Pengagum CEO Tampan

Pengagum CEO Tampan
Mulai baikan


__ADS_3

Rania masih terus mengikuti Intan dari belakang.


"Intan...kamu gakpapa kan?"Rania kembali mengingat suara orang yang sedang muntah di toilet tadi.Yang ternyata dia adalah Intan.


"Gakpapa kok."Tanpa menoleh sedikitpun Intan terus saja berjalan.


"Tan....aku pengen ngmong."


"Aku capek Rania.Mau tiduran sebentar."


Namun Rania tak menyerah begitu saja.


Ia masih terus mengikuti kemanapun Intan berjalan.


Rania berpikir mungkin saja Intan sedang marah padanya.


Karna sudah ketahuan membaca buku diary nya.Untuk itu ia berusaha menghindar dari Rania.


Intan berhenti di sebelah meja kerjanya.


Ia rebahan di lantai dengan alas karton bekas.


Rania pun mengikuti apa yang Intan lakukan.


Ia letakkan kotak makannya dan ikut tiduran di sebelah Intan.


"Tan...aku mau ngomong sama kamu."


Hening.


Tak ada suara apapun sebagai jawaban Intan.


Ia memejamkan mata,supaya Rania mengiranya tidur sungguhan.


"Aku minta maaf."


Rania pun diam untuk sesaat.


Menarik nafas dalam-dalam lalu di hembuskan.


Rania kembali bicara.Meski tak ada jawaban dari Intan.Tapi ia yakin jika sebenarnya Intan tidak sedang benar-benar tidur.


"Aku minta maaf karna sudah lancang berani baca buku diary kamu.Tapi beneran,aku gak ada niat buat baca.Pas waktu itu aku gak sengaja liat buku kamu yang terbuka."Jeda sejenak.


"Tadinya mau aku tutup.Tapi aku penasaran pas baca sedikit dan ada nama...."Rania tak kuasa menyebutkan nama Dery.


"Aku minta maaf,jika selama ini secara tidak langsung sudah melukai hati kamu.Bodohnya aku yang tidak mengerti perasaan kamu."Masih terus bicara meski tak dapat respon apapun dari Intan.


"Dan sekarang...aku sama dia sudah berakhir Tan."Mata Rania mulai berkaca kaca bila mengingat hal itu.


"Maksud kamu?"Intan kaget.Secara reflek dia membuka mata lalu memutar tubuhnya menghadap Rania.


"Iya...sudah selesai."

__ADS_1


"Jangan bilang karna kamu baca buku itu terus kamu kasihan sama aku?"Intan duduk menunggu jawaban Rania.


"Enggak...Sebenarnya waktu itu aku ke kamar kamu pengen cerita soal itu."


Intan terus saja menatap Rania.Ia tak mau karna persahabatan Rania memutuskan untuk mengalah dengan Dery.


Mengingat betapa Dery sangat menyayangi Rania.Dari sikapnya yang selalu ingin melindungi dan tak ingin jauh dari Rania.


Serta tatapan memujanya.


Semua itu cukup membuktikan betapa besar rasa cinta Dery terhadap Rania.


"Kamu lagi ada masalah sama dia?"


"Aku mengalah Tan...bagaimanapun juga aku sama dia gak bakal bisa bersama."Menghela nafas panjang.


"Kenapa gitu,alesannya?"


"Ibunya gak merestui kami.Apa jadinya pernikahan tanpa restu orang tua."


"Itu bukan sebuah alasan.Toh yang menjalani kalian,toh dia cinta sama kamu.Nanti juga kalo kalian dah nikah pasti ibunya juga mau gak mau bakal terima kamu.Yang ada kamu yang harusnya berjuang meyakinkan ibunya."Kekeh Intan tak ingin Rania putus dengan Dery.


"Mungkin itu memang benar Tan...tapi aku gak mau sebuah hubungan yang berawal tanpa restu orangtua."


"Itu bukan cuma alasan kamu aja kan?"


"Pliis...tolong hargai keputusan aku Tan..."Rengek Rania.


"Itu sih terserah kamu.Tapi apa itu semua sudah kamu pikirkan matang-matang?Apa kamu tega ninggalin dia yang sudah sangat mencintai kamu sedalam itu?"


"Kamu masih meragukan cintanya sama kamu?Butuh pembuktian seperti apa lagi sih Ran biar kamu bisa percaya dengan cintanya sama kamu?Kamu gak tau atau pura-pura gak tau?"Intan masih gemes dengan sikap acuh Rania tentang perasaan Dery.


"Aku juga gak tau,tapi yang aku rasa,emang aku harus melupakan dia."


"Terserah sama kamu.Tapi jika aku sampai tau kalau keputusan yang kamu buat ini gara-gara aku,aku bakalan kecewa banget sama kamu."Intan terdiam sesaat.Menahan rasa marah mereka saling membisu.


Setelah jeda sejenak Intan bicara dengan nada rendah.


"Rania....sebenarnya aku juga pengen minta maaf sama kamu."Memberanikan diri untuk mengurangi rasa bersalahnya.


"Kenapa kamu minta maaf Tan?"


"A-aku minta maaf,aku..."


"Ssstt....kamu gak boleh nyalahin diri kamu.Kamu gak salah kok Tan.Kita tidak bisa memilih,pada siapa kita akan jatuh cinta.Dan harus kamu ingat,aku putus sama dia bukan karna kamu."Rania menggeleng dan menutup mulutnya dengan jari telunjuknya.


"Sekarang kita baikan bukan?"Mengulurkan jari kelingking di depan tangan Intan.


"Iya,kita baikan."Intan menyambut simbol persahabatan mereka dengan mengaitkan jari kelingkingnya.


"Kamu tau gak,aku kangen banget sama kamu.Biasanya kita selalu barengan."


"Andai kamu tau apa yang terjadi sama aku dan Dery,apa kamu masih akan mau dekat sama aku seperti ini Rania..."Intan terdiam.

__ADS_1


"Kamu gak kangen sama aku Tan?"Rania cemberut.


"Kangen juga sih.Kamu yang gak kangen.Kenapa pakek pindah segala?"Protes Intan.


"Aku cuma lagi pengen tenangin diri dulu Tan.Belum siap ketemu dia.Selain itu juga aku malu sama kamu."


"Malu kenapa?"


"Aku malu,aku sudah gak peka sama kamu.Aku hadir dan tiba-tiba mengagetkan kamu dengan hubunganku sama dia.Pasti itu sangat menyakitkan buat kamu."Akhirnya Rania berani mengungkapkan rasa bersalahnya.


"Rania...plis,jangan bahas soal ini lagi.Aku udah gak ada perasaan apa-apa sama dia.Perasaan itu hanya perasaan kagum,bukan cinta."


Mereka sama-sama terdiam beberapa saat.


Sampai pada akhirnya Rania teringat sesuatu.


"Intan,kamu di toilet tadi kenapa?"


"Gakpapa."Intan buru-buru rebahan kembali.


Takut Rania terus menanyakan soal tadi.


"Kita tidur yuk."Ajaknya guna mengalihkan perhatian Rania.


Rania pun ikut tidur sebentar bersama Intan hingga ia lupa untuk makan.


Pikirannya masih belum menentu.Semoga saja keputusan yang ia ambil memanglah keputusan yang terbaik.


Ia harus bisa mulai melupakan Dery.


Meski memang terasa lumayan berat.


Bagaimanapun juga Dery lah yang menemaninya selama ini.


Ia yang selalu perhatian padanya.


Dan ia juga sudah menjaga Rania selama lebih dari satu tahun.


Tentu saja melupakan semua itu tidaklah mudah.


Namun ia juga harus bisa berpikir lebih luas.Jika ia memaksakan untuk tetap bersama,akan ada banyak hati yang terluka.


Tidak hanya tanpa restu dari ibunya Dery.


Tapi juga hati Intan yang ia jaga.


Meskipun Intan selalu berkata ia tidak apa-apa.


Tapi Rania yakin,dalam hatinya menyimpan luka.


Mungkin memang takdir tak menyatukannya dengan Dery.


Hanya saja,Rania masih bingung untuk mengatakan semuanya pada kedua orangtuanya di rumah.

__ADS_1


Ia belum berani pulang dan berterus terang tentang hubungannya dengan Dery.


Setiap kali telfon,jika orang tuanya menanyakan Dery,ia masih mengatakan jika mereka baik-baik saja.


__ADS_2