
Arya mau makan meskipun hanya sedikit.
"Pak Arya sudah baikan belum?"Tanya Rania.
"Apa sebaiknya saya antar pulang saja kalau memang keadaan pak Arya belum baik?"Tawar asisten Roy.
"Tunggu sebentar Roy,saya mau istirahat dulu disini.Nanti kalau sudah kuat jalan saya kabari kamu untuk mengantar pulang."Ucap Arya dengan sambil menahan perutnya yang masih terasa sakit.
"Baik pak."
"Roy,kamu kembali bekerja,Rania tolong temani saya istirahat di kamar."Arya mulai duduk.
"Hah,kamar?"
"Baik pak.Saya bantu berjalan.
Rania bingung dengan kamar yang dimaksud Arya.Tapi ia ikut membantu Arya berdiri dan mengikuti langkahnya yang sambil di pegangi asisten Roy.
"Tadi bilangnya gak mau pulang dulu mau istirahat di sini,lha kok ini minta tidur di kamar.Kamar mana sih maksudnya?"Rania masih bertanya-tanya dalam hati namun tetap mengikuti langkah Arya.
Mereka berjalan menuju arah ujung ruangan.
Jika dilihat sekilas ruangan itu adalah perpustakaan mini di pojok ruang kerja Arya.
Tapi ternyata ada sebuah pintu kecil yang menghubungkannya dengan kamar.
Mereka pun masuk kamar tersebut.
Meskipun pintunya hanya kecil tapi ternyata kamar itu lumayan besar untuk ukuran tempat istirahat di kantor.
Kamar yang berisi sebuah ranjang tanggung.
Bisa muat untuk dua orang.
Dengan penataan yang rapi dan bersih.
Arya berbaring di ranjang itu.
Rania pun berinisiatif menyelimuti tubuh Arya.
Asisten Roy mulai beranjak dari ranjang dan berpamitan untuk kembali bekerja.
"Pak Arya,saya kembali bekerja dulu,jika ada apa-apa panggil saya segera."Pamit Roy.
"Tapi pak,bagaimana dengan saya?"Rania menunjuk dirinya sendiri.
"Mbak Rania tunggu pak Arya istirahat."Jawab Roy.
__ADS_1
"Tapi,bagaimana dengan staf yang lain?Apa yang akan mereka pikirkan tentang saya?Kenapa saya tak kunjung kembali?"Rania merasa takut jika teman-teman nya mulai curiga.
"Urusan itu biar saya bereskan,yang terpenting mbak Rania jaga pak Arya."Ucapnya meyakinkan Rania.
Sebenarnya Rania masih ingin protes,tapi tatapan tajam dari Arya membuatnya tak berani lagi bicara.
Roy pun pergi dari ruangan Arya.
Sedang Rania masih bingung dengan apa yang harus ia lakukan di kamar itu.
Ia mulai gelisah.Takut teman-temannya bertanya-tanya.
Tanpa sadar Rania duduk diam tapi tangannya tak bisa diam.
Jari jemarinya tak henti-hentinya saling mengusap satu sama lain.
Hal itu tak luput dari penglihatan Arya.
Membuatnya teringat kejadian siang tadi saat di kantin.
"Sepertinya kamu lebih senang berduaan dengan lelaki lain daripada menemani suami kamu yang lagi sakit!"
Rania yang mendengar ucapan pedas Arya langsung menoleh dan melihat Arya dengan tatapan heran.
"Maksud pak Arya apa?"Sebenarnya ia malas berdebat,tak tega jika melihat Arya yang sedang kesakitan seperti tadi.
"Kamu lebih suka berduaan dengan laki-laki lain sampai kamu melupakan suami kamu sendiri yang belum makan siang."
Arya hanya diam sambil memalingkan muka.
"Tadi tidak berdua kok,sama Intan juga."Sanggahnya.
"Aku melihat sendiri kalau kalian hanya berdua."Ucapnya tak ingin dibantah.
"Dan sampai melupakan suaminya sendiri."Imbuhnya lagi dengan nada sedikit marah.
"Ta-tapi pak Roy tidak mengirim pesan sama sekali,aku pikir pak Arya sedang ingin makan sendiri."Jawabnya asal.
"Jadi harus setiap saat asisten Roy yang kirim pesan sama kamu?Tanpa mau kamu berinisiatif sendiri?"
Rania tak menjawabnya.Ia berusaha berpikir tentang apa yang sebenarnya suaminya itu inginkan.
"Justru hal itu kamu jadikan kesempatan untuk bisa bersama orang lain."Imbuhnya ketus.
"Maksud pak Arya apa?Aku bukan wanita seperti itu,lantas ada apa dengan pak Arya,apa pak Arya cemburu?"Tanyanya sengaja ingin membuat Arya mati kutu.
"Hehm...cemburu kamu bilang?"
__ADS_1
"Lalu apa mau pak Arya?Aku harus gimana?"Rania mulai kehilangan kesabaran untuk menghadapi bosnya yang aneh satu itu.
"Harusnya kamu lebih suka berdua begini denganku,layaknya suami istri yang saling mencintai.Harusnya kamu bisa tertawa dan bahagia hanya bersamaku Rania.Kenapa sih kamu tidak peka sama sekali."
Ingin sekali kata-kata itu Arya ucapkan agar Rania tau apa maunya.
Tapi mulut Arya tak mampu mengungkapkannya.
Mereka sama-sama terdiam.
Arya diam karna kecewa dengan sikap Rania yang kurang peka.
Sedangkan Rania sendiri juga bingung dengan keinginan Arya yang tak pernah bisa ia tebak.
Tak lama kemudian Arya mengambil hpnya lalu menghubungi Roy.
Karna malas berdebat dengan Rania akhirnya Arya meminta Roy untuk mengantarkannya pulang.
Lewat Roy Arya menyuruh Rania kembali bekerja.
Roy merasa ada sesuatu yang sedang tidak beres dengan pasangan pengantin baru itupun hanya bisa diam.
Rania kembali bekerja,sedangkan Roy mengantar Arya pulang.
"Rania,kamu sudah kembali?Tumben sekali laporan kamu salah,sampai bos menghukum kamu untuk mengerjakannya di ruang kerjanya."Aan terlihat khawatir dengan Rania.
Yang lain baru menyadari kedatangan Rania pun ikut berdiri dan berjalan mendekati Rania.
"Rania,kamu yang sabar ya.Jangan karna masalah ini kamu jadi gak betah di sini dan berpikir untuk keluar dari sini."Maya memeluk Rania.
Rania yang sudah dibuat pusing dengan keinginan Arya,semakin ditambah pusing dengan ucapan teman-temannya.
"Kamu jangan sedih...ada kita kok.Tadi pak Roy sudah cerita semuanya.Bos baru kita memang galak ya Ran."Imbuh Alya.
Rania hanya bisa diam,dan ia memikirkan ucapan demi ucapan teman-temannya.
Ia jadi teringat dengan asisten Roy yang tadi berkata akan membereskan teman-teman nya supaya tidak curiga.
"Jadi ini kerjaan asisten Roy..."Rania mangut-mangut sambil tersenyum.
"Nah...gitu dong.Kamu harus senyum.Jangan karna masalah ini kamu lantas nyerah dan pergi dari sini ya Ran,kita gak bakalan biarin itu terjadi."Wisnu pun tak mau kalah menyemangati Rania.
"Huuh...andai bisa aku ingin pergi saja dari sini.Pergi dari bos tampan tapi menyebalkan itu.Tapi sayangnya aku sudah terikat dengannya,tak semudah itu aku bisa pergi darinya.Andai kalian tau...nasibku lebih malang dari itu."
Kediaman Rania diartikan lain oleh teman-temannya.Semua berusaha memberi semangat padanya.
Tak ingin temannya putus asa dan memilih pergi.
__ADS_1
Meskipun mereka kenal belum lama,tapi mereka sudah seperti saudara.
Bekerja bersama,bercanda bersama,dan sama-sama menghabiskan banyak waktu mereka bekerja mencari nafkah di tempat dan ruang yang sama.