Pengagum CEO Tampan

Pengagum CEO Tampan
Diantar pulang


__ADS_3

Selesailah sudah acara makan siang yang sudah direncanakan Nenek dan Mama Anita.


Rania ingin membantu beres-beres tapi dilarang oleh Nenek.


Karna sudah ada mbok Jum dan beberapa asisten lain yang bertugas.


Rania kembali di tarik Nenek untuk duduk di ruang tv.


Nenek masih betah berlama-lama dengan Rania.


Setelah agak lama Rania memberanikan diri untuk pamit pulang.


"Nek...Sekarang sudah mau sore..Rania pulang dulu ya..."Rania bicara dengan nada selembut mungkin.


"Yah...kok pulang sih...gak tidur disini saja...besok berangkat bareng Arya."Usul Nenek.


"Nek,sudah...biarkan Rania pulang dulu.Pasti Rania capek..."Pak Jaya kasihan melihat Rania sepertinya sudah tak nyaman.


"Iya Nek...kasihan Rania.Kapan-kapan bisa main kesini lagi."Mama Anita pun tak tega.


"Ya udah deh....Tapi Rania mesti sering-sering kesini ya..."


"Insya Allah Nek..."Rania mengambil tas selempangnya.


"Arya...anterin Rania!"Perintah bernada memaksa sang Nenek.


"Nek...gak usah...Rania bisa pesen ojek online kok."Tolak Rania.


"Kamu gak lihat Arya,diluar mendung.Kalo Rania kehujanan terus sakit gimana?Besok gak bisa masuk kerja kamu juga gak lancar kan?"Rentetan alasan dari Nenek.


"Ga perlu Nek...nanti Rania pesen taxi online deh."Tawar Rania.


"Kalo gak di anter Arya mending gak usah pulang aja,daripada Nenek terus kepikiran."Masih terus mencari cara.


"Ya udah,ayok aku anterin."


Daripada terus-terusan mendengar rengekan sang Nenek,akhirnya mau tak mau Arya harus memutuskan.


Arya tau,meski ada sopir pasti Nenek tidak mau Rania di antar sama sopir.


Rania hendak membuka pintu mobil di belakang ketika Arya sudah membuka kunci otomatisnya.

__ADS_1


"Mau kemana?"Pertanyaan pendek dengan nada datar.


"Mau duduk pak."Jawaban yang sama pendeknya.


"Kamu pikir saya sopir kamu?"


Arya mendekat pintu depan lalu membukanya


"Masuk!"


"Hah?"Rania bengong.


Tiba-tiba kepala Arya sudah menyembul keluar sedikit dari pintu mobil.


"Cepetan,keburu hujan."


"Eh!Em...i-iya pak."Rania segera masuk.


Mobil mulai berjalan.Hening.Keduanya tampak saling diam tanpa bicara.


Rania menoleh ke sisi kiri.Melihat lalu lalang kendaraan yang melintas.


Sesaat ia menoleh melihat Arya.Saat bersamaan Arya pun ternyata juga menoleh padanya.


Deg!


Jantung Rania semakin berdetak tak karuan.


Antara takut dan kagum.


Takut dengan sikap dingin dan datar Arya.


Namun juga kagum akan sosok wajah yang terlihat begitu sempurna.


Jika saja sikapnya semanis wajahnya.


Sudah pasti ia di nobatkan sebagai pria idaman sejagat raya.


"Ekhemm!"


"Eh."Rania seketika menundukkan pandangannya.

__ADS_1


"Aduh Rania...apaan sih.Malu-maluin aja."


Mungkin jika ia bercermin wajahnya sudah Semerah tomat karna saking malunya.


Arya tersenyum kecil.Ia merasa gemas melihat Rania menyembunyikan wajah malu nya.


"Maaf sudah merepotkan pak Arya."Ia beranikan diri bicara pada Arya.


"Hemm."


"Apa?Cuma hemm aja.


ish....dasar muka datar pelit bicara."Rania menggerutu dalam hati.


Tanpa disadari karna Rania terus menunduk,mobil berhenti.


Kemudian Rania melihat keluar.


"Lhoh."Rania terkejut.Rupanya mobil sudah sampai di depan kost.


"Kok pak Arya bisa tau tempat kost ku ya.Padahal tadi niatnya cuma mau minta di turunin di dekat jalan raya saja."


Saat Rania sedang sibuk dengan pikirannya,Arya kembali memperhatikannya.


"Sudah sampai kost'an kamu kan?"


Suara Arya menyadarkan Rania.


"Eh,iya pak.Terimakasih pak."Rania buru-buru keluar dari mobil.


Lalu menutupnya pelan.Setelahnya pergi setengah berlari ke teras kost.


Ia berhenti sejenak dan menunduk pada pak Arya yang berada di dalam mobil.


Namun tanpa sedikitpun basa basi,bahkan sekedar pamit dengan membunyikan klakson pun enggan.


Mobil Arya langsung berbalik dan berjalan begitu saja.


"Dasar bos datar..."Rania tertawa sambil geleng kepala mengingat kebodohannya.


Menunduk hormat pada orang yang tak tau sopan santun.Sungguh sesuatu yang sia-sia.

__ADS_1


__ADS_2