
Pagi ini Rania sambut dengan penuh semangat.
Ditatapnya lagi pantulan wajahnya di balik cermin.
Kembali membenahi sedikit kerudungnya.
Ya.
Hari ini Rania mencoba membuka lembaran baru.
Ia mulai menata hati dan juga menjaga penampilannya.
Bukan untuk terlihat wah ataupun dipuji orang.
Tapi ia memantapkan dirinya untuk berusaha jadi yang lebih baik lagi.
Menjalankan salah satu perintah Allah dengan menutup auratnya.
Meski belum bisa menutup seperti orang-orang yang sudah benar-benar paham agama.
Namun ia berusaha dan belajar.Setidaknya berusaha berpakaian tertutup.
Setelah berulang kali meyakinkan hatinya,akhirnya ia berbalik badan.
Berjalan keluar dari tempat kost.
Membuka pintu hendak berangkat kerja.
"Bismillah..."
Memantapkan langkahnya dengan tersenyum.
Siang nanti ia berniat akan mencari Intan.
Setelah sebulan berusaha menenangkan pikirannya,kini ia berniat untuk melupakan Dery.
Mengatakan tentang hubungannya sekarang pada Intan,dan meminta maaf padanya.Karna selama ini secara tak sengaja ia sudah melukai hati sahabatnya.
Meskipun sebenarnya tak sepenuhnya salahnya.
Tapi tidak seharusnya Intan selalu melihat kemesraan antara ia dan Dery.
Pasti hal itu sangat menyakiti hati Intan.
Bodohnya ia yang tak tau arti tatapan Intan pada Dery selama ini.
Ucapannya yang selalu menggebu-gebu saat menceritakan tentang Dery.
Jauh sebelum Rania mengenal dan jadian dengan Dery.
Namun kini...setelah menemui jalan buntu dari hubungannya dengan Dery,ia akan berusaha untuk mengikhlaskannya.
Berusaha untuk melepaskan Dery.
Jika Intan masih menyukai Dery pun,Rania akan berusaha untuk mendukungnya.
Sesampainya di ruang kerja,Rania di sambut uluran tangan dan pelukan hangat dari teman-temannya.
Mengucapkan selamat atas perubahan besar padanya untuk menuju yang lebih baik lagi.
Serta mendoakan semoga Istiqomah di jalan Allah.
"Duuhh...makin cantik aja sih Adek satu ini."Ucap Aan.
"Iya nih,makin terlihat auranya.Berseri-seri."Imbuh Wisnu.
Rania yang di goda kedua sahabat lelaki yang sudah di anggap kakak itu hanya bisa tersenyum malu.
"Eh kalian!jangan godain Rania dong..."Mata Maya melotot melihat dua cowok yang suka iseng itu.
"Ini orang sewot melulu sih kalo kita lagi godain Rania.Cemburu kamu...."Aan berkata dengan PD nya.
__ADS_1
"Issshhh....ogah banget..weeekkk..."Maya menjulurkan lidahnya.
"Udah-udah,kok malah ribut sih.Ayo kerja kerja."Potong Alya.
"O ya Rania,jangan lupa laporan ya."Alya mengingatkan Rania akan tugas rutinnya.
"Ok mbak..."Diangkatnya tangan kanan Rania memberi tanda hormat.
Seperti biasa Rania pergi mengantarkan berkas pada Arya.
Setelah mengetuk pintu ia pun masuk ke ruangan Arya.
"Permisi pak,saya mau menyerahkan berkas laporan keuangan."
"Hemm."Masih sibuk dengan pekerjaannya sampai tidak melihat siapa yang datang.
"Saya letakkan disini pak.Permisi."Tanpa duduk terlebih dahulu,Rania hanya menaruh berkas di meja lalu segera undur diri.
"Tunggu dulu,tolong revisi berkas ini.Ada beberapa yang..."Arya terkejut ketika menoleh pada Rania hingga ia tak menyelesaikan kalimatnya.
Arya mematung.
Ditatapnya wajah Rania yang sedang sibuk membuka berkas tersebut sambil duduk perlahan.
Gadis yang duduk di depannya saat ini terlihat berbeda dari biasanya.Ia terlihat lebih anggun,lebih dewasa dan sangat cantik di mata Arya.
"Cantik."Tanpa sadar Arya memuji kecantikan Rania.
Rania yang sedang mengamati berkas itupun berhenti sejenak dari pekerjaannya.
"Maksud Bapak?"Rania melihat Arya guna memperjelas kata yang tadi Arya ucapkan.
Dan ternyata Arya sedang menatapnya.
Jadilah mereka saling bertatap muka untuk sepersekian detik.
Beberapa detik kemudian Arya gelagapan dan membuang muka ketika ia sadar dengan keadaan.
"Baik pak,permisi."Rania segera bangkit dari duduknya dan berlalu dari sana.
Sedang Arya,ia masih terkesima dengan penampilan baru Rania.
"Kenapa dengan hatiku.Hanya melihatnya berjilbab saja sudah membuat jantungku semakin berdesir."
Arya bersyukur,dengan cobaan yang Rania dapatkan,tak membuatnya putus asa dan berkubang dalam luka.
Tapi justru ia bangkit menuju hal yang lebih baik lagi.
Itu menandakan bahwa Rania memanglah gadis baik yang pantas untuk bahagia di kemudian hari.
Waktu istirahat pun tiba.
Rania segera berdiri membawa jatah makan siangnya.
"Mbak,Rania mau istirahat kebawah ya..."Pamit Rania pada Maya.
"Lhoh,tumben turun,gak makan disini seperti biasanya?"Jawab Maya.
"Enggak mbak.Kangen sama temen.Mau makan di kantin."
"Ya udah gakpapa.Nanti beli cemilan ya Ran."
"Siap mbak..."Rania segera keluar dari ruangannya.
Rania berjalan menuruni tangga.
Sesampainya di bawah ia berpapasan dengan Arya yang baru keluar dari lift khusus CEO.
Mereka kembali beradu pandang.
Namun Rania segera menundukkan pandangannya.
__ADS_1
Dalam hati Arya ingin bertanya hendak kemana Rania.
Namun ia tak mau jika dirinya terlihat kepo pada urusan karyawan.
"Permisi pak..."Rania berlalu dari Arya.
Tak mau terus kepo dengan gadis itu,akhirnya Arya pun melanjutkan langkahnya.
Rania pergi ke kantin mencari Intan.
Sesampainya di kantin ia tak melihat keberadaan sahabatnya tersebut.
Rania kembali berjalan menuju tempat kerja Intan.Namun lagi-lagi tempat itu kosong.
"Apa mungkin ke mushola ya."
Ia pun pergi ke mushola.
Namun sama.Di sana pun tak ada Intan.
Ia berjalan turun dari mushola dan pergi dari sana.
Di tengah jalan ia bertemu dengan teman yang bagian kerjanya sama dengan Intan.
"Mbak,lihat Intan gak?"Tanya Rania.
"Tadi lihat dia ke toilet."
"Oh...makasih ya mbak..."
"Iya sama-sama."
Rania pun pergi ke toilet seperti yang sudah di katakan temannya Intan tadi.
Menunggu di ujung lorong toilet wanita.
Berharap Intan ada di sana.
Namun di tempat sebesar itu sangatlah sepi.Tak ada satu orangpun yang berada di sana.
Saat ia ingin pergi dari tempat itu,ia melihat ada satu pintu tertutup.
Dari dalam pintu itu terdengar orang yang sedang muntah berulang kali.
Meski air kran mengalir begitu derasnya di dalam sana,namun masih terdengar jelas suara itu.Suara orang yang terlihat sedang menahan sakit karna terus muntah-muntah di dalam toilet.
Karna penasaran ia pun menunggu di depan pintu itu.
Takut jika orang yang berada di dalamnya sedang sakit dan butuh pertolongan nantinya.
Tak lama air kran di matikan.
Lalu terdengar suara kunci pintu yang di geser.
Pertanda orang tersebut akan segera keluar dari toilet.
"Rania."
"Intan."
Keduanya sama-sama kaget.
"Ada apa kamu kesini?"Intan bertanya namun dengan gerakan kakinya melangkah menjauh dari Rania.
"Aku cari kamu."Rania mengekor di belakang Intan.
"Mau apa?"Menoleh sekilas lalu kembali berjalan.
"Mau makan bareng."Menunjukkan makanan yang ia bawa.
"Aku sudah makan."Jawabnya singkat.
__ADS_1