
Selesai sarapan semua mulai dengan kegiatan masing-masing.
"Pak Hartono sekeluarga jadi pulang hari ini?"Tanya pak Jaya.
"Iya pak,kita pamit pulang.Maaf jika banyak merepotkan dan terimakasih untuk semuanya."
"Tidak perlu sungkan pak...kita malah senang bapak sekeluarga bisa kesini.Rumah jadi gak sepi."
"Hehehe...iya pak.Maklum,anak-anak masih kecil.Masih suka bikin keramaian."
"Tidak masalah pak,saya pribadi di usia segini lebih suka kalau ada teman.Saya sudah sangat mendambakan cucu pak.Biar rame rumah ini.Kalau bisa jangan cuma satu.Saya hanya punya satu anak,pengennya punya cucu yang banyak."Angan-angan pak Jaya membayangkan bercanda dengan cucunya.Pasti rame.
"Aamiin....semoga saja rumah tangga anak-anak bisa langgeng ya pak."Harapan pak Hartono.
"Iya pak,itu juga jadi doa saya."
"Nitip Nia ya pak,tolong di nasehati jika dia ada salah dan kurangnya."Pesan pak Hartono.
"Pasti pak.Saya sudah menganggap Rania seperti anak saya sendiri.Pak Hartono jangan khawatir.Ingat janji saya kemarin.Jika Rania disakiti oleh Arya,maka saya sendiri yang akan mengembalikan Rania kepangkuan bapak."Pak Jaya mengulang kembali janjinya kemarin kepada pak Hartono sebelum menikahkan anaknya.
"Terimakasih pak.Saya percaya dengan ucapan pak Jaya."
"Biar nanti di antar pak supir sampai rumah."
"Tidak perlu repot pak,cukup di antar sampai halte saja.Kita bisa naik bus."
"Tidak apa-apa pak.Saya bisa ke kantor bersama Arya."
"Baiklah.Terimakasih."Pak Hartono tak bisa menolak keputusan pak Jaya.
Sementara itu Rania sedang menunggu ibunya yang sibuk membereskan barang-barangnya.
"Ibuk beneran pulang?"Rania sudah berkaca-kaca.
Sudah sangat langka momen kebersamaan seperti ini ia rasakan kembali.
Setelah lulus sekolah lalu bekerja Rania jadi jarang pulang.
Jarang bisa berkumpul dan ngobrol bareng dengan sang ibu.
"Iya lah nduk...adik-adikmu mesti sekolah.Kamu harus ingat ya.Sekarang kamu sudah menikah.
Kamu harus belajar jadi istri yang baik,belajar masak."Ibu sambil masih terus sibuk.
"Iya buk...Nia bakal kangen kumpul seperti ini lagi."Mengusap air matanya yang mulai jatuh.
"Lho...sudah jadi istri kok nangisan...Nanti ajak suami kamu sesekali main ke kampung.Biar lepas kangen-kangenan."Ibu menenangkan Rania.
"Huuh...apa pak Arya mau.Lagian kan dia sibuk banget."Batin Rania.
"Kok nangis kenapa mbak?Pasti pengen ikut kita pulang ya..."Ledek Nabila.
"Yo gak boleh dong nduk...mbak Nia sekarang sudah menikah,jadi harus ikut suaminya."Ibu menyahut ucapan Nabila.
"Mbak Nia jangan sedih.Sebentar lagi Tomi lulus sekolah.Setelah lulus nanti Tomi mau cari kerja disini buat jagain mbak Nia."Sambung Tomi.
__ADS_1
Rania terharu dengan ucapan adik laki-lakinya.
Ia sudah punya impian untuk melindungi sang kakak.
"Lulus sekolah kamu harus kuliah dek...Mbak mau kamu jadi orang sukses.Biar nanti pas balik ke kampung kamu bisa bikin bangga Bapak sama Ibuk."Harapan dan doa Rania.
"Tenang mbak,Tomi bakal kuliah di daerah sini,terus sambil cari kerja juga disini.Biar deket sama mbak Nia.Boleh kan?"Tanyanya.
"Kalau mau kuliah di daerah sini nilai kamu harus tinggi lho dek..."Goda sang kakak.
"Tenang saja mbak.Tomi bakal belajar sungguh-sungguh biar bisa masuk universitas yang Tomi pengen.Syukur-syukur kalau bisa dapet beasiswa."Ucapnya dengan mantab.
"Aamiin..."Kompak Ibu,Rania dan Nabila mengaminkan ucapan Tomi.
"Kalau gitu Nabila juga mau belajar lebih giat ah,biar nanti juga bisa nyusul mbak Nia dan mas Tomi disini."Nabila pun tak kalah semangatnya.
"Kalau semua nya kesini terus ibuk sama bapak dirumah sama siapa,sepi dong rumah nanti..."Ucap ibu dengan mimik di buat sedih.
"Hehehe..."Semuanya pun tertawa.
Tiba-tiba pak Hartono masuk kamar.
Melihat kebersamaan mereka membuatnya berat untuk meninggalkan Rania disini sendirian.
Harus beradaptasi dengan keluarga dan statusnya yang baru.
Namun pak Hartono tak ingin menampakkan kesedihannya di depan anak-anaknya.
Ia berjalan mendekat sambil memunculkan senyuman yang di buat selebar mungkin.
"Sudah pak,anak-anak juga sudah beres."Jawab ibu.
"Ya sudah kita berangkat sekarang saja."Imbuh Bapak.
"Bapak sudah pamitan sama pak Jaya?"
"Sudah buk..."
"Ya sudah ayo anak-anak."
Semuanya berdiri dan berjalan keluar kamar.
Rania ikut mengantarkan mereka sampai di depan rumah.
Sekeluarga Arya pun semuanya juga turut mengantar kepulangan keluarga besan sampai di teras rumah.
Semua berpelukan satu persatu mengucapkan selamat tinggal.
Tiba giliran Rania memeluk sang bapak.
"Ingat pesan bapak baik-baik ya nduk..."Hanya itu yang mampu bapak ucapkan untuk acara perpisahan dengan anaknya.
Sedang Rania hanya membalas dengan anggukan dan lelehan airmata.
Entah mengapa,ditinggal pulang yang sekarang begitu terasa dihati Rania.
__ADS_1
Padahal dulu saat orangtuanya berkunjung ke tempat kost dan pamit pulang rasanya tak sesedih ini.
Giliran Arya yang memeluk pak Hartono.
"Titip anak bapak ya nak,tolong jangan sakiti dia.Dia adalah harta bapak yang berharga.
Jika dia salah,tegur lah secara baik-baik.
Dan jika kamu sudah tak menginginkannya lagi...Tolong kembalikan dia pada bapak."Pesan bapak sambil merangkul pundak Arya.
"Insya Allah saya janji tak akan menyakiti Rania pak."Ucap Arya.
"Alhamdulillah...bapak percaya kamu orang baik nak Arya.Semoga sukses terus dan lancar rejekinya.
"Aamiin...Terimakasih pak."
"Ya sudah,bapak pamit dulu ya."Pak Hartono melihat Rania setelah melepas rangkulan Arya.
"Hati-hati di jalan ya pak."Ucap Arya.
Semua ikut melambaikan tangan ketika mobil mulai melaju.
Rania masih mematung di tempat hingga mobil tersebut sudah tak lagi nampak.
Hingga saat semuanya sudah kembali masuk Rania masih berdiri di tempat semula.
"Nak....ayo masuk..."Ajak nenek yang tak tega melihat Rania sedih.
"Duluan saja Nek,Rania masih pengen disini."Tolak Rania.
Nenek pun pergi karna tak ingin memaksa Rania.
Melihat Arya masih berdiri di depan pintu lalu nenek mendekat.
"Bujuk Rania,kasihan dia pasti sedih banget."Ucap nenek dengan nada setengah berbisik.
Sebenarnya Arya sendiri tidak tega melihatnya,tapi ia tak tau harus membujuk dengan cara seperti apa.
Akhirnya mau tak mau ia berbalik dan mendekati Rania.
"Kita harus segera berangkat kerja sekarang.
Kapan-kapan kita main ke rumah kamu."Ucap Arya.
Rania mendongakkan wajahnya mendengar ucapan Arya yang mengatakan hal mengejutkan tersebut.
"Benarkah pak?"Tanya Rania antusias.
"Iya."
"Yeee...terimakasih pak Arya."Rania kegirangan.
Kini ia tak perlu bersedih lagi.
Ucapan tadi membuatnya jadi bersemangat kembali untuk menjalani hari-harinya kedepan.
__ADS_1