
"Anita,gimana keadaan cucu-cucu nenek?"Tanya nenek ketika melihat mama Anita turun dari tangga.
"Mereka gakpapa kok buk..."
"Yang bener kamu?"Nenek masih kurang percaya dengan ucapan menantunya.
"Ibuk mau kemana?"Dilihatnya nenek ingin menaiki tangga.
"Ya melihat keadaan mereka lah."Nenek sudah bersiap.menaiki tangga.
Tapi baru berjalan di anak tangga pertama mama Anita sudah mencegahnya.
"Jangan ibuk..."Mama Anita memegang tangan Nenek.
"Kenapa jangan,nenek juga khawatir dengan keadaan mereka."Bersikeras ingin melanjutkan langkahnya.
"Buk...dengerin Anita buk.Sebaiknya kita tidak mengganggu mereka dulu."
"Memang kenapa.Aku cuma mau lihat keadaan mereka kok."
"Mereka baik-baik saja.Hanya saja Rania kecapekan karna semalam mereka begadang."Ucap mama Anita sambil tersenyum.
"Maksud kamu?"Nenek tak mengerti dengan maksud mama Anita.
"Iya nek...semalam mereka baru saja melakukan malam pertama."
"Yang bener kamu?"Nenek kaget mendengar cerita mama Anita.
"Iya buk...sebentar lagi Anita akan jadi seorang Oma."Mama Anita sudah bahagia meski baru membayangkannya.
Nenek yang paham perjalan cinta mereka pun tersenyum senang.
"Akhirnya ya Anita...Mereka sudah jadi suami istri sesungguhnya."
"Iya buk...sepertinya Arya sudah jatuh cinta sama Rania."
"Halah anak itu...sebenarnya dia itu sudah suka sama Rania sejak di awal-awal bertemu.Hanya saja Arya itu gengsi."
"Ya wajar lah buk...saat itu Arya masih punya Sesil.Ibuk tau sendiri kan gimana sifat cucu nenek satu itu..."
"Iya juga sih..."
"Arya tipe anak yang sulit jatuh cinta.Sekalinya jatuh cinta dia akan menjaga cinta itu.Contohnya saja dulu.Dia sampai berjuang keras supaya dapat restu dari kita."Mengingat dulu saat Arya masih bersama Sesil.
"Iya.Arya termasuk anak yang setia."Nenek pun mengakui sifat baik cucunya itu.
"Yang terpenting sekarang Arya sudah bahagia sama Rania buk."
"Iya dong...Harus itu!Perempuan sebaik Rania sangat sayang kalau disia-siakan."
Mertua dan menantu itu begitu asyik ngobrol di depan tangga.Papa Jaya yang melihat hal itu merasa heran pada keduanya.
Papa Jaya pun menghampiri mereka.
__ADS_1
"Ibuk sama mama lagi ngomongin apa sih?Sepertinya seru sekali."
"Hehehe...gakpapa kok pa..."
"Anak-anak gimana?Sudah mama jenguk?"Tanya papa Jaya.
"Sudah pa...mereka cuma lagi pengen menikmati hari libur saja..."
"Oh...ya syukur kalo mereka baik-baik saja."
Begitu besar harapan mereka ketika melihat kemajuan dalam rumah tangga yang di jalani Rania dan Arya.
Sementara itu Rania yang sudah selesai sarapan masih bermalas malasan di atas ranjang.
Melihat Rania yang masih kesulitan saat berjalan membuat Arya benar-benar melarangnya untuk keluar kamar.
"Memangnya mas gak ada kerjaan di luar?"Tanya Rania karna sedari tadi Arya masih setia menempel di sampingnya.
"Gak kok.Hari ini aku free.Aku akan menemani kamu sepanjang hari ini di kamar."Memeluk Rania lagi.
"Apa mas gak bosen di kamar terus?"
"Enggak kok.Kan sama kamu.Kalau bosen kita bisa melakukan sesuatu hal misalnya."
"Iiihhh....mas Arya apaan sih...Badanku masih sakit semua nih..."Rania mengerti arti tatapan sang suami.
"Hehehe...emang kamu mikirnya apa?"
"Makin gemes deh aku lihat kamu.Rasanya bener-bener seneng bisa seharian penuh berduaan sama kamu di kamar."Arya kembali mendusel di leher Rania.
Rania tersipu malu mendengar ungkapan hati Arya yang ternyata senang berdua dengannya.Serasa Rania begitu spesial di mata Arya.
"Sayang,setelah resepsi nanti kita bikin rencana honeymoon yuk.Kamu pengen kemana?"
"Memangnya mas Arya gak sibuk...?"
"Ya sibuk gak sibuk harus cari waktu dong...masak iya pengantin baru cuma dirumah aja gak kemana-mana."
"Bukan pengantin baru,sudah empat bulan kali mas kita nikah..."
"Kan nikahnya...Pokoknya aku pengen bulan madu."Arya ngotot.
"Ya terserah aja sih mas kalau aku.Yang penting mas Arya gak sibuk."
"Kira-kira kamu mau kemana?"
"Aku gak tau daerah mana-mana mas...Aku kan belum pernah bepergian kemana-mana.Apalagi tempat wisata.Paling setahuku ya cuma puncak sama pantai.Itupun jarang main ke pantai."
"Jadi,pengen kemana?"
"Ya terserah mas aja deh.Aku kan seorang istri.Kemanapun kamu membawaku aku akan selalu ikut."
"Uuluuuhhh....jadi makin gemes deh."
__ADS_1
"Emang di bolehin sama papa...terus pekerjaannya gimana?"
"Tenang saja,nanti aku akan bicara sama papa.Soal pekerjaan biar di handel papa dulu.Atau asisten Roy juga ada kok."Ucapnya mantab.
Arya sudah mulai membayangkan akan berbulan madu berdua.Bisa menghabiskan waktu berduaan dalam jangka waktu yang cukup lama tanpa gangguan pekerjaan dan rutinitas sehari-hari.
"Sayang,bagaimana kalau kita bulan madu ke pantai,terus kita sewa penginapan di sana."
Arya antusias mencari tempat yang kira-kira romantis dan bagus untuk di kunjungi.
"Terserah mas Arya saja..."Rania menjawab sekenanya.
"Kok kamu gak semangat sih sayang.Kamu gak senang ya?"Arya mulai sedikit kecewa dengan respon yang Rania berikan.
"Bukan begitu mas...tapi aku benar-benar tidak tau...Aku ngikut aja."Jawabnya sambil menguap.
Sebenarnya Rania masih sangat ngantuk.
Entah kenapa ngantuknya gak hilang-hilang.
Padahal selepas sholat subuh tadi dia sudah tidur kembali.Tapi rasanya belum cukup untuk mengganti waktu begadang semalam.
Ingin tidur tapi gak tega melihat Arya yang begitu bersemangat mencari tempat untuk bulan madu.
Sayup-sayup Rania mendengar Arya yang memanggilnya berulang kali.Namun Rania sudah tak bisa menjawabnya karna terlalu mengantuk.
Merasa tak dihiraukan Arya yang tadinya bicara sambil membayangkan tempat-tempat yang indah,karna tak mendapat jawaban dari Rania ia pun melihat wajah Rania.
Menyingkirkan beberapa helai rambut yang menutupi mata Rania.
Ternyata dia sudah tidur kembali.
Arya geleng-geleng kepala melihat istrinya yang begitu mudahnya tidur.
Menciumi setiap sudut wajahnya tanpa henti.
Dari wajah mulai mencium daun telinga Rania sambil menggigit pelan.
Namun Rania hanya sedikit bergerak karna merasa terusik tanpa membuka mata sedikitpun.
Arya semakin merasa gemas dan mulai menginginkan lebih.
Teringat sang istri yang tadi mengeluh capek dan sakit ia berusaha mengurungkan niatnya.
Namun apa daya,sepertinya tubuh Rania sudah mulai menjadi candu bagi Arya.
Ia tak bisa lagi menahan hasratnya.
Ingin berontak saat merasakan dirinya mulai terganggu kembali,namun Rania tak bisa berbuat apa-apa.Tubuhnya tak mampu lagi untuk menolak setiap sentuhan suaminya.
Bukanya istirahat dengan nyaman justru Rania kembali harus merasakan capek yang lebih dari apa yang sudah terjadi semalam.
Dan benar saja,hari ini seharian penuh mereka berdua menghabiskan waktu di kamar tanpa keluar.
__ADS_1