Pengagum CEO Tampan

Pengagum CEO Tampan
Jalan-jalan dengan nenek


__ADS_3

Sejak pertemuan kedua di kantor waktu itu,nenek sering sekali menelfon Rania.


Entah kenapa ia merasa senang saat bisa ngobrol dengan Rania.


Ia anak yang baik.


Meski hanya seorang karyawan biasa tapi Rania punya sifat yang penyayang dan ramah.


Nenek berencana akan menjodohkan Rania dengan Arya.


Meski keluarga Adiyasa adalah keluarga yang sangat kaya raya,namun mereka semua di didik untuk saling menghargai dan tak memandang orang dengan status dan kekuasaan.


Karna dulu mereka juga berasal dari keluarga yang sederhana.


Untuk itu mereka tidak pernah memandang rendah orang miskin.


Dan soal jodoh untuk Arya kelak,mereka pun tak mengharuskan yang kaya ataupun yang populer.


Yang terpenting adalah seiman.


Bagi mereka itu jauh lebih penting.


Kalau untuk harta,mereka yakin tak kan kekurangan jika tetap bekerja keras.


Sang nenek sangat antusias untuk menjodohkan Arya dengan Rania.


Sedang papa Jaya dan mama Anita,mereka sudah mendapatkan informasi lengkap tentang kehidupan Rania.


Papa dan mama yang awalnya penasaran ketika melihat tatapan Arya pada Rania,membuat mereka penasaran dan mencari tau yang mungkin bisa menjelaskan semuanya.


Dan dari sudut pandang yang mereka dapat,Rania adalah sesosok gadis yang periang,pekerja keras,dan baik hati.


Jika bisa,merekapun berharap jika Rania adalah jodoh Arya.


Ya...


Mereka akan berusaha,tapi semua tergantung Arya yang menjalani.


Hari ini di saat libur bekerja nenek datang ke tempat kost Rania.


Mereka sudah janjian akan ke taman bersama.

__ADS_1


Nenek pergi di antar oleh supir pribadinya.


Setelah menjemput Rania kemudian mereka jalan-jalan di sekitar taman.


Menikmati sejuknya udara pagi.


Nenek mengajak Rania membeli berbagai macam jenis jajanan.


Mulai dari jajanan pasar tradisional sampai jajanan yang kekinian.


"Nenek....sebanyak ini mau di makan siapa aja Nek...?"Rania menenteng beberapa plastik pembungkus jajanan.


"Kita bawa pulang,kita makan di rumah.Ok!"Nenek menarik tangan Rania.


"Kerumah....?Maksudnya rumah mana Nek?"


"Ya kerumah nenek lah...dekat kok dari sini.Paling sekitar sepuluh menit."Ucap Nenek sambil menunjukkan sepuluh jari tangannya.


"Tapi Nek...?"


"Gak usah tapi-tapian.Mumpung kamu libur."Nenek segera mendorong Rania masuk ke dalam mobil.


Di dalam mobil Rania terus berpikir.


Ia merasa gugup.Ia duduk sambil tangannya tak berhenti memilin ujung bajunya.


Antara gelisah,takut,dan deg deg an.


Ia tak bisa membayangkan bagaimana ekspresi pak Arya nanti.


Ia takut jika dikira memanfaatkan kebaikan sang Nenek.


Begitu gelisahnya perasaan Rania,tanpa ia sadari mobil sudah berhenti di pelataran sebuah rumah mewah.


Rumah berlantai tiga yang sangat besar menurut Rania.


Rania turun dari mobil bersama Nenek.


"Rania,ayo masuk..."Nenek menarik tangan Rania lagi.


"Mbok...tolong ambil belanjaannya ya..."Nenek setengah berteriak memanggil art di rumah.

__ADS_1


"Baik Nek..."Seseorang muncul dari balik dapur.


Mereka semua sudah seperti keluarga.


Tidak ada sebutan nyonya maupun nona.


Nenek masih terus menuntun Rania.


Dan Rania merasa kagum melihat rumah mewah itu.


Rumahnya begitu besar.Barang-barang yang terpajang terlihat antik dan mahal.


Rumah bersih yang tak terlalu banyak barang di ruang tamu.Semua tertata rapi dan bersih.


Perlahan Rania berjalan di iringi nenek.


Lalu Nenek membawa mereka masuk ke ruang santai.


"Kita santai dulu disini ya."Nenek duduk dan menepuk sofa disampingnya.


Rania tersenyum lalu ikut duduk.


Mereka masih asyik ngobrol kesana kesini.


Tak lama Bu Anita dan pak Jaya datang.


"Lhoh,ada tamu...Nenek sama siapa?"Pak jaya basa basi.Sebenarnya mereka sudah hafal betul dengan wajah Rania.Meski jarang bertemu langsung,tapi fotonya sudah sering mereka lihat.Saat mencari tau tentang kehidupan Rania.


"Sini semua,kenalin ini Rania."Nenek menyambut sandiwara pak Jaya.


Nenek menjelaskan sedikit tentang Rania.


Tentang pertemuan di taman dan tentang Rania yang bekerja di pabrik mereka.


Pak Jaya dan Bu Anita menyambut mereka dengan hangat.


Tak seperti yang dari tadi Rania pikirkan.


Mereka terus ngobrol bertiga.


Lama kelamaan Rania sudah mulai tenang hatinya dan tak begitu gelisah seperti di perjalanan tadi.

__ADS_1


__ADS_2