Pengagum CEO Tampan

Pengagum CEO Tampan
Bucket bunga pernikahan


__ADS_3

Sebulan sudah pernikahan Rania dan Arya berjalan.


Namun semuanya masih belum ada pergerakan.


Seolah berjalan di tempat.


Sikap kedua orang tua dan nenek masih sama baiknya dan semakin dekat hubungan mereka.


Tapi Arya masih terus bertahan dengan sikap dinginnya yang sesekali iseng dan jail pada Rania.


Hari ini Rania akan menghadiri acara pernikahan teman kerjanya.


Ia datang bersama Arya,tapi seperti biasa.


Rania memilih untuk berhenti di pinggir jalan di dekat gang masuk rumah pemilik acara.


Rania masuk ke tempat acara di langsungkan.


Saat sedang antri untuk bersalaman Rania bertemu dengan Intan.


"Rania,kita cari tempat duduk yuk."Berjalan mencari tempat duduk setelah selesai bersalaman dengan kedua pengantin.


"Kamu sendiri?"Rania mencari-cari Dery.


"Gak kok,aku sama mas Dery.Dia balik ke mobil mau ambil hpnya ketinggalan."


"Oh..."


"Duduk situ aja yuk."


"Emmm...aku duduk sendiri aja deh."Rania merasa gak enak kalau mesti ada diantara mereka berdua.


"Ayolah Ran...kita kan dah lama gak ngobrol bareng."Menarik tangan Rania.


"Tapi apa aku gak ganggu kalian?"Rania mencoba menarik tangannya.


"Enggak lah Ran.Apa kamu gak kangen sama aku?Kamu gak mau lagi temenan sama aku?"Intan menundukkan wajahnya.


"Duuhh...ibu hamil,sensitif banget sih.Gitu aja marah.Ya udah ayo..."Rania ganti menarik tangan Intan.


Mereka duduk berdua di sudut ruangan.


Sesekali bercanda sambil tangannya tak berhenti makan.


"Bumil makannya banyak banget.Udah berapa bulan Tan?"Mengusap perut Intan yang terlihat sudah buncit.


"Iya nih,BB ku naik terus.Udah tujuh bulan."


"Waah...cepet banget ya.Sehat kan semuanya?"


"Iya...sehat semua kok.Baby nya juga dah mulai aktif di dalam perut."


"Duh senengnya...gemes deh."Rania kembali mengusap perut Intan.


"Eh,itu mas Dery.Mas Dery,aku disini."Intan melambaikan tangan.


Dery datang mendekat.


Ia kaget melihat Rania yang duduk bersama Intan.


"Duduk sini mas."Intan menepuk kursi di sebelahnya.Dery pun duduk.

__ADS_1


"Kamu kesini sendiri Ran?"Masih menunjukkan sikapnya yang sama seperti dulu.Namun kali ini Dery masih belum berani menatap Rania secara terang-terangan.


"Ehm!Maaf,boleh saya ikut duduk disini?"Belum juga Rania menjawab pertanyaan Dery tapi ia sudah di kagetkan dengan suara datar milik seseorang yang sangat ia kenal.


"Eh,pak Arya.Silahkan duduk pak.Di sebelah Rania masih kosong kok."Intan menunjuk kursi yang berada di samping Rania.


"Kamu datang kesini sendiri aja kan Ran?"Kembali Dery mengulang pertanyaannya.


"Berdua dengan saya."Bukan Rania yang menjawab tapi Arya yang sudah menjawab duluan.


"Duuhh...kayaknya mulai dekat nih.Apa aku ketinggalan informasi ya?"Intan mengedipkan matanya melihat Rania dan Arya secara bergantian.


Dalam hati Dery merasa geram dengan bos pabrik yang arogan itu.


Berani nya dia mencoba mendekati Rania.


Orang yang sudah sekian tahun dia perjuangkan mati-matian.


Mungkin dia memang lebih kaya dan sedikit tampan sih,tapi kalau soal cinta...sudah pasti cintanya jauh lebih besar.


"Bukannya jaman sekarang bebas.Yang sudah lama bersama bisa saja kalah dengan seseorang yang baru kenal bukan?"


Jawaban Arya terasa amat menohok bagi Dery.


Ia jadi semakin tak suka dengan sikap Arya yang seolah ingin merebut hati Rania.


"Yang lama saja bisa kalah apalagi yang baru kenal.Harus berhati-hati!"Dery puas.Ia bisa membalas ucapan Arya tak kalah sengit.


Arya mengepalkan tangan.


Merasa jika Dery masih tak ingin melepaskan Rania.


Padahal sudah jelas-jelas dia memiliki istri.


Intan merasa sedih dan kecewa.


Karna ternyata cinta Dery masih begitu dalam untuk Rania.


Seolah enggan untuk melepaskannya.


Namun ia juga sedikit heran dengan sikap bos pemilik pabrik.


Pak Arya seolah mengerti dengan hubungan antara Rania dan Dery di masalalu.


Sedang Rania merasa geram mendengar dua lelaki yang sedang beradu argumen tersebut.


Jika saja bisa ia ingin pergi dari situ.


Supaya tak perlu lagi mendengar perdebatan yang unfaedah itu.


"Eh,kita berdiri yuk.Pengantin mau melempar bucket bunga."Melihat orang-orang di sekelilingnya yang mulai berdiri untuk mengikuti acara pelemparan bucket.


Intan menarik tangan Rania dan di ajak berdiri.


Sontak kedua lelaki itu menghentikan perdebatannya dan ikut berdiri.


Arya terus memperhatikan Rania,sedang Dery pun tak luput untuk terus mengawasi Arya yang selalu bersikap aneh.


"Tiga....Dua....Saatuu...."


Bucket ditangan mempelai pengantin mulai melayang ke udara.

__ADS_1


Tamu undangan yang datang khususnya para lelaki dan perempuan serentak berdiri dan menyambut datangnya bucket bunga tersebut.


Konon katanya yang mendapat bucket bunga dari pengantin maka tak lama lagi orang beruntung itu akan segera ikut menikah.


Maka tak heran jika para gadis-gadis sangat antusias untuk menangkap bucket bunga itu.


Rania terus melihat bucket yang melayang tersebut.


Dari pengamatannya bucket itu mengarah padanya.


Ia bingung antara menangkapnya atau membiarkan orang lain yang merebutnya.


Saat ia melihat Arya,Ia mendapatkan tatapan tajam darinya.


Sambil kepalanya sedikit menggeleng.


Seolah melarang Rania untuk menangkapnya.


"Rania...tangkap..."Intan menginterupsi Rania.


Jika ia menangkap dan mendapatkan bucket tersebut...buat apa?Toh dia sudah menikah.


Secara reflek Rania menghindar dari lemparan bucket bunga itu.


Dan akhirnya wanita lain lah yang beruntung mendapatkannya.


Wanita itu nampak sangat senang.


Ia terus tersenyum sambil berdo'a.


"Semoga aku juga segera nyusul jadi pengantin..."Wanita itu memamerkan bucket yang barusan ia dapatkan kepada teman-temannya.


Intan menarik kembali tangan Rania dan di ajak pergi dari kerumunan itu.


Berjalan menuju kursi yang tadi mereka tempati.


Nampak Intan sedikit kesal dengan Rania.


"Rania,kenapa tadi kamu menghindar saat bucket itu mengarah ke kamu?"


"Hah,enggak kok.Aku gak menghindar.


Memang tadi bucketnya mengarah ke cewek tadi."Rania mencari alasan.


"Jelas banget bucket tadi mengarah ke kamu.


Tapi kamunya malah menghindar.Aku tau kok.


Mas Dery juga tau kan mas?"Menyenggol tangan Dery.


"Aku gak begitu memperhatikan."Dery menjawab asal.


Dalam hati ia senang,Rania tak berusaha untuk mendapatkan bucket bunga itu.


Maka mungkin saja jika Rania masih belum bisa melupakannya dan belum ingin menikah.


Besar harapan Dery untuk merebut kembali hati Rania setelah ia bercerai nanti dengan Intan.


Intan merasa ada sesuatu hal yang di sembunyikan Rania.


Sedangkan Arya tersenyum bahagia meski hanya dalam hati.

__ADS_1


Karna Rania paham akan tatapan matanya tadi yang melarangnya untuk menangkap bucket tersebut.


"Jangan harap kamu mau menikah lagi."


__ADS_2