
Arya belum benar-benar tidur.
Ia masih terus mengamati gerak gerik Rania lewat selimut tipisnya.
Meski tak terlihat dengan jelas namun Arya hafal betul dengan kegiatan yang Rania rutin lakukan sebelum tidur.
Ke kamar mandi membersihkan diri dan berganti pakaian tidur,setelah itu mulai merawat diri di depan cermin.
Tak lama kemudian Rania merebahkan tubuhnya di sisi ranjang yang bersebelahan dengan Arya.
Menarik selimut dan tak lupa memasang guling di tengah-tengah antara dia dan Arya.
Meskipun kesal tapi Arya sangat menunggu hal itu.
Walaupun hanya tidur berdua di satu ranjang yang sama dengan pembatas guling,tapi itu bagaikan obat tidur alami untuknya.
Begitu juga dengan Rania.
Setelah melihat Arya tidur di sampingnya,ia merasa begitu nyaman.
Berbeda halnya saat Arya lembur di kantor atau sedang keluar,entah kenapa Rania merasa ada yang kurang.
Ia tak bisa tidur sebelum melihat Arya tidur di sampingnya.
Melihat Rania sudah tenang dan tak bergerak Arya yakin jika istrinya itu sudah tidur.
Pelan-pelan Arya membuka selimut yang menutupi bagian kepalanya.
Dan benar saja,Rania sudah tidur dengan nyenyak.
Dengan hati-hati Arya mengambil guling yang jadi pemisah antara mereka berdua.
Menggeser tubuhnya dengan pelan supaya Rania tak terbangun.
Kini jarak mereka sudah begitu dekat.
Arya memperhatikan wajah Rania.
Melihat wajah yang begitu teduh,polos dan dengan senyum manis yang terukir di bibirnya.
Melihat dari alis asli yang natural dan rapi,hidung yang tak bisa di bilang mancung,bibir bawah yang tebal namun tampak padat berisi serta pipi yang terlihat mulai chaby.
"Sebenarnya wajahnya tidak begitu cantik,kalah cantik dari wanita-wanita yang dulu pernah dekat denganku.Tapi kenapa dia terlihat begitu menarik dimataku.Semua perpaduan yang indah.
Dari mata hingga bibirnya semua terlihat begitu indah."
Tanpa sadar Arya mendekatkan bibirnya di wajah Rania.
Mencium pelan kening wanita yang sudah sah jadi istrinya namun belum sepenuhnya dapat dia miliki.
Dipeluknya tubuh Rania yang tidur lelap.
Itulah yang diam-diam Arya lakukan setiap malam selama seminggu belakangan.
Entah kenapa setelah mencium kening dan memeluk Rania ia merasa bahagia.
Dan tak lama kemudian iapun ikut tidur dengan nyenyak.
Hingga pagi menyambut membuatnya seolah enggan cepat-cepat bangun.
Pagi harinya Rania terbangun.
__ADS_1
Ia merasakan begitu nyaman dan hangat berada dalam pelukan Arya.
Ia mengerjapkan mata melihat jam yang berada di atas nakas.
Ternyata sudah datang waktu subuh,dan Rania mulai bergerak pelan untuk bisa terlepas dari pelukan Arya.
Namun bukannya terlepas justru Arya semakin mengeratkan pelukannya.
"Biarkan seperti ini sebentar lagi."Ucap Arya dengan mata yang masih tertutup rapat.
"Tapi ini sudah subuh."
"Sebentar lagi"Jawabnya sambil mengeratkan pelukan kembali.
"Tapi Rania mau segera ke dapur."Jawabnya tanpa berani bergerak.
"Bukankah ini weekend?Saatnya kita santai."
Tak peduli dengan protes dari sang istri Arya tak melepas pelukannya.
Bukannya Rania tak suka,ia hanya merasa gugup tak bisa mengontrol debaran jantungnya.
"Tapi mas..."
Ucapan Rania membuat mata Arya terbelalak kegirangan.
"Benarkah yang ku dengar?Dia panggil aku mas saat berdua?"
Namun tak ingin Rania merasa malu Arya kembali bersikap biasa saja.
"Tunggu sebentar lagi ya..."Suara Arya begitu lembut sambil memandang wajah Rania.
"Oh ya Tuhan....kenapa tiba-tiba hatiku meleleh mendengarnya berkata begitu lembut.Biasanya hanya ucapan datar yang keluar dari mulutnya.
Mengingat ucapan Arya belakangan ini yang merasa risih dipanggil pak membuat Rania berinisiatif memanggilnya mas,sama seperti memanggilnya di depan kedua orangtua dan nenek.
Sebenarnya Rania sudah mengerti maksud keinginan Arya yang diinginkan.Namun sulit bagi Rania untuk mengucapkannya.
Ia merasa begitu canggung.
Tapi mengingat kembali ucapan mama Anita membuatnya kembali berpikir.
Ia tak mau mengecewakan orang-orang yang tulus menyayangi Rania dan berharap lebih dengan pernikahannya.
Untuk itu ia mencoba membuka hatinya perlahan untuk suaminya.
Meski terkadang ia masih takut tapi setidaknya ia berusaha mencobanya.
Setelah beberapa menit berlalu.
"Kita sholat subuh dulu ya mas."Pinta Rania.
"Ah,baiklah."Arya pun melepas pelukannya.
Sungguh,jika tak mengingat saatnya sholat ia tak ingin moment ini berhenti.
Rasanya ingin memeluk Rania sampai pagi.
"Kita sholat berdua di kamar saja ya."Ucap Arya sambil bangun dari tidurnya.
Rania membalas dengan menganggukkan kepala.
__ADS_1
Arya pergi wudhu terlebih dahulu,sedangkan Rania membereskan tempat tidur.
Selesai Arya wudhu giliran Rania yang wudhu.
Arya melihat sajadah sudah tertata rapi dan juga mukena Rania pun sudah disiapkan.
Subuh ini adalah pertama kalinya Arya jadi imam untuk Rania.
Tak mau kehilangan kesempatan itu Arya pun memanfaatkannya dengan sebaik mungkin.
Begitu Rania selesai wudhu mereka melaksanakan sholat dengan kusyu'.
Arya melantunkan setiap bacaan sholat dengan dada yang berdebar.
Selesai sholat Arya memutar tubuhnya yang masih dalam keadaan duduk.
Dipandangnya wajah teduh Rania.
Mengulurkan tangan dan di sambut hangat oleh Rania.
Diciumnya punggung tangan Arya lalu di balas dengan kecupan mesra di kening Rania.
"Ya Allah...inilah rasanya jadi imam untuk istriku sendiri...inilah yang aku impi-impikan sejak dulu.Bisa sholat berjamaah dengan wanita yang nikahi.Aku benar-benar bahagia."
Lantas Arya melanjutkan berdoa.
Rania pun mulai berdoa sambil berkaca-kaca.
Sungguh indahnya kebersamaan ini.
Inilah ibadah terindah dalam hidupnya.
"Ya Allah...semoga ini awal yang indah untuk rumah tanggaku..."
Selesai sholat Rania mulai membuka mukena yang dia kenakan.
Ingin segera pergi ke dapur seperti biasanya.
"Mau kemana?"Arya menoleh melihat Rania yang sibuk melipat mukena.
"Mau ke dapur mas,sudah siang."Jawabnya masih sibuk dan tak melihat Arya.
"Maukah kamu memulainya dari sekarang?"Arya memegang tangan Rania melarangnya pergi.
"Mak-sud mas Arya?"Rania melihat tangannya yang di pegang Arya.
Mereka berdua gugup namun Arya tetap tak melepaskan genggaman tangannya.
Ia merasa ini sudah saatnya bicara pada Rania.
"Kita mulai semuanya dari awal lagi.Lupakan soal enam bulan yang pernah aku ucapkan."
Rania masih diam dan mencerna ucapan Arya.
"Kita mencoba menjadi suami istri yang sesungguhnya,bukan hanya untuk enam bulan,tapi untuk selamanya.Aku tidak akan memaksa kamu.Kita mulai dengan semuanya perlahan.Jangan lagi menganggap aku atasan kamu.Tapi anggaplah aku suami kamu."Panjang lebar Arya menjelaskan supaya Rania paham akan maksudnya.
Namun tak terdengar jawaban sama sekali dari Rania.Hanya Arya lah yang dari tadi bicara.
Memunculkan pertanyaan di benak Arya.
"Apakah dia tidak mau?Apa dia keberatan dan tak ingin memulai rumah tangga seutuhnya denganku?
__ADS_1
Karna tak sabar kembali Arya mengulang pertanyaannya.
"Apa kamu paham?Atau kamu keberatan?"