
Hari sudah semakin sore.Namun sepertinya kedua pengantin baru itu masih enggan keluar kamar.
Seharian penuh mereka benar-benar menghabiskan waktu berdua di kamar.
Di saat jam makan siang pun mereka harus kembali makan di kamar lagi.
Hingga tiba saatnya makan malam.
Selepas sholat magrib biasanya semua berkumpul di meja makan untuk makan malam.
"Mas,kita turun yuk."Meski masih capek tapi Rania tak bisa terus-terusan di kamar tanpa ikut makan bersama.
"Kamu sudah baikan?Hemm..."Memegang dagu Rania dan Arya melihat wajahnya yang berseri setelah selesai sholat magrib.
"Masih capek sih...tapi gak enak sama semuanya.Masak iya bener-bener gak keluar seharian."
"Kalau masih capek kita makan di kamar lagi aja.Kamu mau apa?"
"Enggak deh,kita turun aja mas,ikut makan bersama.Aku udah lebih baikan kok."Ucapnya meski sebenarnya badannya masih capek semua,tapi ia tak ingin sang suami memaksanya makan di kamar lagi.
"Beneran udah baikan....?"
"Heemm."Mengangguk sambil tersenyum.
"Baiklah...bisa jalan gak?"
"Bisa kok mas."
"Kalau gak bisa aku gendong aja."
"Gak usah mas...bisa kok."Aneh saja turun tangga sambil di gendong.
"Ya udah,kita turun sekarang ya."
"Iya mas,gak enak kalau mereka nungguin kelamaan."Berdiri lalu mereka berjalan bersama keluar dari kamar.
"Mas,tungguin...Jangan cepat-cepat jalannya..."Rania menarik tangan Arya yang berjalan hampir meninggalkannya.
"Masih sakit?"Arya melihat Rania yang masih sedikit kesusahan saat berjalan.
"Iya,masih sedikit sakit."Jawab Rania sedikit berbohong.Ia tak mengira jika ternyata penyatuan pertama rasanya begitu sakit di bagian inti.
Untuk berjalan saja rasanya sakit,apalagi jika waktu buang air kecil,ia bisa meringis kesakitan.
"Mau aku gendong?"Tawarnya lagi.
"Enggak mas,bisa kok."Tolak Rania karna malu.
"Sini aku pegangin."Arya memegang tangan Rania.
Rania pun berpegangan erat lalu berjalan turun.
"Eh...sayang...sini makan dulu.Nenek kirain kalian masih pengen makan di kamar lagi.."Nenek menarik tangan Rania untuk duduk di sebelahnya.
Rania hanya tersenyum menanggapi ucapan nenek.
Mama Anita pun tersenyum melihat Rania yang sepertinya kesulitan berjalan.
"Sini sayang mama ambilin makan.Mau lauk yang mana?Kamu harus jaga kesehatan.Gak boleh sakit pokoknya."Mama Anita mengambil piring lalu memilih beberapa sayur dan lauk untuk Rania.
"Rania bisa ambil sendiri kok ma..."Ingin menolak karna merasa tak enak.
__ADS_1
"Gakpapa dong sekali kali mama ambilin."Mama Anita tetap memaksa.
"Iya,kalau perlu besok gak usah kerja dulu deh sayang.Kamu istirahat aja di rumah."Usul nenek.
"Eh,enggak kok nek...Rania baik-baik aja kok."
"Boleh juga tuh ide nenek.Aku mau."Jawab Arya cepat.
"Eh...bukan kamu ya...khusus buat cucu nenek yang cantik ini.Kalau kamu tetep kerja."
"Lho...kok gitu sih nek.Terus istrinya Arya yang nemenin siapa dong?"Protes Arya.
"Nenek yang akan menemani!"
"Iya lah...kan ada mama juga.Lagian kalau kamu yang temani bukannya Rania istirahat justru tambah capek."Imbuh mama Anita.
"Ya gak gitu dong ma..."Arya merasa tak terima dengan ide mama dan neneknya.
"Gak boleh protes!"Tolak nenek.
Terjadilah perdebatan yang cukup riuh antara ketiga orang tersebut yang masing-masing kekeh dengan pendapatnya.
Rania hanya bisa tersenyum melihat keharmonisan keluarga Adiyasa tersebut.
Melihat mereka yang bercanda sekaligus berdebat hanya karna hal kecil.
Namun bagi Rania itu merupakan sebuah kekaguman tersendiri bagi Rania.
Jarang sekali terjadi hal yang begitu unik untuk kalangan pengusaha kaya raya.
Kebanyakan para pengusaha sibuk dengan kegiatannya masing-masing dan melupakan hal-hal kecil seperti itu.Namun berbeda dengan keluarga Adiyasa,sesibuk apapun mereka selalu mengusahakan untuk berkumpul di saat jam sarapan dan makan malam.
"Iya..."Serentak semua menjawab lalu diam dan memulai makan.
Dan benar saja,setelah perdebatan semalam mama Anita juga nenek benar-benar melarang Rania untuk bekerja.
Arya ingin protes tapi papa Jaya ikut turun tangan.Jika papa Jaya sudah bicara,apapun itu tak bisa lagi di bantah.
Sekitar pukul sembilan pagi datanglah beberapa tamu dari tempat langganan nenek ketika perawatan.
Mereka sengaja di undang nenek untuk datang ke rumah.
Tiga orang pegawai salon datang untuk melakukan perawatan menyeluruh pada Rania.
Nenek dan mama Anita pun tak mau kalah.
Mereka juga ikut perawatan meski tak menyeluruh seperti Rania.
Dari pagi hingga siang hari Rania terus di manjakan dengan fasilitas salon yang sudah di percaya nenek.
Mulai dari pijit,spa,sampai perawatan wajah dan kuku tak luput dari perawatan.
Arya yang berada di kantor merasa kesepian.
Jika biasanya dia bisa melihat Rania meski lewat kamera CCTV yang tersedia di setiap ruangan kerja,tapi kali ini Arya merasa sangat bosan dan tak bersemangat kerja.
Sejak menikah ia tak pernah jauh dari Rania.
Dan baru tak melihatnya setengah hari saja membuat mood kerjanya berantakan.
Ia tak bisa menahan rindu yang teramat dalam.
__ADS_1
"Sepertinya aku sudah benar-benar tak bisa menahan rindu ini."Arya menjambak rambutnya frustasi.
Saat jam istirahat tiba Arya berusaha untuk menelpon Rania.
Sambungan Vidio call pun terhubung.
"Assalamualaikum sayang..."Tak sabar rasanya ingin segera melihat wajah istrinya.
"Waalaikumsalam..."
"Lhoh...kok mama,Nia mana ma?"Bukannya Rania justru mamanya yang muncul di layar hp.
"*Kenapa?Mau ganggu istirahatnya Rania?"
"Arya kangen sama Nia ma..."
"Halah...baru juga setengah hari...sudah kangen aja kamu tuh.Sudah pintar gombal ya anak mama sekarang*."Mama Anita menertawakan sang anak.
"*Ma....Arya pengen liat wajah Nia ma..."
"Nia lagi gak bisa di ganggu*!"Tolak mama Anita.
"Emang Nia lagi ngapain sih ma?"Arya semakin penasaran ingin melihat istrinya yang sudah sangat ia rindukan.
"Tuuuhhh...."Mama Anita mengarahkan layar pada Rania.Terlihat Rania sedang di pijit pegawai salon.
Rania begitu menikmati pijitan itu sampai-sampai dia tertidur pulas.
"Siapa yang mijit itu ma?"Tanya Arya.
"*Pegawai salon langganan mama..."
"Perempuan kan ma yang mijitin?"
"Iya...emang kamu gak lihat itu*?"Mama Anita menunjuk pegawai yang sedang memijit Rania.
"Kok itu paha Nia kelihatan sih ma.Jangan biarkan satu orangpun masuk ketempat itu lho ma."Pesan Arya.
"*Iya...posesif banget sih sama istrinya."
"Ya kan itu aurat ma...hanya Arya yang boleh lihat."
"Iya iya..."
"Arya mau pulang aja deh ma,kan ini jam istirahat*!"Arya sudah tak sabar menunggu sore hari.
"*No!Gak boleh.Jangan ganggu Rania dulu.Atau mama bisa adukan sama papa kamu."
"Mama kok gitu sih*."
Setelah beradu pendapat sebentar Arya memutuskan sambungan telponnya.
Ingin segera pulang meskipun mama melarangnya.
Namun ternyata mama Anita menelphon papa Jaya.
Mama menyuruh papa untuk membuat Arya tidak bisa pulang siang ini.
Papa Jaya mengiyakan ucapan mama Anita.
Arya yang tadinya ingin pulang justru harus pergi meeting ke tempat yang lumayan jauh dengan kliennya.
__ADS_1