Pengagum CEO Tampan

Pengagum CEO Tampan
Di ajak pergi


__ADS_3

Sebulan telah berlalu.


Hubungan Rania dan Dery masih tetap berjalan seperti sebelumnya.


Dery sudah berencana akan segera melamar Rania.


Kemarin Dery menyampaikan keinginannya pada pak Herman.


Dan beliau pun mengijinkan.


Berbeda dengan Bu Herman dan Desy.


Keduanya nampak kaget mendengar niat dari Dery.


Hari ini hari Sabtu.


Karna tak banyak kerjaan,Rania pulang setengah hari.


Keluar dari pintu gerbang pabrik,Rania kaget melihat ada Desy disitu.


Desy melambaikan tangan memanggil Rania.


Raniapun berjalan mendekat ke arah Desy.


"Rania...kita jalan yuk.Ibuk pengen ngomong sama kamu."Desy bicara dengan nada lembut dan tersenyum.


Rania heran akan sikap mbak Desy yang tiba-tiba saja berubah.


Tak secuek dan sesadis biasanya.


"Rania,kamu mau kan.pliis..."Desy memohon.


"Emang mau ngomong apa mbak?Ibuk dimana?"Rania melihat ke kiri dan kanan.


"Itu ada di mobil."Desy menunjuk mobilnya yang di seberang jalan.


"Mau ya.yuk."Desy menarik tangan Rania.


Sesampainya di depan mobil.

__ADS_1


"Masuk Ran."Desy membuka pintu mobil.


Meski masih diliputi rasa penasaran akhirnya Rania ikut masuk juga ke dalam mobil.


"Buk..."Sapa Rania sambil mencium tangan Bu Herman.


"Hemm...Desy,cepet jalan."Bu Herman masih sama.Terlihat ketus.


"Kita mau kemana buk..."Tanya Rania.


"Gak perlu banyak tanya,nanti juga tau."Jawab Bu Herman tanpa melihat Rania.


Mobil berjalan.


Tanpa banyak kata Rania hanya bisa diam.


Ia terus memandang ke arah jendela kaca mobil.Memperhatikan banyaknya kendaraan yang lalu lalang.


Mobil terus melaju tanpa Rania tau kemana arah tujuannya.


Tak lama setelah itu mobil terlihat masuk ke area parkir di sebuah rumah makan.


"Rania,cepetan turun."Bu Herman membuka pintu mobil.


"Iya buk..."Raniapun ikut turun dari mobil.


"Ikuti kita."Pinta Desy.


Rania berjalan di belakang,mengikuti dua orang di depannya.


"Kita duduk sana saja ya buk."Desy menunjuk salah satu meja yang masih kosong.


"Ayo."Bu Herman berjalan.


Sesampainya di meja tersebut mereka segera duduk.


"Mau pesen apa buk?"Desy menyodorkan buku menu.


"Ibuk pesen minum aja dulu.Makan nya nanti nunggu Taris datang dulu."Sambil melihat jam di pergelangan tangannya.

__ADS_1


"Kamu pesen apa?"Desy menoleh pada Rania.


"Aku juga minum aja mbak."Jawab Rania.


"Kamu pesen aja apa yang kamu mau.


Nanti aku bayar semua.Makanan disini enak dan berkelas,jadi jangan heran kalo mahal."Bu Herman berkata.


Rania masih tetap diam mendengar kata pedas dari Bu Herman.


Setelah beberapa menit kemudian datanglah pesanan mereka.


"Di minum dulu buk."Desy menyodorkan minuman milik Bu Herman.


"Rania,minum aja,gak usah sok takut,jarang-jarang kan bisa merasakan minuman mahal."Menyodorkan juga minuman untuk Rania.


"Iya mbak,makasih."Jawabnya dengan menunduk.


Tak lama setelahnya.


"Hai kak...hai buk...maaf ya Taris terlambat..."Seorang perempuan cantik dengan penampilan modis datang dan memeluk Bu Herman serta Desy secara bergantian.


"Iya sayang...gak papa kok...kita juga baru saja...Yuk duduk sini."Bu Herman berkata dengan nada selembut mungkin.


"Iya sini,Taris.Duh...makin cantik aja sih..."Desy ikut menimpali.


"Makasih buk...kak..."Wanita yang bernama Taris tersebut tersenyum bangga.


"O iya,ini siapa kak?"Taris menunjuk Rania.


Seketika Rania mengulurkan tangan sambil tersenyum.


Mencoba menghargai tamu dari calon mertuanya.


"Kenalin mbak,saya Rania."


Saat tangan Taris ingin menyambut uluran dari Rania,Bu Herman segera menarik tangan Taris.


"Nanti saja saya kenalin,sekarang kamu pesan minum dulu.Ok!"Ucap Bu Herman.

__ADS_1


"Ok buk..."


__ADS_2