Pengagum CEO Tampan

Pengagum CEO Tampan
Kedinginan


__ADS_3

Usai kedua tamu tak di undang tadi pulang,setelah kembali berembuk mengenai acara yang akan di gelar minggu depan semua kembali ke kamar masing-masing.


Rania masih bersedih dengan ucapan para tetangganya tadi.


Ia tak pernah berfikir jika pernikahan dadakannya bisa berdampak pada penilaian orang-orang di kampung.


Rania takut jika keluarganya di rumah jadi korban bahan omongan orang.


Sama saja ia sudah mencoreng nama baik keluarganya.


"Udah gak usah di pikirkan lagi."Arya datang dan mengagetkan Rania yang sedang melamun di pinggir ranjang.


"Mas,aku hanya khawatir sama keluarga di rumah."Rania tak melanjutkan ucapannya.


"Akan aku buktikan jika tuduhan mereka tidak benar.Dan....maafkan aku,gara-gara aku yang memaksa kamu semuanya jadi begini."


"Mas Arya menyesal menikah sama aku?"Entah kenapa Rania merasa sakit mengucapkan hal itu.


"Hei...apa maksud kamu?Aku tidak menyesalkan pernikahan kita,yang aku sesalkan adalah caraku menikahi kamu.Tapi aku berjanji,akan selalu melindungi kamu dan keluarga kita."Duduk di samping Rania dan memeluknya.


Arya kaget mendapati tangan istrinya yang dingin bagaikan es batu.


"Sayang,tangan kamu dingin sekali."Mengusap-usap tangan Rania.


"Iya mas,dingin."Rania mulai menggigil.Semakin lama semakin menjadi.


Ia hanya bisa mematung dan tak bisa lagi bergerak.Seolah seluruh tubuhnya kaku.


Arya melihat wajah Rania yang mulai pucat.


Dengan gerakan cepat ia segera mengangkat tubuh Rania dan menidurkannya di kasur.


Mengambil selimut lalu menyelimuti seluruh tubuh Rania.


Melihat Rania yang masih terus menggigil Arya ikut masuk ke dalam selimut dan memeluknya erat.


Arya semakin kaget ketika merasakan kaki Rania ternyata juga sedingin tangannya.


Ia semakin mengeratkan pelukannya.


Sekitar hampir setengah jam Rania mulai baikan.Ia tak lagi menggigil seperti tadi.


Perlahan Rania mulai memejamkan mata.


Arya merasa sedikit lega saat melihat Rania mulai tidur.


Baru sekali itu Arya mendapati Rania sakit seperti tadi.


Tak di pungkiri ia merasa bingung,kaget dan khawatir terhadap kesehatan istrinya.


Tak lama setelahnya Arya menyusul Rania kealam mimpi dengan posisi masih tetap berpelukan.

__ADS_1


Pada tengah malam Rania terbangun dari tidurnya.


Ia merasakan badannya yang terasa begitu berat karna tertindih sebagian tubuh Arya.


Kedua kaki Arya menimpa kaki Rania.


Begitu juga tubuhnya melekat erat di tubuh Rania bersama dengan kedua tangan yang memeluk erat.


Rania mulai merasakan gerah dan sesak.


Dengan perlahan dia bergerak ingin sedikit melonggarkan pelukan Arya,namun tak di sangka pergerakannya membuat Arya ikut terbangun dari tidurnya.


"Sayang,kamu bangun?Kenapa,apa yang kamu rasakan?"Seketika kedua mata Arya terbuka lebar melihat istrinya bangun.Ia khawatir jika Rania kembali sakit seperti tadi.


"Enggak kok mas,aku baik-baik saja,hanya sedikit merasa gerah dan sesak."Jawabnya namun tak berani bergerak.


"Oh iya,maaf.Tadi aku khawatir banget soalnya melihat kamu kedinginan seperti tadi."Arya mengendurkan pelukannya.


Rania bisa bernafas lega dan bisa bergerak bebas.Kemudian ia mengingat sesuatu.


Tentang keinginan Arya sore tadi yang belum ia laksanakan.Rania pun menunduk merasa bersalah pada suaminya.


"Hei...kenapa murung?"Arya melihat Rania seperti memikirkan sesuatu.Ia berfikir Rania masih teringat soal huru hara malam tadi.


"Mas....maafin aku."Masih tetap menunduk tak berani melihat wajah Arya.


"Untuk?"Mengangkat dagu Rania dan menatapnya lembut.


"Maaf belum bisa memberikan hak mas Arya."Memalingkan wajahnya,takut terlihat betapa malu nya dia mengatakan hal itu.


Arya mencium pipi Rania sekilas.


"Gakpapa.Bisa lain kali atau kapan saja.Yang penting kamu harus sehat."Arya menarik wajah Rania agar kembali melihat nya.


"Makasih ya mas."Rania tersenyum sambil malu-malu,memperlihatkan lesung pipinya.


"Iya,ya sudah kita tidur lagi.Tapi besok pagi antar aku jalan-jalan sekitar sini ya."Arya kembali memeluk Rania,namun kali ini tak seerat tadi.Takut Rania sesak.


"Iya mas...cup!"Rania balas mengecup pipi Arya.Senyum Arya tersungging manakala mendapatkan sebuah kecupan tak terduga dari istri kecilnya.Ia begitu senang,karna ternyata istrinya mulai membalas perasaannya.


Keduanya kembali melanjutkan tidurnya dengan mimpi indah.


🌼🌼🌼


Keesokan harinya keduanya bangun setelah mendengar suara adzan dari masjid di kampungnya.


Arya bangun dan ingin sholat subuh.


Rania ingin ikut bangun,namun dingin kembali dirasakannya.Ia takut jika terulang seperti malam tadi.


"Sayang,kamu tayamum saja kalau masih dingin."Arya melarang Rania wudhu.Kejadian semalam membuatnya takut.

__ADS_1


Saat membuka pintu kamar Arya melihat Bapak yang sudah bersiap pergi sholat.


"Bapak mau sholat di masjid?"Tanyanya pada Bapak.


"Iya,nak Arya mau ikut?"Tawar Bapak.


"Boleh pak,tapi tunggu sebentar,Arya mau wudhu dulu."Arya bergegas menuju tempat wudhu.


"Iya,sambil menunggu adikmu."Bapak mengangguk dan menunggu di ruang tamu.


Selesai wudhu Arya kembali ke kamar ingin mengambil sarung.


"Sayang,sarungku mana?Kamu sholat sendiri gakpapa kan?Mas mau sholat ikut Bapak ke masjid."Pamit Arya.


"Iya."Jawab Rania.


"Tapi ingat,jangan lupa pakai jaket."Arya melangkah keluar dari kamar.


Rania mengambil jaket lalu segera pergi ke dapur.Di sana ibu sudah mulai sibuk memasak.


Rania wudhu lalu segera sholat subuh.


Selesai sholat ia kembali menyusul ibunya di dapur.


"Masak apa buk?"Tanya Rania.


"Ini nduk...masak soto.Suami kamu mau kan soto?"


"Mau buk..."Alih-alih membantu Rania justru duduk di depan tungku guna menghangatkan diri.Di kampung masih menggunakan tungku untuk memasak,meskipun sudah punya kompor gas tapi kebanyakan dari mereka masih juga menggunakan tungku.Karna selain di kampung masih banyak kayu bakar juga supaya lebih ngirit.


"Kenapa sekarang di sini dingin banget ya buk.Semalam Nia kedinginan."


"Kamu sakit nduk?"Ibu mendekat dan meraba kening Rania.


"Enggak sih buk,cuma kedinginan aja.Semalam menggigil.Gak tau,sekarang Nia sepertinya gak betah dingin.Apa karna Nia sudah jarang di rumah sini ya buk?"Rania sendiri heran dengan dirinya.Padahal dulu dia dilahirkan dan di besarkan di daerah pegunungan yang dingin,tapi sekarang tidak tahan dengan dingin.


"Memang lagi musim hujan nduk...jadi udaranya juga dingin banget."Jawab ibu.


Rania mengangguk.Mungkin benar apa yang di katakan Ibunya.Cuacanya memang lagi musim penghujan,jadi semakin terasa dinginnya.


Rania membantu Ibu memasak supaya cepat selesai.Tak berselang lama Arya pulang dari masjid bersama Bapak.


Mencari Rania di kamar tidak ada,Arya berinisiatif mencarinya di dapur.


Namun ia hanya melihat Ibu di sana.


"Nia mana buk?"Mencari-cari sang istri.


"Itu di belakang nak Arya....sedang mencuci baju."Ibu menunjuk kamar mandi.


"Memang sudah sembuh buk?Semalam dia kedinginan.Arya khawatir banget."

__ADS_1


"Tadi ibu juga sudah melarang,tapi katanya sudah baikan."


Arya segera menyusul Rania dan membantunya mencuci baju.


__ADS_2