Pengagum CEO Tampan

Pengagum CEO Tampan
Kekhawatiran Arya


__ADS_3

Sebelum pulang kembali ke kost,nenek mengajak Rania untuk pergi makan ke restoran langganan nenek Adiyasa.


Karna lagi lagi Rania tak bisa menolak,akhirnya ia memutuskan untuk mengikuti keinginan nenek.


Sesampainya di restoran nenek segera memesan makanan.


Karna Rania belum terbiasa makan di restoran mahal,ia kurang paham dengan menu yang asing baginya.


Untuk itu Rania memutuskan untuk memesan makanan yang sudah di rekomendasikan oleh nenek.


Sambil menunggu menu makanan datang mereka berdua ngobrol ringan.


Sedikit menceritakan tentang rancangan acara pernikahan Arya besok.


Rania yang jadi pendengar setia nenek.


Meski terlihat nenek kurang semangat menceritakan tentang acara besar besok.


Di tangah keasyikan mereka ngobrol,ada seorang ibu-ibu yang datang menghampiri nenek.


"Bu Adiyasa,apa kabar?"Wanita tersebut mendekati nenek dan menjabat tangannya.


"Baik,kamu Rima anaknya Bu titik bukan?"


Tanya nenek sambil mengingat-ingat.


"Ah,iya Bu...rupanya daya ingat Bu Adiyasa masih tajam ya..."Perempuan yang bernama Rima tadi tersenyum anggun.


"Kesini sama siapa?"Nenek menoleh kanan kiri Rima yang terlihat sendiri.


"Sama anak kok Bu...Oya,katanya Arya mau menikah ya?Ini calon istrinya?"Tanya Bu Rina sambil melihat Rania.


"Eh,bukan Bu..."Rania menggelengkan kepalanya.


Nenek tersenyum melihat keterkejutan Rania.


"Bukan...Sebenarnya sih maunya begitu..."Jawab nenek dengan bergumam namun masih terdengar oleh Rania dan Bu Rima.


"Oh...bukan ya.Saya kira ini calon cucunya nenek.Cantik soalnya.Cocok juga sama Arya."Celetuk Bu Rima.


"Iya,ini sudah ku anggap cucu sendiri."


"Terus kapan Bu pernikahannya berlangsung?"Tanya Bu Rima penasaran.


"Masih nanti,pasti kalo sudah dekat di undang kok."


"Iya,jangan lupa ya Bu...meski ibu sudah gak ada tapi jangan sampai putus persaudaraan."


"Iya,pasti itu."


"Ya sudah Bu..saya permisi dulu.Nanti anak-anak nyariin lagi."


"Iya..."


Bu Rima berlalu dari tempatnya berdiri di samping nenek.


"Saudara nek,kok besok gak di undang?"Rania mencoba bertanya.


"Bukan...dulu Bu Titik temannya nenek.Ibunya bu Rima tadi.Tapi Bu Titiknya sudah meninggal."


"Ow...jadi besok gak di undang?"


"Ya enggaklah Rania...besok kan acara ijab Qabul.Hanya keluarga dekat saja sebagai saksi.


Yang lainnya di undang nanti kalau pas resepsi."


Rania terdiam sambil mengangguk.


Ia kembali berpikir.

__ADS_1


Jadi seprivasi itu acara besok.


Tapi kenapa dia harus di undang.


Itulah yang terus bertanya-tanya di dalam hati Rania.


Lalu jika seperti itu,apa yang akan ia lakukan nanti jika berada di tengah acara itu.


Baru memikirkan saja Rania sudah tak bisa membayangkan.


Sebenarnya apa pentingnya ia berada di acara tersebut.


Kenapa ia harus datang.


Di tangah perdebatan batinnya Rania kembali di tepuk tangannya oleh nenek.


"Rania,besok kamu datang agak pagi aja ya.


Sekitar jam enam pagi biar di jemput pak sopir.


Kamu biar di make up sekalian oleh MUA yang datang kerumah.Ini gaunnya biar nenek bawa aja."


"Eh nek...gak usah nek.Untuk apa Rania di make up MUA segala.Rania bisa dandan biasa aja.Lagipula Rania bingung besok mau ngapain disana."Menurunkan nada suaranya di akhir kalimat.Menandakan ia yang sedang memikirkan tentang acara besok.


"Hei Rania,lihat nenek.Nenek sudah anggap kamu cucu nenek sendiri.Jadi kamu harus datang di acara pentingnya keluarga Adiyasa.Jadi gak ada alasan kamu nolak datang!"


"Tapi Nek...Rania malu..."Menutup wajahnya dengan kedua tangan.


"Malu,kenapa mesti malu,malu sama siapa?Besok hanya ada keluarga inti saja kok.


Pokoknya besok biar di jemput pak sopir.titik!"


"Tapi Nek,Rania bisa naik motor.Rania kan sudah punya motor."


Ya,hasil dia menghemat dan menabung sudah ia belikan motor bekas.


Agar memudahkannya untuk aktifitasnya.


Rania hanya bisa menghela nafas pasrah akan keputusan yang nenek buat.


Tak lama setelahnya datang makanan yang sudah mereka pesan.


Mereka makan dengan lahap.


Setelah acara dari butik yang cukup menguras waktu membuat mereka merasakan lapar di jam makan siang yang sudah terlewat jauh.


Setelah selesai makan mereka memutuskan untuk pulang.


Mengantarkan Rania pulang ke kost lalu setelahnya nenek juga pulang ke rumah bersama sang sopir.


Sesampainya di kost Rania sudah merasa sangat lelah dan ngantuk.


Karena hari sudah sore Rania memutuskan mandi sekalian supaya segar.


Selesai mandi ia rebahan di atas tempat tidur.


Sambil masih memikirkan tentang hari esok yang menurutnya akan sangat membuatnya merasa tak nyaman.


Berada di tengah keluarga Adiyasa pada saat acara penting.


Ia berpikir keras tentang apa yang bisa ia lakukan besok.


Lelah berpikir,rasa kantuk yang tadi berubah segar setelah mandi,kini kembali terasa.


Kemudian ia memejamkan mata masih dengan pikirannya yang melayang pada acara besok.


Namun tak lama kemudian,terdengar suara dengkuran halus yang menandakan bahwa Rania sudah tertidur dengan enaknya.


Di lain tempat Arya sedang mondar mandir di dalam kamarnya.

__ADS_1


Sudah tiga hari ini ia dipingit.


Tidak boleh beraktifitas di luar rumah ataupun bertemu dengan calon istrinya.


Seminggu sebelum hari besok semuanya sudah selesai ia urus untuk keperluan pernikahannya dengan Sesil.


Dan saat di pingit ia masih selalu intens berkomunikasi meski hanya lewat hp.


Mereka masih bisa chating maupun vidiocall.


Namun entah kenapa,perasaannya merasa tak tenang sejak pagi tadi.


Nomer Sesil sulit di hubungi.


Tak biasanya Sesil mematikan nomer hp nya.


Biasanya Sesil yang selalu lebih dulu rutin chating Arya.


Di cobanya menghubungi nomer telpon rumah berkali-kali.


Nyambung tapi tak di angkat.


Arya semakin khawatir terhadap keadaan Sesil.


Ia meminta pertolongan temannya untuk mencaritahu ke rumah Sesil.


Namun hingga malam hari Arya mendapat laporan jika rumah Sesil terlihat sepi.


Tak ingin berpikir buruk ia mencoba menetralkan perasaannya.


Ia akan menunggu hingga esok hari.


Jika Sesil masih sulit di hubungi,ia akan minta bantuan pada papanya.


Berkali-kali ia melihat hp nya.


Tak sengaja melihat kontak Rania disana.


Tanpa sadar ia memencet tombol hijau.


Panggilan pun tersambung.


Rania yang sedang tidur terganggu dengan suara dering hpnya.


Di lihatnya tertera nama pak Arya yang sedang memanggil.


Dengan masih mengantuk Rania mengangkat panggilan yang masuk.


"Halo assalamualaikum..."Dengan nada lemah karna masih ngantuk.


"Waalaikumsalam.Besok jangan lupa datang."Ucap Arya di seberang sana.


"I-iya pak Arya,baik."


Tut Tut Tut...


Terdengar suara telphon terputus.


Rania heran,ia melihat layar hp nya yang mulai meredup.


"Aneh banget bos dingin satu ini.Bangunin orang tidur cuma mau bilang gitu doang."Rania menggerutu.


Dilihatnya jam di meja sebelah ranjangnya.


Matanya terbelalak seketika,saat ia sadar ternyata sudah tengah malam.


Ia segera berjalan ke luar kamar.


Menuju ruang tamu yang gelap gulita.Di nyalakan lampu kecil di sudut ruangan lalu mengunci pintu utama.

__ADS_1


Setelah itu ia kembali ke kamar dan melanjutkan tidurnya.


__ADS_2