
"Atur waktu kamu.Jika longgar dan tidak lembur,segera kabari aku.Aku gak mau kamu terus menunda-nunda."Setelah itu Dery pergi begitu saja.
Rania masih saja terus terngiang kata-kata Dery.
"Kalau dipikir-pikir memang lucu juga sih Ran,kerumah calon mertua yang jelas dekat rumahnya saja belum.Lha malah sudah kerumah pak Arya yang notabene nya adalah bos di tempat kerja."Celetuk Intan.
Ya,sekarang Rania sedang berada di kamar Intan.Menceritakan perdebatan antara ia dan Dery sore tadi.
"Ya kan bukan niat kerumah pak Arya,tapi kerumah nenek."Rania mencari alibi.
"Ya sama aja Rania....Kan neneknya pak Arya juga..."Dengan gemas Intan mencubit pinggang Rania.
"Ishh...sakit tau Tan...."Rania mengusap pinggangnya.
"Ya udah,tinggal cari waktu buat ketemu camer aja apa susahnya sih Ran..."
"Aku belum siap Tan....gimana kalo mereka minta secepatnya menikah?"
"Ya bagus dong..."
"Tapi aku belum siap..."Rania mendesah.
"Sebenernya perasaan kamu sama Dery gimana sih Ran?
Kamu belum yakin...?"
"Ya gak gitu juga Tan...Tapi kan kamu tau sendiri...masih ada adik-adikku yang butuh aku..."
"Emang kalo dah nikah Dery bakalan larang kamu kerja?"
"Ya gak tau juga sih.."
"Nah...itu...kamu jangan berfikir terlalu jauh dulu Ran...jalani aja dulu...kan semua bisa di bicarakan baik-baik..."Saran Intan.
"Iya juga sih...Ya udah deh,aku akan atur waktu kerumah mas Dery."Rania tersenyum.
__ADS_1
Seakan mendapat angin segar.
"Nah...gitu dong..."
"Makasih ya Tan,kamu emang sahabat terbaikku."Rania memeluk Intan.
Ada rasa yang mencubit hati Intan saat itu.Berusaha baik-baik saja itu tidaklah mudah.
Tapi Intan harus bisa mengikhlaskan yang terbaik untuk orang yang ia sayang.
Meski kebahagiaannya bukanlah bersamanya.
"Udah malem,sana gih balik ke kamar.
Aku mau tidur,ngantuk."Intan melepas pelukan Rania.
"Ngusir nih...ya udah deh.by..."Rania segera berlalu.
πΌπΌπΌ
Beberapa hari kemudian...
Dery sudah menunggunya di ruang tamu.
"Udah siap?"Tanya Dery sambil melihat Rania.
"Aku...aku gugup nih mas..."Kedua tangannya saling menggenggam.Mencoba mengurangi kegugupannya.
Dery berjalan mendekat lalu melepaskan tautan kedua tangan Rania dan segera menggandeng dengan tangannya.
"Kamu tenang aja,ada aku."Melepaskan salah satu tangan Rania lalu mengusap bahunya.
Rania mengangguk pasrah.
Mereka bergandengan tangan keluar dari rumah kost.
__ADS_1
"Intan,aku berangkat dulu ya..."Pamit Rania setengah berteriak.
"Ok,semangat...!"Intan menyembulkan kepalanya dari pintu kamar sambil mengepalkan tangannya lalu di tarik ke atas.
Menguatkan Rania meski hatinya sendiri rapuh.
Namun ia masih mendoakan yang terbaik untuk Dery dan Rania.
Rania membonceng di belakang.
Karna jarak rumah dan kost hanya dekat maka Dery naik sepeda motor.
Motor berjalan pelan.Dery tersenyum,meski ia belum yakin dengan ibu dan kakaknya,tapi ia akan berusaha memberi pengertian.Bahwa hanya Rania yang ia inginkan.
Dery merasa bahagia,karna hubungannya dengan Rania akan maju satu langkah.Dan tinggal menunggu satu langkah lagi,mereka akan sah.
Sedang Rania,ia mempersiapkan hatinya.
Jika memang jodoh itu datang secepat ini,ia akan berusaha menjalaninya.
Bersama Dery,meski hatinya belum begitu yakin,tapi yang ia tau Dery itu baik.
Dery selalu bisa menjaga Rania selama ini.
Mungkin memang jodoh terbaiknya adalah Dery.
Semalaman ia sudah memikirkan hal itu matang-matang.
Ia akan menerima apapun keputusan keluarga Dery nantinya.
πΌHayo....siapa yang udah gak sabar nih...
Kira-kira apa yang akan terjadi selanjutnya ya...
πππ
__ADS_1
Maaf ya...diriku hanyalah seorang ibu rumah tangga yang sedang belajar manyalurkan hobinya.
Jika banyak kurangnya mohon maaf ya...