
Rania membuka pintu kamar.
Dilihatnya ibu sudah berada di depan pintu.
"Nduk...sudah sore...kalian mandi dulu.Sudah Ibu siapkan air hangatnya."Ibu bicara dengan nada pelan.
"Iya buk,Nia bangunin mas Arya dulu."
Ibu kembali ke dapur sedangkan Rania kembali masuk kamar untuk membangunkan Arya.
"Mas,bangun.Sudah sore,mandi dulu."Memegang tangan Arya sambil digoyangkan.
"Heeemmm..."Masih dengan mata yang terpejam.
"Ayo...nanti kedinginan lho."Kembali Rania membujuk Arya.
"Iya sayangku..."Arya menarik Rania ke dalam pelukannya.
Rania tersipu malu mendengar panggilan itu kembali.
Ia tak berkutik ketika Arya yang dalam posisi tidur memeluknya dari belakang,sedang Rania dalam posisi duduk di pinggir ranjang.
Di tariknya tubuh Arya,merubah posisinya.
Meletakkan kepalanya di kedua paha Rania yang sedang duduk.
Tiba-tiba saja Arya menciumi perut Rania yang tertutup kaos oblong lengan panjang.
Di ciumi berkali-kali saking gemasnya.
"Mas..."Hanya kata itu yang mampu Rania ucapkan.
Bibirnya terasa kelu,jantungnya semakin berdetak tak beraturan.Sekaligus rasa geli yang baru pertama kali ia rasakan.
"Sayang,mau kah kamu jadi ibu dari anak-anak ku kelak?"Menghentikan aktifitasnya lalu menatap lekat wajah Rania.
"Mak-sud mas Arya?"Rania memalingkan wajahnya yang terus di lihat Arya.Ia sangat malu,pasti wajahnya sudah memerah seperti buah tomat.
"Aku ingin memiliki kamu seutuhnya,dan aku ingin...di sini,di perut kamu,segera ada janin keturunanku."Arya kembali menghujani ciuman di perut Rania.
"Mas,geli."Rania berusaha menarik kepala Arya yang tak mau berhenti.
"Mas..."Kembali pandangan mereka bersatu setelah Arya menghentikan sikap jahilnya.
Rania masih memegang kepala Arya,dan tiba-tiba saja Arya menarik kepala Rania.Dibawanya turun lalu mencium bibirnya.
Lama mereka berciuman dan tangan Arya yang mulai masuk ke dalam perut Rania.
Menyingkap baju yang menutupinya.
Mereka hampir saja larut dalam kemesraan.
Hingga kemudian terdengar suara Ibu dari luar kamar mengagetkan mereka.
__ADS_1
"Nduk...airnya sudah Ibu siapkan...takut dingin."Ucap Ibu di balik pintu.
Rania yang mulai sadar dengan keadaan segera menarik kepalanya.
Ia berusaha menormalkan detak jantungnya dengan menarik nafas dalam-dalam.
"I-iya buk..."Jawabnya dengan nada terbata.
Arya merasa sedikit kecewa saat melihat Rania melepaskan diri dari pelukannya.
Hasratnya sudah begitu besar untuk menjadikan Rania miliknya seutuhnya,namun harus terjeda oleh keadaan.
"Mas,mandi dulu ya."Rania masih tersipu malu.Hampir saja ia lupa waktu dan tempat jika saja Ibu tak memanggilnya.
Dilihatnya wajah Arya sedikit ditekuk dan murung.
"Mas...maaf,mas Arya marah?"Rania kembali mendekati Arya yang masih berbaring di kasur tipis milik Rania.
"Sebenarnya memang ingin marah,tapi melihat wajahnya yang begitu manis ku tahan diri.Sabar Arya....masih ada waktu malam nanti."
Rania merasa bersalah.Memang dia tidak sepenuhnya salah,tapi bagaimanapun juga sudah jadi tugas seorang istri untuk memberikan hak suami.
"Mas..."Rania mencoba membujuk Arya supaya tidak marah.
"Ok,tapi cium dulu."Arya menunjuk pipi kanan nya.
"Ta-tapi mas,"Rania belum pernah melakukan hal itu sebelumnya,sudah bisa dipastikan dia merasa sangat malu dan gugup.Meskipun hanya sekedar mencium pipi,sekalipun itu pada suaminya sendiri.
"Ya sudah kalau begitu."Memalingkan wajahnya tak ingin melihat Rania.Sengaja berpura-pura marah,ingin tau bagaimana reaksi Rania.
"Mas...maaf..."Ucapnya lagi.
"Heemmm"Hanya itu jawaban datar dari Arya.
Lalu tiba-tiba saja...
Cup.
Rania memberanikan diri mencium pipi Arya meski hanya sekilas.
Namun meski hanya sekejap saja sudah bisa meluluhkan hati sang suami.
Kini Arya bisa tersenyum puas.
"Rania...itu hal wajar,seorang istri mencium suami duluan,itu bukan hal yang memalukan kok.Tenang Rania...tidak usah gugup."Batin Rania menenangkan diri sendiri.
"Baiklah...kali ini aku maafkan,tapi nanti malam kamu tidak boleh menolaknya.Ok!"Arya mengerlingkan sebelah matanya sambil mengulurkan tangan.
Dengan perasaan masih malu-malu Rania menyambut uluran tangan Arya.
Di tariknya tangan Arya dan ia pun bangun dari tidurnya.
Mereka berdua keluar dari kamar dan bergantian mandi.Karna di rumah Rania hanya ada satu kamar mandi saja.
__ADS_1
Selesai mandi semua berkumpul di ruang tamu.
Sebenarnya bukan hanya ruang tamu,di kampung hanya ada satu ruangan yang cukup besar dan berbagai fungsi.Selain jadi ruang tamu biasanya juga di jadikan ruang nonton tv dan juga ruang makan sekaligus.
"Mbak...di lapangan desa ada pasar malam lho...Nabila pengen lihat..."Ingin mengajak sang kakak namun ia tak berani.Takut jika kakak ipar tak mengijinkan.
"O ya...terus...?"Rania sengaja berpura-pura tak mengerti maksud adiknya.
"Nabila pengen liat mbak..."Kembali Nabila mengungkapkan keinginannya.
"Ya udah,liat aja."Jawab Rania cuek sambil makan camilan.
"Pengen sama mbak Nia...kan jarang-jarang mbak Nia pulang.Iya kan mas?"Mencubit tangan Tomy berharap membantu membujuk sang kakak.
"Biasanya juga mas Tomy anterin kan dek..."Bukannya membantu justru Tomy juga ikutan iseng pada adiknya yang sangat manja itu.
"Mas Tomy..."Nabila kesal dengan respon Tomy yang seolah tak mengerti maksudnya.
Hahaha...
Semua tertawa melihat wajah Nabila yang mulai cemberut.
"Nanti biar aku anterin adek-adek ya mas.Kasihan."Rania berbisik pada Arya.
"Naik apa?"Tanyanya juga dengan nada berbisik.
"Naik sepeda.Tuh..."Menunjuk sepeda matic hasil jerih payahnya selama bekerja di pabrik.Berkat menabung sedikit demi sedikit gajinya akhirnya Rania bisa membeli sepeda matic sendiri.Meski hanya sepeda bekas tapi itu sangat membantu.
Sepedanya sengaja Rania tinggal di rumah supaya Tomy bisa mengendarainya saat pergi ke sekolah.Bisa sekalian antar jemput Nabila.
"Aku ikut."Rania menoleh pada Arya.Ingin memastikan ucapan Arya.
"Mana muat mas sepeda satu buat bertiga?"Tanyanya.
"Pakai mobil saja.Biar semua bisa ikut.Sekalian jalan-jalan."Pikir Arya.
Rania mengerutkan keningnya.
"Mas mau ikut?Ke pasar malam?"Tanya Rania yang masih tak percaya.
"Iya,emang kenapa?"Tanya Arya balik.
"Beneran mas mau ke pasar malam?Emang mas sudah tau pasar malam itu seperti apa?"
"Belum!Justru itu aku ikut.Pengen tau seperti apa itu pasar malam.Apakah seseru cerita orang-orang?"
Rania melongo mendengar ucapan Arya.
"Tapi mas."
"Yeee...kita ke pasar malam mas Tomy,naik mobil lagi.Sama kakak."Nabila kegirangan.
Nabila lebih suka memanggil Arya dengan sebutan kakak.Karna bagi Nabila Arya seperti kakak-kakak model iklan di tv.
__ADS_1
Melihat Nabila yang begitu senang Rania tak berani menolak ide Arya.Meski ia tak yakin jika nanti Arya akan suka tempat seperti itu.