Pengagum CEO Tampan

Pengagum CEO Tampan
Rencana pulang


__ADS_3

Acara syukuran akhirnya selesai juga.


Karna hari ini hari Sabtu dan kebetulan sudah gajian,Rania berencana ingin pulang ke rumah.


Sesampainya di kost Rania ambil tas dan akan langsung pulang.


Jika kesorean takut sudah tidak ada bus yang menuju ke desanya.


"Intan,aku pulang dulu ya..."Pamit Rania.


"Jadi pulang beneran?"


"Jadi dong.Mumpung gajian.Mau ngasih uang buat bayar sekolah Adek."


"Yaahh...aku sendirian dong...."


Rania dan Intan memang akrab.


Mereka merasa sama-sama cocok.


Sehingga mereka saling curhat tentang kehidupan masing-masing.


Hanya satu yang sama-sama masih mereka sembunyikan.


Rania belum cerita kalau dia sudah jadian sama Dery.


Sedangkan Intan,dia pun masih merasa malu untuk bilang kalo dia suka sama Dery.


Intan masih menyimpannya rapat.


Ia hanya bisa mengagumi dalam diam.


Mereka terhubung dalam satu orang.


"Makanya cari pacar biar gak sendirian...hehehe..ya udah aku berangkat dulu ya.Keburu sore."


"Kayak situ dah punya pacar aja.Ya udah sana gih.Salam buat keluarga dirumah ya.Hati-hati di jalan."Pesan Intan.


Rania jalan kaki menuju jalan raya.


Sebelum naik bus,ia mampir ke ATM terlebih dulu.

__ADS_1


Selesai ambil uang Rania pergi ke halte,menunggu bus yang akan membawanya pulang.


Saat duduk di halte,ia melihat ada mobil berhenti di hadapannya.


Seseorang turun dari mobil dan berjalan ke arah Rania.


"Mas Dery."Rania tak menyangka bisa ketemu Dery disini.


"Mau pulang?kok gak bilang?"


"Eh,em,iya mas.Mau pulang.Ini lagi nunggu bus.Mas Dery baru pulang?"


"Iya,kok gak bilang kalo mau pulang."


Kemarin Dery memang berpesan,kalo Rania pulang harus kasih kabar ke Dery.


Tapi Rania takut,jika Dery tau ia akan ikut pulang.


"Aku anterin yuk."


"Nah kan bener...aku kan takut...takut beneran di lamar sekarang."Batin Rania.


"Gak capek kok.Kan bawa mobil.Kalo capek bisa istirahat sebentar.Boleh ya.Pliiiss..."Mohon Dery.


"Tapi mas..."Rania bingung mau menolak,takut Dery marah.


"Kamu tenang aja...Aku gak akan lamar kamu sekarang kok.Aku cuma pengen kenal dulu sama keluarga kamu."Dery melihat raut wajah Rania yang sepertinya ketakutan.


"Beneran mas?Tapi ini sudah sore lho.Gimana kalo nanti di cari orang tua mas Dery?"


"Gak ada yang cari Ran,aku bisa telpon rumah kok.tenang aja.Ok."


"Tapi kalo bertamu di kampung gak boleh larut malam mas.Takut terjadi fitnah."


"Makanya buruan...keburu malam lho."Dery menarik tangan Rania.


Dery membuka pintu mobil,"Silahkan tuan putri."Sambil membungkukkan badan dan tangannya terayun ke depan.Seolah Rania adalah putri raja.


Rania tersenyum lalu masuk mobil dan duduk di sebelah Dery.


"Beneran nih mas Dery gak capek...jauh lho mas."Rania kembali bertanya.

__ADS_1


"Enggak sayang...kan ada kamu.Lihat kamu capeknya hilang."


"Mulai deh..."Rania mencubit bahu Dery.


Mereka tertawa bersama guna mengurangi rasa canggung di antara mereka.


"Aduh...sakit tau...Cium aja boleh.sini."Dery menunjukkan pipinya.


"Yee...maunya.Gak boleh tau sebelum halal."


"Ya kamu nya sih.Di halalin gak mau."


Rania merasa tertohok.Ia bingung harus jawab apa.


Dery memegang tangan Rania,"Bercanda sayang...udah gak usah di pikirin.Aku ngerti kok.Dan aku siap nunggu kamu.Ok."


"Senyum dulu dong.Mana nih lesung pipinya.Gemes tau...pengen cium."


"Iiih....mas Dery..."


"Hahaha...."


Ada sedikit rasa lega di hati Rania.Karna Dery tidak memaksa untuk menikah secepatnya.


Dan ia juga gak marah.Justru siap menunggu.


Rania merasa beruntung punya Dery.


Ia begitu baik dan perhatian.


Ia selalu memperlakukan Rania dengan sangat baik.


Tangan dan juga ucapannya sama-sama sopan.


Dery tak sekalipun berbuat lebih pada Rania.


Hanya sekedar peluk,pegang tangan dan cium kening.


Itupun tanpa adanya nafsu.Tapi hanya karna sebatas sayang.


Dery selalu menjaga Rania.

__ADS_1


__ADS_2