
Rania bersiap untuk pergi bekerja.
Arya dan pak Jaya juga sudah siap.
"Arya,kamu berangkat berdua dengan Rania ya.
Papa mau bawa mobil sendiri sambil ngantar mama."
"Iya deh pa."
"Rania...kamu masih mau bekerja?Sekarang kan kamu sudah jadi istrinya Arya.Kenapa gak di rumah saja nemenin nenek?"Tiba-tiba nenek datang.
"Maaf nek...ta-tapi Rania masih pengen kerja.
Tapi bukan karna Rania gak mau temenin nenek....tapi..."Rania bingung harus menjelaskan apa pada nenek.
"Nenek...biarkan Rania bekerja nek.Jangan dipaksa...Nanti kalau sudah punya anak pasti mau di rumah."Ucap mama Anita.
"Iya,lagipula nenek di rumah kan sudah ada yang nemenin."Imbuh papa.
"Lha kan cuma sama beberapa asisten.Maunya sama cucu nenek yang cantik ini."Nenek mencubit gemas pipi Rania.
"Maafin Rania ya nek..."Merasa bersalah melihat nenek yang sedih.
"Ya udah deh...tapi nanti kalau sudah punya anak di rumah aja ya.Gak usah kerja.Punya anak yang banyak ya nak,biar rame rumahnya."Nenek sudah membayangkan keramaian yang nanti memenuhi seisi rumah.
Rania semakin bingung harus menjawab apa.
Ternyata sejauh itu pemikiran nenek dan orang tua Arya.
Ia takut jika tak bisa mengabulkan keinginan mereka.
"Ehm!Sudah siang.Kita nanti terlambat."Arya mengalihkan pembicaraan untuk menutupi kebingungan Rania.
"Ya sudah,kita berangkat ya nek."Papa Jaya pamit pada nenek.
"Yah...sepi deh.Ya sudah,hati-hati semuanya."Nenek duduk lalu menyalakan tv.
Pak Jaya berangkat bersama mama Anita,sedangkan Arya bersama Rania.
"Pak,nanti Rania turun di kost'an ya."Rania mencoba memecah keheningan yang tercipta.
"Kenapa ke kost'an?"Arya menoleh melihat Rania yang duduk di sampingnya.
"Rania mau ganti baju.Seragam Rania kan masih di sana semua."
Arya melihat baju Rania dan baru menyadari kalau dia memakai baju biasa dari rumah.
Sedangkan di tempatnya bekerja harus memakai seragam.
Arya menjawab dengan menganggukkan kepalanya sambil menyetir mobil.
Sesampainya di depan kost mobil pun berhenti.
Rania membuka pintu mobil dan akan segera turun.
Namun ia kembali menoleh pada Arya.
"Bapak duluan saja,nanti saya bisa jalan kaki."
"Cepat ganti baju,saya tunggu di sini."
__ADS_1
"Tapi pak..."Belum selesai bicara Arya sudah memotongnya.
"Keburu siang."
Rania mulai memahami sedikit sifat Arya.
Jika sudah seperti itu berarti Arya sedang tidak ingin di bantah.
Dengan segera Rania turun dari mobil.
Dan secepat kilat ia mengganti pakaiannya dengan seragam pabrik.
Meski seragamnya berbeda dari karyawan biasa tapi ia mempunyai seragam khusus yang biasa di pakai para staf kantor di pabrik milik pak Arya.
Selesai memakai seragam Rania segera mengunci pintu dan buru-buru masuk mobil.
Takut pak Arya marah karna terlalu lama menunggunya.
Mobil kembali berjalan tanpa sepatah katapun yang mereka ucapkan.
Jarak antara tempat kost Rania dan pabrik sebenarnya lumayan dekat.
Dan itu berarti semakin dekat pula dengan tempat tujuan.
Rania gusar,ia tak bisa duduk dengan tenang.
Ingin mengungkapkan keinginannya tapi takut Arya marah.
Hanya dengan tatapan dinginnya saja sudah membuat keberanian Rania menciut.
Tapi Rania tak bisa diam saja.
Ia tak mau semua orang pabrik tau soal hubungannya dengan Arya.
Tapi tetap saja,pasti ada satpam,para staf kantor dan para pekerja kantin yang letaknya berdekatan dengan area parkir.
Pasti mereka akan tau dan pasti juga akan menyebabkan berbagai gosip setelahnya.
"Tidak tidak.Itu gak boleh terjadi."Rania membayangkan semuanya hingga tanpa sadar ia menggelengkan kepalanya berulang kali.
Hal tersebut membuat Arya yang sejak tadi diam menjadi keheranan melihat sikap aneh wanita yang kini sudah jadi istrinya itu.
"Kenapa kamu?"Bertanya tanpa melihat.
"Eh."Rania baru sadar jika ada Arya yang sedang berada di sampingnya.
"Emmm....pa-k Ar-ya...tolong nanti saya berhenti di pinggir jalan saja ya pak."Pinta Rania meski dengan ragu.
"Kenapa begitu?"Menyatukan kedua alisnya dan menoleh pada Rania.
"Emmm...Rania...takut nanti ada yang melihat pas saya turun dari mobil pak Arya."
"Maksudnya?"
"Pak Arya mau nanti mendengar gosip yang aneh-aneh tentang kita?"
"Aneh gimana maksud kamu?"
"Ya...pasti mereka mengira kalau saya dan pak Arya ada hubungan."
"Lha kan memang iya."Arya sengaja ingin membuat Rania bingung.Sambil masih mengemudi ia diam-diam menarik sudut bibirnya membentuk sebuah senyuman.
__ADS_1
Merasa gemas melihat ekspresi Rania yang bingung,kesal dan ingin marah.
"Bukan gitu pak...Nanti mereka berpikir yang aneh-aneh.Sedangkan hubungan kita...."Rania jadi semakin bingung untuk menjelaskan.
Sebenarnya Arya sudah paham dengan maksud Rania.
Namun ia sengaja iseng hanya karna gemas melihatnya.
"Kamu gak mau pernikahan kita diketahui orang?"Dalam hati Arya penasaran dengan jawaban Rania.
"Memang pak Arya gak malu kalau nanti digosipin sama saya yang aneh-aneh?"Rania justru balik bertanya.
Arya terdiam sebentar.
Berpikir mungkinkah jika Rania malu dengan pernikahan dadakan ini?
Ya,pasti itu.
Dan mungkin juga Rania belum bisa sepenuhnya melupakan mantan pacarnya yang tiba-tiba harus menikah dengan sahabatnya.
Sama hal nya dengan dirinya yang belum bisa melupakan Sesil hingga detik ini.
Meski Sesil sudah menyakiti hatinya.
Namun kenangan sekian lama bersamanya tak mungkin bisa hilang begitu saja dengan cepatnya.
Sampai di pinggir jalan sesuai yang Rania inginkan akhirnya Arya menghentikan laju mobilnya.
Menepi kemudian berhenti di pinggir jalan.
"Baiklah jika itu mau kamu."Pandangannya masih lurus kedepan tanpa menoleh pada lawan bicaranya.
"Terimakasih."Rania membuka pintu lalu turun dari mobil hingga kemudian menutupnya kembali.
Arya masih diam di tempat.
Mobil pun belum di nyalakan mesinnya.
Ia masih melihat Rania yang berjalan menuju Gerbang pabrik yang menjulang tinggi.
Sampai di depan gerbang yang sedikit terbuka itu Rania masuk.
Sedikit berbasa basi dengan pak satpam.
Tak lama kemudian suara klakson mobil terdengar.
Pak satpam yang tadinya bicara dengan Rania segera lari tergopoh-gopoh untuk segera membuka pintu gerbang.
Mobil Arya masuk setelah pak satpam membuka pintunya.
Mobil itu terus melaju pelan menuju area parkir khusus CEO.
Sedang Rania segera masuk menuju ruangan di mana ia biasa bekerja.
"Bismillah..."Rania berjalan sambil terus berdoa.
Semoga semuanya berjalan seperti biasanya.
"Tumben datangnya agak siangan Ran?Biasanya pasti kamu datang duluan."Baru masuk Rania sudah ditanya sama Aan,teman kerjanya satu ruangan.
"Iya,biasanya kita datang kamu sudah stay di tempat duluan."Imbuh Maya yang juga heran.
__ADS_1
"Gakpapa sih.Lagi pengen berangkat jam segini aja."Menutupi kenyataan baru dalam hidupnya.