Pengagum CEO Tampan

Pengagum CEO Tampan
Dery nongkrong


__ADS_3

Rania bingung mesti memulai cerita darimana.


Akhirnya mau tak mau ia bercerita sedikit tentang masalahnya dengan Dery.


"Rania...lagi ada masalah sama pacar Rania nek..."Ucapnya ragu.


"Nenek sama Tante boleh tau gak?Tapi kalau Rania masih belum mau cerita juga gakpapa."Tanya mama Anita hati-hati.Takut menyinggung Rania.


"Kami sepakat mau serius,tapi...orang tuanya gak merestui kami."Rania kembali mengeluarkan air mata nya.


"Dengan alasan?"Sambil mengusap punggung Rania.


"Kita berbeda."Kata Rania singkat.


"Maksudnya?"Nenek pun bingung.


"Dia anak orang berada Nek...sedang Rania...dan ibunya juga punya calon yang sepadan dengannya.Sama-sama seorang guru."Rania bicara namun pandangannya kosong.


"Padahal orang tua di rumah tau nya kita bakalan serius."Lanjutnya.


"Kenapa gak di perjuangin kalau kalian saling cinta?"Pendapat mama Anita.


"Apa jadinya pernikahan tanpa restu orang tua Tante..."Rania mengusap air mata nya.


"Ya,di perjuangkan maksud tante.Supaya bisa dapet restu nya."


"Halah...ngapain di perjuangin.Sikap orang tua seperti itu hanya akan nyakitin Rania saja."Ucap nenek.


"Terus...kamu bakalan nyerah gitu aja?Gak coba diperjuangkan dulu?"Tanya mama Anita lagi.


"Gak bisa Tante...?"Rania terisak.


"Alasannya?"Mama Anita masih penasaran dengan langkah yang akan di ambil Rania selanjutnya.


"Karna ternyata sahabat baik Rania juga menyukainya Tante..."Rania memeluk mama Anita.


"Itu bukan salah kamu...setiap orang berhak mencintai siapapun."


"Tapi Rania gak mau bahagia di atas penderitaan sahabat dekat Rania sendiri Tante.."Masih sambil memeluk erat.


"Iya...Tante ngerti...kalau begitu,kamu harus berusaha lupain dia.Bicara terus terang sama orangtua dirumah secara pelan-pelan.Tante yakin mereka akan mengerti kok."Nasehat mama Anita.


"Iya sayang,kamu mesti lupain laki-laki itu.Anggap saja bukan jodoh kamu."Nenek pun ikut menasehati.


Rania melepaskan pelukan mama Anita lalu mengangguk pada nenek.


"Rania...boleh gak nginep disini malam ini.lagi."Rania melihat nenek lalu juga menoleh pada mama Anita.Meminta persetujuan mereka.


"Boleh banget dong..."Nenek tersenyum senang.


"Lagian ini sudah malem.Memang seharusnya kamu nginep disini."Mama Anita mengusap air mata Rania.


"Makasih Tante,nenek.maaf Rania selalu merepotkan."Sebenarnya Rania merasa tak enak hati.Tapi Rania tak ingin kembali ke kost malam ini.


Besok ia akan mencoba cari tempat kost baru.


"Gak usah gitu sayang...andai bisa,nenek mau bantu kamu."Dielusnya rambut Rania yang tergerai.


🌼🌼🌼

__ADS_1


Sementara itu di lain tempat,Intan sedang bingung mencari Rania.


Menghubungi hp nya tak ada gunanya,di coba berkali-kali tapi tak aktif.


Menyusuri sepanjang jalan yang sering mereka kunjungi pun tak membuahkan hasil.


Pergi ke supermarket,ke taman kota,bahkan ke halte pun sudah di datangi Intan.


Namun semuanya sama sekali tak menemukan keberadaan Rania.


Setelah merasa capek dan hari sudah malam,akhirnya Intan kembali ke kost'an.


Setelah masuk kamar,ia merebahkan tubuhnya di kasur.


Ia masih terus mengkhawatirkan Rania.


"Pasti Rania sedih sekali begitu membaca buku diary itu.Bodoh kamu Intan,kenapa kamu ceroboh sekali.Padahal mereka akan segera menikah."Pikir Intan sambil memaki dirinya sendiri.


Saat melihat kunci yang tergantung di pintu kamar,Intan baru teringat jika ia membawa kunci serep milik Rania.


Mereka memang saling tukar kunci kamar.


Jika mereka perlu pinjam sesuatu bisa langsung ambil tanpa harus menunggu sang pemilik kamar.


Mereka berdua sudah saling percaya.


Intan berdiri lalu mengambil kunci itu.


Di kuncinya kamar Intan lalu berjalan ke kamar Rania.


Memutar kunci lalu di bukanya pintu kamar Rania.


Intan masuk kamar dan tiduran di kasur.


Sementara itu...


Dery yang sudah bosan di rumah sakit,ia terus saja mondar mandir.


Ia merasa tak tenang.


Ingin segera menemui Rania yang tadi pergi dengan keadaan menangis.


Melihat kondisi ibuk yang sudah lebih tenang,Dery memutuskan untuk pulang dan mencari Rania.


Setelah berpamitan Dery segera pergi.


Saat di perjalan pulang Dery di telphon temannya.Di ajak nongkrong sebentar.


Tak bisa menolak Dery pun berkumpul dengan teman-temannya di sebuah kafe.


Di kafe tersebut temannya sudah memesan ruang privat untuk acara salah seorang temannya yang sedang ulang tahun.


Di ruang tersebut berkumpul beberapa teman dekat Dery.


Mereka makan-makan bersama sambil ngobrol.


Salah seorang temannya ada yang membawa minuman beralkohol.


Biasanya Dery paling anti dengan minuman semacam itu.

__ADS_1


Meski dia sudah pernah merasakan,tapi ia tak tertarik untuk menjadikan minuman itu sebagai minuman yang sering di konsumsi seperti anak-anak muda jaman sekarang.


Namun entah kenapa,kali ini Dery menginginkan minuman itu.


Ia sedang dipusingkan dengan keadaan yang sangat sulit.


Bingung dengan sikap keras kepala dari ibunya.


Tanpa meminta pada temannya terlebih dahulu,Dery langsung saja mengambil botol minuman yang memabukkan itu.


Salah satu temannya sampai melongo melihat hal itu.


Hal yang belum pernah ia lihat dari sosok Dery.


Dery yang di tatap sedemikian rupa,tak mau ambil pusing.


Di ambilnya minuman itu lalu dibuka.


Meminum seteguk demi seteguk.


Meski rasanya tak enak sama sekali tapi pada akhirnya habislah satu botol hanya diminumnya sendiri.


Temannya bertanya sambil masih tak percaya bahwa itu benar-benar Dery,"Kamu tumben minum Der,lagi ada masalah?"


"Iya,baru liat juga Dery minum kayak gitu.Biasanya cuma minum jus atau kopi."Ujar teman yang lain.


"Emang gak boleh?"Jawab Dery ketus.


"Woiiish...lagi gak beres nih bocah."


"Ada masalah apa sih?"


"Tau lah pusing ini."Sambil memijit pelan pelipisnya.Berharap dapat mengurangi sakit kepala yang ia rasa.


"Jujur aja Napa ma kita?"Bujuk teman Dery.


"Masalah cewek?"Yang lain pun menebak.


"Ibuk gak restuin aku nikah sama pacarku."Akhirnya Dery bercerita pada teman-temannya.


"Alasannya?"


"Gak tau lah,"Dery semakin pusing.


"Ibu punya calon sendiri buat aku."Lanjut Dery.


"Ya udah,nikah aja sama wanita pilihan ibu kamu."Pendapat yang lainnya.


"Aku gak mau nikah sama siapapun selain sama Rania"Ucap Dery tegas.


"Sebenarnya kamu pinter. Seorang dosen.Soal teori aja kamu pinter,tapi soal prakteknya nihil."Hina sahabat Dery.


"Maksud kamu apa?Hah!"Dery terlihat sedikit emosi.


"Kamu hamili aja pacar kamu,dengan begitu bakalan di restui sama ibumu."Saran teman teman yang lain


"Gila apa!Aku gak bakalan sakitin dia!"Ketus Dery.


"Kata siapa kamu sakitin dia....kamu hanya butuh berjuang buat dapetin dia sepenuhnya.?

__ADS_1


Begitulah kira-kira obrolan yang terjadi malam ini.Dery semakin bingung dengan kenyataan yang harus ia hadapi.


Yang pasti ia begitu mencintai Rania,dan ingin segera mendapatkannya seutuhnya.


__ADS_2