Pengagum CEO Tampan

Pengagum CEO Tampan
Puncak kebun teh


__ADS_3

Setelah menunggu beberapa menit Rania tak kunjung kembali.


Membuat Arya merasa gerah berada di dalam mobil.


Akhirnya ia keluar mencari udara sejuk.


Beberapa menit selanjutnya Arya belum juga melihat Rania kembali.


Mengambil hape dari saku celananya dan ingin menghubungi Rania.


Panggilan tersambung namun Rania tak menjawabnya.


Arya mulai bingung,karna ia sama sekali tak tau menahu soal daerah sini.


Memanggil beberapa kali hasilnya tetap sama,hingga tak lama kemudian yang di tunggu akhirnya muncul juga.


Arya ingin marah karna merasa khawatir sama Rania,namun ia urungkan niatnya saat melihat Rania membawa beberapa kantong belanjaan.


"Kenapa lama sekali?"Tanya Arya saat berada di samping Rania.


"Eh mas Arya keluar,maaf ya nunggu lama."Tersenyum manis menampakkan lesung pipinya.


"Beli apa aja,lama banget."


"Ini."Rania menunjukkan belanjaannya.


"Banyak banget,sini taruh di bagasi aja."Membukakan pintu bagasi lalu memasukkan belanjaan Rania.


"Ini mas,beli sesuatu yang nanti bisa di masak di rumah.Di sini pasar terlengkap,kalau nanti sampai di puncak cuma ada tukang sayur lewat."Jawab Rania sambil memasukkan satu persatu belanjaan yang sudah di belinya.


Menutup kembali bagasi lalu segera kembali masuk mobil.


"Udah yang mau dibeli kan,kita lanjut lagi ya..."Kembali bertanya saat keduanya sudah kembali duduk.


"Iya."


Mobil pun kembali melaju.Perjalanan kali ini sudah mulai memasuki awal area puncak.Yang berarti jalannya mulai berbelok-belok dan naik turun.


"Mas,tadi aku beli siomay ikan nih.Mas mau?"Rania membuka bungkus makanan.


"Gak ah,kamu aja."Jawabnya sambil terus sibuk mengemudi.


"Ini enak banget lho mas,cobain deh."Rania menusuk makanan itu lalu menyuapkan ke mulut Arya.


Arya yang tadinya tidak mau,begitu merasakan satu ia pun jadi menikmati beberapa suap selanjutnya.


"Enak kan mas?"Giliran Rania makan disela suapan Arya.


"Lumayan."mengangguk senang.


"Mas Arya pernah makan makanan seperti ini?"Tanya Rania penasaran.


"Belum sih,baru kali ini."Jawabnya jujur.Selama ini ia hanya tau makanan siomay ikan dari internet saja,tapi kalau makan,kali ini perdana buatnya.


Mereka melanjutkan perjalanan sambil makan dan berbincang.

__ADS_1


Hingga tak terasa mereka sampai di daerah puncak.


Terlihat hamparan kebun teh di sepanjang perjalanan.Arya takjub melihatnya.


"Wow...asli,ini indah banget pemandangannya,udaranya pun sejuk sekali."Ucapnya melihat sekeliling.


"Iya,mas suka?"Tanya Rania yang melihat Arya sangat antusias melihat perkebunan teh.


"Suka banget."Mobil berjalan lambat karna ternyata di puncak pun macet.


Weekend banyak orang yang pergi liburan.


Jalanan di kota nampak lengang namun sebaliknya,di pegunungan justru ramai dan macet.


"Ternyata di puncak justru macet ya."


"Iya mas,kata dek Tomy sekarang sering macet.Semenjak mulai banyak dibuka tempat wisata jadi ramai."Rania ingat betul jika dulu saat ia masih kecil,yang ada hanya hamparan kebun teh yang nampak.Dengan beberapa pegawai yang memetik daun teh setiap beberapa hari sekali.


"Sekarang sudah banyak perubahan mas.Dalam beberapa tahun belakangan ini makin banyak di buka tempat wisata di kebun teh."


"Ya bagus juga lah,untuk memperkenalkan daerah puncak sini jadi tempat wisata alami.Juga bisa jadi ladang usaha bagi orang-orang sekitar.Lihat saja,banyak warung dadakan di pinggir jalan."Arya menunjuk jejeran warung di sepanjang jalan yang ia lewati.


"Iya mas."


"Kita mampir dulu boleh kan,aku pengen menikmati udaranya yang segar."


"Emmt...boleh mas."Rania mengangguk.


"Sebelah sana ya."Arya menunjuk sebuah puncak.


"Ok!"Rania menarik jari jempolnya sambil tersenyum.


"Kita naik yuk."Ajak Arya.


"Iya."Tangan Rania sudah digenggam oleh Arya.Di ajaknya naik ke puncak kebun teh.


Melewati tangga alami yang berasal dari tanah.


Melalui jalan setapak di tengah-tengah pohon teh yang tingginya kira-kira hanya sebatas perut orang dewasa.


Sesampainya di puncak kebun teh langsung di suguhi sebuah tanah lapang yang banyak di tumbuhi rumput ilalang.


Lapangan kecil di tengah-tengah pohon teh.


Melihat betapa indahnya pemandangan dari puncak.Terlihat betapa luasnya perkebunan teh yang seolah tertata rapi dengan posisi tanah yang miring dan berbukit.


Dari puncak juga bisa melihat hingga jauh ke arah kota.


Yang terlihat begitu banyak bangunan yang berjajar rapi.Jika malam tiba sudah bisa di bayangkan betapa indahnya gemerlap lampu di kota.


"Ahh...indahnya..."Menghirup udara segar sebanyak-banyaknya lalu di hembuskan dengan penuh rasa syukur.


"Iya mas."Rania merentangkan kedua tangannya menikmati suasana yang sangat damai.


Arya mendekat dan memeluk Rania dari belakang.Rania yang tadinya memejamkan mata jadi membuka matanya lebar-lebar.

__ADS_1


Melihat di sekeliling tempat yang terdapat banyak pengunjung lainnya.


"Mas...malu.Banyak orang."Rania berbisik di telinga Arya yang sedang menyandarkan kepalanya di pundak Rania.


"Biarin aja.Emang kenapa?"


"Ya malu lah mas..."Rengeknya lagi minta di lepaskan dari pelukan Arya.


"Kita kan suami istri."Arya tak bergeming,justru mengeratkan pelukannya.


"Ya mana mereka tau kalau kita suami istri."Masih dengan berbisik.


"Apa perlu aku teriak mengumumkan bahwa kamu istriku,milikku,heemm?"


Rania mencubit tangan Arya yang melingkar di perut Rania.


"Awww...kok di cubit?"Arya pura-pura kesakitan.


"Habisnya mas aneh,pakai teriak-teriak segala."


"Ya sudah,nikmatin aja kalau gitu."


Rania pasrah dengan sikap baru Arya yang mulai menunjukkan pada umum tentang hubungan mereka berdua.


Arya mengambil hape lalu menyalakannya.


Mengambil foto beberapa kali dengan posisi yang belum berubah dari sejak beberapa menit yang lalu.


"Senyum dong..."Arya kembali mengambil foto dan Rania pun tersenyum.


Dengan jail nya tiba-tiba Arya mencium pipi Rania dan mengambil foto lagi.


Rania hanya bisa geleng-geleng kepala dengan sikap Arya.


Kemudian Arya menarik tangan Rania mengajaknya duduk di tanah yang beralaskan rumput-rumput liar.


Arya kembali mengambil foto lagi dengan posisi yang berbeda.


Seolah tak ingin kehilangan moment itu,Arya mengulang foto beberapa kali.


Setelah puas menikmati udara segar di puncak mereka berdua turun kembali.


"Kita ngopi dulu yuk."Ajak Arya menunjuk sebuah warung yang terletak di dekat bukit.


Tanpa menunggu jawaban dari sang istri Arya mendorong tubuh Rania menuju warung itu.


Duduk pada tempat lesehan yang terletak di samping kebun teh.Berhadapan dengan pemandangan di luar.


Melihat buku menu yang di sodorkan oleh penjualnya.


Rania langsung memesan kopi panas serta mie rebus.Arya yang melihatnya pun tertarik ingin memesan sama seperti Rania.


"Mas punya sakit maag,jadi jangan minum kopi sambil makan mie rebus.Lebih baik memesan sate saja."Usul Rania.


"Tapi sepertinya enak,pas dingin begini makan mie rebus."Ucap Arya.

__ADS_1


"Sate juga enak kok.Mas Arya bisa memilih sate ayam atau sate kelinci."


"Baiklah,pesan sate ayam dan sate kelinci sekaligus.Aku ingin menikmati keduanya."Rania pun menuruti keinginan sang suami.


__ADS_2