Pengagum CEO Tampan

Pengagum CEO Tampan
Kost'an Rania


__ADS_3

Merasa ada sesuatu hal yang aneh dengan Rania,Intan berusaha mencari tahu.


Sepulang kerja Intan berencana main ke kost'an Rania.


Ia sengaja tak memberitahu Rania karna ingin membuat kejutan untuknya.


Sudah lama mereka tak bisa ngobrol berdua seperti dulu.


Semenjak menikah Intan lebih memprioritaskan untuk waktu di rumah.


Selain karna ingin berusaha jadi istri terbaik meski sampai sekarang ia masih belum bisa memenangkan hati Dery,tapi juga karna ibu mertua nya tidak suka jika Intan pergi keluar.


Ibu selalu meminta Intan untuk membantu pekerjaan art di rumah.


Namun ia selalu terselamatkan oleh bapak mertuanya.


Jika pak Herman sudah melarang maka Bu Herman pun tak berani lagi untuk menyuruh Intan.


Sambil jalan-jalan sore Intan pergi ke kost'an Rania.


Tak lupa ia membeli beberapa makanan dan cemilan yang biasa ia nikmati saat santai bersama Rania.


Intan pergi sendiri setelah sebelumnya ia meminta ijin pada Dery.


Meski hanya sekedar menemani jalan-jalan saja Dery masih enggan.


Tiba di depan kost'an Rania.


Dilihatnya rumah Rania yang tertutup rapat.


Intan berjalan menuju depan pintu.


Diketuk beberapa kali namun tak ada suara balasan yang di dengar.


Satpam yang bertugas di komplek kost tersebut mendekat ke arah Intan.


"Mbak cari siapa ya?"Pak satpam menyalami tangan Intan.


"Emm...ini pak,cari Rania.Yang tinggal di kost'an ini."Menarik tangan lalu menunjuk pintu kost'an Rania.


"Oh...mbak Rania?"Pak satpam terlihat sedikit agak lama untuk melanjutkan ucapannya.


"Iya,bapak tahu?"Intan kembali bertanya.


"Maaf,tapi setahu bapak mbak Rania sudah tidak kost disini lagi."


"Tidak kost disini?Sejak kapan ia pergi dari sini pak?"


"Sekitar satu bulan yang lalu mbak."


Intan terlihat terkejut dengan ucapan pak satpam.


"Maaf,apa bapak tahu Rania pindah kemana?"


"Wahh...kalau soal itu bapak nggak tahu mbak."


"Oh...begitu ya pak.Terimakasih ya pak atas informasinya."


"Iya mbak sama-sama.Bapak pergi dulu ya.Sebaiknya mbak hubungi nomer telpon nya saja."


Intan menepuk jidatnya.

__ADS_1


"Kenapa aku gak berpikir kesitu ya."


"Mari mbak..."Pamit pak satpam membuat Intan tersadar dari lamunannya.


"Eh,iya pak.Silahkan."


Intan segera mengambil hp nya dan menghubungi nomer Rania.


Rania:"Halo...assalamualaikum...."


Intan:"Waalaikumsalam.Kamu lagi dimana Ran?"


Sengaja Intan menanyakan keberadaan Rania.


Ia ingin tahu jawaban apa yang akan Rania katakan.


Rania:"Aku lagi di kamar nih.Kenapa Tan?"


Intan:"Aku boleh main gak?"


Rania:"Eh,emmm....Sekarang Tan?"


Intan:"Iya,aku kesitu ya?Kamu di kamar kost'an kan?"


Rania:"Eh,ini,anu,aku....aku lagi di tempat temenku.Iya,maksudnya lagi di kamarnya temen."Terdengar suara Rania yang gugup.


Intan:"Temen siapa Ran,aku susul deh."


Rania:"Eh,Intan,halo,halo...Tan,maaf ya,ini suara kamu putus-putus.Kayaknya sinyalnya jelek deh.Aku matiin ya."


"Tut...tut tut..."


Terdengar suara panggilan terputus.


"Rania aneh banget sih.Kenapa pakek bohong segala.Kayaknya beneran ada yang disembunyikan deh.Gak beres nih anak."


Sejak pertama tahu Rania pindah ke kost yang ia datangi ini saja sudah menimbulkan kesan aneh.


Bagaimana seorang Rania yang biasa menggunakan uangnya dengan sangat diperhitungkan tiba-tiba kost di tempat yang bisa di bilang lebih dari bagus.


Kost yang biasa mereka tempati dulu di tempat pak Herman adalah satu rumah yang memiliki banyak kamar.Sehingga biaya bayar kost nya terbilang murah untuk para buruh pabrik seperti mereka.


Tapi di tempat ini,sudah mirip seperti perumahan mini.


Satu rumah hanya Rania saja yang menempati.


Sudah lengkap dengan satu kamar,ruang tamu,dapur dan kamar mandi di dalam nya.


Saat itu Intan yang penasaran dengan biaya kostnya bertanya pada Rania,tapi Rania mengatakan jika biaya nya sangat murah menurut dia.


Tapi saat Intan bertanya pada penyewa kost sebelah Rania,ia mendapatkan jawaban yang berbeda.


Dan jika di lihat dari sifat Rania yang selalu berhemat rasanya itu akan sangat banyak baginya.


Namun karna saat itu Intan tak berpikir jauh ia pun mengiyakan ucapan Rania.


Intan berdiri dari duduknya.


Ia berjalan keluar dari pekarangan kost Rania sambil masih menenteng makanan yang tadi sudah ia beli.


Sesampainya dirumah Intan segera pergi ke dapur.

__ADS_1


"Darimana kamu,bawa apa itu?"Bu Herman datang sambil melihat beberapa kantong makanan yang di bawa Intan.


"Eh,ibu...ini tadi Intan habis jalan-jalan sore.Lihat beberapa makanan Intan jadi pengen beli."Membuka satu bungkus makanan lalu di pindah ke dalam piring.


"Beli makanan banyak banget.Boros kamu jadi istri."Ibu kembali berjalan pergi setelah selesai mengambil minuman di kulkas.


Bagi Intan sudah biasa ia mendapatkan kata-kata pedas seperti itu dari ibu mertuanya.


Sejak menikah sampai sekarang ibu belum juga bisa sepenuhnya menerima Intan.


Di awal pernikahan sering kali Intan menangis dan ingin menyerah.


Tapi ia selalu mengingat ucapan Rania untuk selalu kuat.


Hingga akhirnya Intan sudah terbiasa dan tak lagi menganggapnya suatu masalah.


Toh yang penting mereka tidak berlaku kasar ataupun mengusir Intan.


"Gak juga kok Bu...gak tiap hari kok.Ini tadi karna liat jadinya pengen.Ibu cobain dong."Intan membawa piring itu dan berjalan mengejar ibu mertua.


"Coba dulu ibu...kayaknya enak ini."Intan menyendokkan makanan dan menyodorkan di depan mulut Bu Herman.


"Gak suka makanan pinggir jalan!"Bu Herman berpaling sambil mempercepat langkahnya.


Intan membawa makanan itu kembali ke meja makan.Ia duduk dan mulai memakannya.


Memakan dengan lahap makanan yang dari tadi sudah ingin ia nikmati bersama Rania.


Tak butuh waktu lama makanan itu sudah habis.Intan merasa sangat kenyang.


Sisa satu bungkus ia simpan di bawah tudung saji.Ia akan memanggil Dery untuk makan.


Berjalan ke kamar mencari Dery,ternyata Dery sedang mandi.


Terdengar suara gemericik air dari dalam kamar mandi,nampaknya Dery belum selesai.


Intan menunggu Dery selesai mandi,ia duduk di ranjang.


Kedua tangannya sibuk memegang hp.


Dengan kedua kakinya menggantung di pinggiran ranjang.


Tak lama kemudian terlihat Dery keluar dari kamar mandi.


"Mas Dery sudah makan belum?"


"Belum."


"Makan gih mas,aku habis beli makanan.


Masih satu bungkus aku simpan di meja makan."


"Apa?"


"Gado-gado."


Mendengar kata gado-gado entah mengapa tiba-tiba saja Dery terasa lapar.


Padahal belum lama tadi ia habis jajan bakso.


Selesai memakai baju Dery ingin segera makan.

__ADS_1


Ia sudah tak sabar menikmati makanan yang dicampur dengan sambal kacang yang pedas dan enak itu.


__ADS_2