
"Iya...nanti malam.Tapi sekarang makan dulu ya."Ucap Bapak yang melihat Nabila begitu senang.
Ibu datang membawa nasi dan juga sayur.
Rania pun berdiri lalu pergi ke dapur membantu ibu menyiapkan makanan.
"Maaf ya buk tadi Nia gak bantuin.Ketiduran saking capeknya."Rania mengambil piring di rak.
"Iya gakpapa.Ibu tau pasti kamu capek.Tadi di bantu Nabila kok.Tapi ayamnya Ibu masak begini,suami kamu mau gak ya?"Mengangkat piring yang berisi ayam di bumbu kecap.
"Iya gakpapa.Mas Arya gak pilih-pilih makanan kok buk."
"Di sana kamu masak gak?"Tanya sang Ibu.
"Hehehe...cuma bantuin koki buk.Itupun kadang-kadang.Mama sama Nenek sering ngelarang Rania.Di bilangnya nanti takut kecapek'an.Malah kadang di ajak nenek jalan-jalan pagi."Cerita Rania mengingat kebiasaannya di rumah Arya.
"Kamu harus banyak bersyukur nduk...punya suami dan keluarga yang begitu sayang sama kamu."Ibu bahagia mendengar cerita anaknya.
"Iya buk..."Rania pun masih tak menyangka jika dia akan menemui orang-orang yang begitu baik padanya.
"Ya sudah yuk...kasihan suami kamu pasti lapar.Tadi kalian melewatkan makan siang."
"Enggak kok buk...tadi sempet jajan di kebun teh."
"Oh...ya syukur kalau gitu."
Ibu dan Rania sibuk menyiapkan makan.Setelah semua siap mereka makan bersama.
Karna meja dan kursi hanya terbatas mereka lebih memilih makan di tempat lesehan di depan tv.
Menggelar tikar dan duduk mengelilingi makanan.
"Maaf ya nak,Ibu tidak pandai memasak.Jadinya hanya bisa di masak bumbu seadanya seperti ini."Ucap Ibu saat mulai mengambilkan makan untuk Bapak.
"Gakpapa Buk...Arya gak masalah kok.Justru Arya minta maaf sudah bikin Ibu repot."Ucapnya sungkan.
"Yo ndak repot to nak...Ibu seneng kalian mau kesini.Ibu sudah biasa masak."
"Iya...gak usah sungkan.Tapi biasanya Ibumu jarang masak ayam sama daging.Karna biasanya kita cuma makan sama sayur dan lauk tahu tempe.Itupun kalau ada."Imbuh Bapak.
__ADS_1
"Iya lho pak...makanya itu...Ibuk takut kalau nanti bumbunya gak pas gitu masak dagingnya.Ini aja tadi yang belanja ya mereka kok pak...Ibu tinggal masak."
"Gakpapa Buk..."Arya menerima piring yang di sodorkan Rania.
"Mas mau yang mana?"Menunjuk beberapa lauk hasil masakan Ibu.
"Yang mana aja gakpapa."Akhirnya Rania menambahkan beberapa potong daging sapi ke dalam piring Arya.
"Lauknya banyak banget.Nabila jadi bingung mau makan yang mana."Celoteh Nabila.
Ia selalu bisa membuat semua tertawa dengan sikap polosnya.
"Cobain aja semuanya."Usul Arya.
"Kalau semua Nabila bisa kekenyangan kak..."Ucapnya polos.
Hahaha...
Semua kembali tertawa karna ucapan Nabila.
"Ya sudah,ambil yang kamu inginkan.Sedikit dulu,nanti kalau suka bisa ambil lagi.Ingat,jangan menyisakan makanan di piring."Pesan Bapak.
"Iya pak..."Nabila mengambil daging seperti yang Rania ambilkan untuk Arya.
Selesai makan mereka kembali ngobrol sambil menunggu waktu isya' tiba.
Tomy mendekat pada Rania sambil membawa sebuah buku tabungan.
Sebenarnya Tomy sungkan saat melihat Arya yang tiduran di samping Rania dengan kepalanya yang di letakkan di kedua paha Rania.
Sedang Bapak dan Ibu yang melihat kemesraan anaknya merasa sangat bahagia.
Mereka hanya bisa saling pandang sambil tersenyum melihat hal itu.
"Mbak...Tomy mau bicara."Tomy memberanikan diri bicara pada Rania.
"Mau bicara apa dek...?"Tanya Rania.
Sebenarnya Rania merasa malu dan juga sedikit risih dengan tingkah suaminya.
__ADS_1
Namun apa yang bisa dia lakukan?Ia takut jika menolak Arya akan marah lagi.Dan ujung-ujungnya takut jika Arya ngambek seperti tadi.Rania tak ingin malu untuk kedua kalinya.
Akan lebih memalukan jika Arya ngambek di depan orang tuanya bukan?Untuk itu Rania hanya bisa diam dengan segala tingkah unik terbaru dari suaminya.
"Bicara saja dek...gakpapa kok.Gak usah sungkan sama mas."Arya ikut bicara saat melihat Tomy yang sepertinya sedang diam dan berpikir sesuatu.
"Ini uang tabungan Tomy,hasil uang kiriman mbak Nia setiap bulan."Tomy menyodorkan buku tabungan itu ke tangan Rania.
Rania pun membukanya.Ia terbelalak kaget saat melihat nominal dari buku tersebut.
Bagi Rania uang itu cukup banyak,mengingat ia yang tak tentu bisa mengirimkan banyak uang.
Hanya saja setelah Rania menikah dengan Arya,kebutuhan sabun dan lain-lain yang biasanya ia beli sudah tersedia lebih dari cukup di rumah Arya.Jadinya ia bisa mengalihkan uang tersebut untuk tambahan kiriman ke Tomy.
Ya,Tomy lah yang selama ini di percaya membawa buku tabungan dari Rania.Karna selain pasti Tomy yang paham soal ATM juga karna Tomy lah yang bisa naik sepeda motor.
Jadi bisa dengan mudah Tomy mengambil uang.
Meski begitu Tomy termasuk orang yang bertanggung jawab.Ia tak pernah bermain-main dengan amanah yang sudah kakaknya berikan.Ia selalu memberitahukan pada Bapak ibu tentang berapa saja uang yang Rania kirimkan,dan berapa saja yang harus di ambil,serta apa saja yang harus di dahulukan.
"Banyak banget uangnya dek."Rania heran.
"Lhoh...suami kamu gak bilang kalau dia juga mengirimkan uang setiap bulan pada kita nduk?"Kali ini bapak yang bertanya.
"Maksudnya gimana pak,mas?"Rania melihat Bapak lalu juga melihat Arya.
"I-itu.Gakpapa kok.Aku cuma nambahin sedikit.Buat jajan adek-adek."Arya ketahuan jika ia diam-diam pun membantu keuangan keluarga Rania.
"Mas Arya gak pernah bilang apa-apa soal ini?"Rania sedikit marah perihal Arya yang tak mau berkomunikasi soal itu.
"Maaf sayang..."Ucap Arya seolah tanpa bersalah.
"Tapi mas,mas Arya gak seharusnya seperti ini.Nia kan masih kerja,masih punya penghasilan.Semua kebutuhan Nia juga sudah mas dan keluarga mas cukupi,jadi soal keluarga Nia,harusnya Nia saja yang pikirkan."Protes Nia tak terima.
"Sayang,dengerin aku dulu.Bukan maksudku buat rendahin kamu,bukan juga niatku buat sembunyikan semua ini dari kamu.Aku hanya tidak mau kalau kamu menolak niat baikku.Padahal itu gak seberapa kok."Arya duduk dari tidurnya lalu menggenggam tangan Rania.Berusaha membujuknya.
Rania sedikit menurunkan ego nya.Yang sebenarnya ia ingin marah pada Arya karna tidak terus terang soal hal sebesar itu.
"Bukan begitu mas,hanya saja aku tidak mau memasukkan beban keluargaku pada rumah tangga kita.Mereka semua ini tanggungjawab ku."Arya mendengarkan penjelasan Rania.
__ADS_1
"Nia,kamu istriku,jadi sudah pasti mereka juga keluargaku sekarang.Apa salah aku membantu keluargaku sendiri?Kamu tidak menganggap aku suami kamu?"Lagi lagi Rania salah.Ucapannya yang tadinya ingin marah pada Arya justru malah sebaliknya.Arya lah yang marah padanya.Dengan alasan yang di putar balik.Jadilah Rania hanya bisa mendengus kesal dengan sikap Arya.