Pengagum CEO Tampan

Pengagum CEO Tampan
Lampu hijau dari pak Herman.


__ADS_3

Tadinya Rania ingin sekali tidur.Tapi nyatanya hingga larut malam ia belum juga bisa tidur.


Ia masih memikirkan tentang percakapannya dengan bapak tadi.


"Apakah keputusanku sudah benar?Ada lelaki yang punya niat serius tapi aku masih menundanya.Apa dia akan sabar menungguku?Atau justru akan pergi ninggalin aku?Tapi di sisi lain aku masih merasa ragu."


"Rania...harusnya kamu pikirkan kembali,Dery adalah lelaki yang baik,sopan,dan dia juga serius sama kamu.Kamu cari yang seperti apa lagi..."Satu sisi berpendapat.


"Ingat Rania,kamu masih punya banyak mimpi.Usia kamu pun masih sangat muda.Masih banyak waktu.Yakinlah,kalau jodoh gak akan tertukar."Sisi lain ikut berargumen.


"Ya sudah lah.Daripada pusing mending tidur aja Rania...nikmati prosesnya.Biar waktu yang akan jadi penentunya."Rania meyakinkan diri sambil mencoba memejamkan mata.


🌼🌼🌼


Sementara itu,pukul tujuh malam Dery sudah sampai di rumahnya.Tiba di ruang tamu ia melihat kedua orang tua dan kakaknya sedang berkumpul.


"Dari mana kamu Dery,dari siang baru kelihatan sekarang."Tanya bapak Dery.


"Dari rumah temen pak."Jawab Dery sambil duduk di sebelah bapak.


"Halah...dari rumah temen apanya.Mbak tadi tau kok Dery ketemuan sama anak kost nya bapak yang di ujung jalan."Sahut mbak Desy.


"Bener itu Dery?"Ibu bertanya.


Pak Herman melihat Dery.Seolah ikut bertanya tentang kebenaran kata Desy.

__ADS_1


Selama ini Dery terlihat jarang sekali berhubungan dekat dengan seorang wanita.


"Mbak Desy tau darimana?Dery balik bertanya pada Desy.


"Ya tau lah.Mbak pernah lihat foto cewek itu di hape kamu.Tapi waktu itu mbak pikir gak mungkin kamu beneran sama dia.Taunya tadi liat sendiri.Kamu anterin dia pulang?"Desy bersungut sungut.


"Apa bener Dery?"Bapak yang sedari tadi diam ikut bertanya.


"Iya pak."


"Apa Dery,jadi bener,kamu jalan sama anak kost itu?"Bu Herman bertanya dengan nada yang cukup tinggi.


"Sudahlah buk...biarkan saja...toh cuma anterin pulang.Siapa tau niat Dery cuma mau bantu."Pak Herman mencoba menenangkan istrinya.


"Dery emang suka sama dia buk,sudah pacaran malah."Dery menjawab dengan santai.


"Tuh kan buk."Desy mulai sewot.


"Dery,apa-apaan kamu.Gak ada ya.Putusin secepatnya!"Perintah Bu Herman tegas.


"Kenapa gitu buk,kami saling suka.Jadi apa salahnya?"


"Gadis kampung itu hanya mau manfaatin kamu."Bu Herman tampak marah.


"Jangan-jangan Dery sering gratisin uang kost nya gadis kampung itu buk."Desy makin menambah marah Bu Herman.

__ADS_1


"Namanya Rania buk...mbak...dia bukan gadis seperti itu...dia baik,dan dia juga gak mau kalau aku bantuin soal uang.Dia kan kerja.Punya penghasilan."Terang Dery.


"Halah...gaji pabrik aja berapa.Paling cuma habis buat makan."Sela Desy.


"Kalian ini kenapa...?Yang jalani kan Dery.Kalo Dery suka ya sudah."Kata pak Herman.


"Dery beneran suka sama Rania pak.Dan bahkan Dery pengen serius sama dia."Dery mengatakan keseriusannya.


"Kamu jangan macam-macam Dery.Kamu baru kenal dia.Ibu gak akan setuju ya!"Bu Herman terlihat sangat marah.


"Mbak juga gak setuju!"Desy ikut menambahi."


"Kamu yakin Dery?"Bapak terlihat masih ragu.


"Yakin pak,tadi Dery sudah main kerumah Rania.Sudah kenalan dengan keluarganya.Tapi mungkin tidak secepatnya Dery nikah sama Rania.Rania masih belum siap."Dery menjelaskan pada pak Herman.


"Jika memang itu keputusanmu,ya sudah.Bapak cuma bisa merestui kalian."


Mendengar bapak berkata seperti itu membuat Dery sangat senang.meskipun Dery harus meyakinkan Ibu dan kakaknya,tapi setidaknya bapaknya sudah memberi lampu hijau.


Sementara itu Bu Herman dan Desy.Mereka sangat kecewa dengan keputusan yang di ambil pak Herman.


Bu Herman tak akan membiarkan Dery menikah dengan gadis itu.


Apapun akan ia lakukan untuk memisahkan mereka.

__ADS_1


__ADS_2