tapi...aku belum bisa mencintai dia."
"Belum cinta,tapi cemburu melihatnya yang hanya ngobrol dengan orang lain?"Sindiran Roy sangat mengena di hati Arya.
Arya pun bingung untuk memastikan apa yang sedang ia rasakan terhadap Rania.
Benarkah ia mulai mencintai Rania?
"Pak...wanita itu butuh kepastian,jika tidak ia bisa pergi saat ia sudah merasa lelah."Kembali ucapan Roy mampu menghantam hati Arya.
"Lalu aku harus gimana Roy,sedangkan aku sendiri belum yakin dengan perasaanku."
Arya mulai frustasi.
"Kamu tau Roy,hubungan yang sudah berjalan hampir lima tahun saja bisa dengan mudahnya dia pergi meninggalkan aku,bagaimana aku bisa meyakinkan hatiku kalau aku cinta sama dia yang baru berjalan dua bulan?"
"Cinta tak harus karna lamanya pak...tapi jodoh!Mungkin jodoh pak Arya memang mbak Rania.Buktinya,hanya mengenalnya sebentar saja sudah disatukan dalam hubungan pernikahan yang sah."
"Tapi...apakah dia juga mencintaiku?"Arya takut jika kenyataanya kebalikan dari itu.
"Pak Arya akan tau jika pak Arya sudah mengungkapkan dan memperjuangkan mbak Rania."
__ADS_1
"Tapi...bagaimana kalau dia mau menerimaku karna terpaksa,dan dia akan pergi meninggalkanku jika sudah menemukan seseorang yang dia cinta."Kekalutan Arya semakin menjadi jika memikirkan hal itu.
"Jangan ambil kesimpulan sepihak dulu pak Arya...justru pak Arya harus berusaha,supaya hati mbak Rania hanya bisa mencintai pak Arya saja.Untuk itu pak Arya harus membuat mbak Rania merasa dicintai."
Kata-kata Roy begitu dicermati oleh Arya.
Ia mencoba mencerna nya dengan baik.
Supaya ia bisa melakukan yang terbaik.
Saat Arya semakin berpikir keras,perutnya semakin tak bisa dikendalikan.
Perih melanda dan serasa mual di perutnya.
Tubuhnya merosot di tembok tempatnya berdiri.
Roy yang melihatnya segera mendekat dan menuntun Arya untuk duduk di sofa di samping meja kerjanya.
"Obat pak Arya ada gak?"Roy tak tega melihat Arya yang meringis kesakitan.
Arya hanya mampu menjawab dengan gelengan kepala.
"Pak Arya tiduran sebentar,saya belikan obat dulu di apotek."
Arya pun hanya bisa mengangguk pasrah.
Asisten Roy keluar dari ruangan Arya,namun ia khawatir jika terjadi sesuatu dengan bos nya yang sedang kesakitan.
Akhirnya ia berinisiatif pergi ke ruang kerja Rania dan memanggilnya.
"Maaf mbak Rania,bisa ke ruangan pak Arya sekarang?"
"Pak Arya memanggil untuk masalah pekerjaan."Roy sengaja mengatakan itu agar teman kerja Rania tidak curiga.
Rania melihat hal yang aneh dari asisten Arya.
Tanpa banyak bertanya Rania pergi mengikuti perintah asisten Roy.
Setelah sampai di depan ruangan Arya.
"Mbak Rania,tolong jaga dulu pak Arya.Saya akan pergi ke apotek untuk membeli obat."
"Obat?Pak Arya sakit?"
"Iya,pak Arya punya penyakit maag,tadi beliau melewatkan makan siangnya karna menunggu mbak Rania kesini."
"Hah?Ta-tapi tadi..."
"Sudah dulu ya mbak,saya harus segera pergi.Tolong jaga pak Arya dulu."
"Baik pak."
Roy pergi dengan langkah cepat.
Rania membuka pintu ruangan Arya dengan pelan.
Dilihatnya Arya yang sedang tiduran di sofa dengan sambil memegangi perutnya.
__ADS_1
Rania mendekat tanpa ragu saat melihat wajah Arya yang pucat pasi.
"Pak Arya."Rania memberanikan diri memegang pundak Arya.
"Perutku sakit."Rintihnya sambil terus memegang perut.
Dengan segera Rania berlari menuju pantry kecil di dalam ruang kerja Arya.
Mengambil gelas lalu mengisinya dengan air hangat.
Juga tak lupa mengambil handuk kecil serta baskom seadanya untuk mengompres perut Arya.
"Pak Arya minum dulu."Mengangkat kepala Arya lalu memberi minum.
Setelah minum Arya kembali di rebahkan.
Rania melepas sepatu yang masih menempel dikakinya,mengendurkan dasinya dan juga melepaskan jas ditubuh Arya.
Dengan sedikit canggung Rania menyingkap baju Arya tepat diperutnya.
"Ma-maaf ya pak Arya,saya kompres dulu."Tak berani melihat wajah Arya.
Arya hanya membalasnya dengan mengangguk.
Dengan telaten Rania mengompres perut Arya,berharap bisa sedikit mengurangi rasa sakitnya.
Tak lama setelahnya asisten Roy datang membawa obat dari apotek.
"Segera minum obatnya pak."Asisten Roy menyodorkan obat tersebut pada Rania.
Rania membukanya dan diberikan pada Arya.
Arya pun meminumnya.
Setelah beberapa menit terlihat pak Arya sudah mulai membaik.Wajahnya tak sepucat tadi.
Rania masih setia berada di sampingnya juga asisten Roy yang terus menjaga mereka.
"Bagaimana pak,apa perlu kita ke rumah sakit kalau pak Arya merasa belum sembuh?"Asisten Roy menawarkan pilihan.
"Tidak Roy,aku sudah mulai baikan."
"Pak Arya belum makan siang?"Tanya Rania.
"Ah iya mbak,tadi pak Arya melewatkannya."Asisten Roy yang menjawabnya.
Rania segera mencari kotak makan milik Arya.
Dibukanya lalu menyuapi Arya.
"Makan dulu ya pak."
Arya pasrah.Tak ingin merasakan sakit lagi ia pun makan dengan di suapi Rania.
"Ah,kenapa rasanya enak sekali."Padahal biasanya kalau penyakit maag nya kambuh ia tak berselera makan.Tapi kali ini terasa beda.
Arya makan dengan pelan-pelan sambil terus memperhatikan wajah Rania.
__ADS_1
"Cantik!"Pujinya dalam hati.