
"Arya,apa yang harus kita katakan pada pak penghulu dan juga keluarga besar Adiyasa?"Mama Anita terlihat sangat bingung.
"Arya juga gak tau ma."Mengacak rambutnya kasar.
Tersirat rasa benci dan kecewa yang dalam di hati Arya.
Atas keputusan sepihak dari Sesil.
Orang yang selama ini ia jaga hatinya,ia perjuangkan sekian tahun demi mendapat restu dari keluarganya.
Di saat semuanya tinggal menuju bahagia,tiba-tiba Sesil pergi begitu saja tanpa bicara terlebih dahulu dengan Arya.
"Arya,kamu harus segera ambil keputusan!"Papa jaya berdiri dari duduknya.
Arya mendesah pasrah,"Apa yang bisa Arya lakukan pa?"
"Kamu pilih wanita lain sebagai pengganti Sesil."Melihat Arya dengan tatapan tajam.
"Ta-tapi pa."Arya bingung mesti cari alasan apa lagi.
"Benar kata papamu.Kamu pilih wanita lain,atau nenek yang akan memilihkan untuk kamu."Nenek menyela ucapan Arya karena nenek punya ide bagus.
Kemudian lanjut bicara lagi.
"Kemarin kita sudah merestui hubungan kalian,tapi nyatanya kalian hancurkan sendiri.
Terbukti pilihan kamu tidak tepat!"Nenek bicara tanpa melihat Arya.
"Tapi Nek..."Arya bimbang.Ia tak punya seseorang yang sedang dekat dengannya.
"Kamu pilih sendiri atau kita pilihkan!"Nenek kembali mengulang perkataannya.
"Lebih baik kita pilihkan saja Nek."Mama Anita yang sudah paham jalan pikiran nenek ikut mendesak Arya.
"Arya pilih sendiri saja."Dengan cepat Arya menolak ide nenek dan mamanya.
Ia takut jika pilihan mereka berasal dari keluarga sahabat dekat salah satu dari nenek ataupun mama.
"Ok.Siapa?"Nenek tersenyum tipis.
Sedikit menertawakan permainan mereka.
Melihat Arya yang sedang dilanda kebingungan.
"Rania."Tiba-tiba saja muncul nama itu di benak Arya.
"Yes,masuk perangkap juga ini anak."Nenek tertawa girang.Meski hanya di dalam hati.
"Ternyata ini anak...diam-diam menyimpan nama Rania."Mama Anita pun tersenyum.
Ternyata apa yang ada di pikirannya sejalan dengan pikiran nenek dan juga Arya.
"Ok.Kamu yakin dengan keputusan kamu?"Nenek pura-pura meyakinkan Arya.
__ADS_1
"I-iya nek,tapi tolong,jangan bilang pada Nia kalau Arya yang memilih dia."
"Maksud kamu Arya?"Papa Jaya belum mengerti dengan pemikiran Arya.
"Bilang saja kalau yang memutuskan memilih dia adalah nenek sama mama."Arya mencoba bernego dengan semuanya.
"Kenapa harus begitu?"Papa Jaya kembali bertanya.Namun nenek segera menjawabnya.
"Baik,gak masalah."Nenek tak mau Arya berubah pikiran.Karna sebenarnya memang itu tujuan nenek.
"Tunggu dulu."Semua menoleh pada papa Jaya.
Mama takut jika papa Jaya tak setuju.
"Tapi sebelumnya papa peringatkan kamu Arya.Hubungan kamu dan Sesil selesai sampai disini.Dan jika kamu memilih Rania,kamu tidak boleh menyakitinya.Karna pernikahan itu bukan main-main.Kamu paham?"Tutur bijak dari papa Jaya.
"Baik pa,Arya janji gak akan sakiti Rania."Janji Arya.
"Bagus."Papa Jaya sedikit lega.
Ia berharap Arya menepati janjinya.
"Ma,Rania sudah datang?"Tanya papa Jaya.
"Sudah pa,baru saja selesai make up sama mama sama nenek."
"Panggil kesini."Sudah tau maksudnya maka mama segera pergi mencari Rania.
"Ma-maaf,ada yang bisa Rania bantu pak?"Tanya Rania setelah masuk ruang kerja pak Jaya.
"Rania,apakah kamu setuju menikah dengan Arya?"
Deg
Pertanyaan pak Jaya membuat Rania seolah berhenti bernafas.
Dadanya sesak,tubuhnya bergetar ketakutan,keringat dingin mulai keluar meski berada di ruangan berAC.
"Mak-maksud pak Jaya?"Rania tak berhasil menyembunyikan kegugupannya.
"Sayang,Sesil sudah mempermainkan Arya.Tiba-tiba dia pergi begitu saja.Padahal pernikahan tinggal dua jam lagi.Jadi nenek mohon sama kamu,tolong menikahlah dengan Arya ya nak..."Mohon nenek.
"Ta-tapi nek."Belum selesai Rania bicara,Arya sudah memotongnya.
"Ma,pa,nek.Tolong tinggalkan kami dulu.Arya mau ngomong sama Nia."
"Baiklah,kalian bicara berdua dulu.Biar papa urus yang lainnya."
Mendengar permintaan Arya mereka pun segera keluar.
Memberi peluang untuk Arya bicara empat mata dengan Rania.
Rania masih belum bisa mencerna kata-kata yang baru saja ia dengar.
__ADS_1
Ia terdiam dengan pikiran yang berkecamuk.
Berharap tadi ia salah dengar.
Namun sepertinya hal itu hanya harapannya saja.
"Nia,apa kamu bersedia menikah denganku?"Kata-kata Arya membuat Rania sadar,jika ia sedang tidak salah dengar.
"Ta-tapi pak."Tenggorokannya serasa tercekat.
Tak bisa bicara secara lancar seperti biasanya.
Arya masih diam,membiarkan Rania sadar dengan keadaan yang membuatnya kaget dan gugup.
"Kenapa harus saya?"Kini Rania mulai bisa berfikir sedikit waras.
"Karena hanya kamu yang dipercaya nenek.Jadi tolong,jangan kecewakan nenek."
Jleb!
Seperti tertusuk pisau yang tajam.
Begitu perih menyayat hatinya.
"Jika itu keinginan nenek,lalu bagaimana dengan kamu?"Sayangnya kata-kata itu hanya mampu ia katakan dalam hatinya.
"Waktunya tidak banyak,kamu harus segera memutuskan."Arya mendesak keputusan Rania.
"Tapi bagaimana jika mbak Sesil datang lagi?"
"Itu jadi urusanku."
"Tidak.Masa depanku masih cerah."Dalam hati Rania memaki dirinya sendiri.
Apakah menikah dengan pewaris Adiyasa bukan masa depan yang cerah?
"Maksud saya,saya masih harus memikirkan masa depan kedua adik saya."Alasan yang cukup bagus dan masuk akal.
Rania bisa tersenyum puas dengan jawabannya.
"Biarkan itu jadi tanggungan saya."Arya menanggapi kegundahan hati Rania.
"Tidak pak,itu adalah tanggung jawab saya.Saya tak mungkin memberatkan orang lain dengan masalah pribadi saya."Jawabnya tegas.
"Menikah dengan saya atau keluar dari tempat kerja."Tak disangka Arya masih bisa mendesak Rania.
"Baik!"Tanpa pikir panjang akhirnya Rania mampu menjawabnya.
Arya mengangguk dan tersenyum tipis.
Mendengar keputusan dari Rania.
Sedang Rania merutuki keputusannya.
__ADS_1
Yang membuatnya harus menerima semuanya dengan sekuat tenaga.