
"Mau bicara apa pak?"Rania mengeryitkan dahinya.
"Bagaimana hubungan kamu dengan nak Dery?"Tanya bapak.
Deg
Rania baru ingat jika dia belum menceritakan tentang hubungannya dengan Dery.
Ia masih merahasiakan semuanya karna merasa belum ada waktu yang tepat untuk mengatakannya.
"Ma-maaf pak...Rania belum sempat cerita kalau Rania sama mas Dery sudah putus beberapa bulan yang lalu."
Bapak membelalakkan mata,merasa kaget dengan pengakuan sang anak.
Karna seingatnya seminggu yang lalu di saat Rania telfon,ia masih bilang kalau hubungannya dengan Dery baik-baik saja.
"Tapi waktu itu?"
"Iya pak,maafkan Rania yang belum berani jujur pada bapak sama ibuk.Tadinya Rania ingin menjelaskan saat Rania pulang.Supaya tidak ada kesalahpahaman."
"Ada masalah apa sama kalian nduk..."Ibu mengusap punggung Rania.
"Waktu itu kita gak dapat restu dari orangtua mas Dery buk..."Menghela nafas lalu kembali melanjutkan ceritanya.
"Setelah itu..."Rania melamun,mengingat kejadian yang menyakitkan waktu itu.
"Ada apa nduk...ceritakan semua sama bapak ibuk..."Ibu ganti mengusap punggung tangan Rania.
"Mas Dery....."
Rania menceritakan semua tanpa ada lagi yang di tutup-tutupi.
Supaya semua jelas.Dan berharap kedua orangtua Rania mengerti dengan kenyataan yang ada.
"Kasihan nak Dery nduk...menikah dengan orang yang tidak ia cintai."Ibu meneteskan air mata mendengar cerita Rania.
"Itu memang sudah jadi konsekuensi atas perbuatan Dery buk.Meski bagaimanapun Dery memang bersalah.Jadi sudah seharusnya ia bertanggungjawab atas semua kekacauan yang ia buat."Bapak menyayangkan sikap gegabah dari Dery.
"Lalu bagaimana dengan Intan nduk...apa dia akan baik-baik saja?"Ibu mengkhawatirkan Intan.
Teman baik Rania yang sudah ibu anggap seperti anak sendiri.
"Rania yakin Intan pasti kuat buk...Rania ikhlas.Rania berharap Intan akan bisa memenangkan hati mas Dery."Harapan tulus dari Rania.
"Bagaimana dengan kamu sendiri nduk...?"
Ibu tak kalah mengkhawatirkan Rania.
"Bapak tau selama ini kamu selalu berkorban untuk keluarga kita.Demi Bapak,ibuk dan juga adik-adik kamu.Kamu bekerja keras untuk kita.Tapi...bagaimana dengan keputusan kamu yang sekarang?"
"Iya nduk...apa kamu sudah yakin dengan keputusan kamu ini?Ini pernikahan lho nduk...hal sakral,bukan main-main."Ibu ikut takut membayangkan rumah tangga Rania kedepannya.
"Emmm...."Rania sendiri pun sebenarnya juga ragu dengan masa depannya kali ini.
"Do'ain Rania terus ya pak...buk..."Hanya itu yang mampu Rania harapkan.
"Pasti nduk...bapak sama ibuk pasti akan selalu do'ain kamu."Ibu memeluk Rania.
"Jika suatu saat kamu ada masalah,apapun itu,ceritakan pada kita.Jangan ada satu hal pun yang kamu tutupi.Dan jika kamu tak bahagia disini...kembalilah pada kita.Bapak dan ibu akan menerima kamu apapun keadaannya."Bapak mencoba menyembunyikan wajahnya yang sudah basah oleh air mata.
__ADS_1
"Semua ini keputusan kamu,jadi kamu harus kuat untuk mengahadapi cobaan apapun kedepannya.Jika kamu sudah tak kuat,jangan dipaksa,lepaskan dan kembalilah pada kita."Masih dengan memalingkan wajahnya.
"Iya pak...buk...terimakasih untuk nasihatnya.Rania akan terus mengingatnya.
Maafkan Rania yang mengambil keputusan tanpa bertanya dulu."
"Sudahlah nduk...itu bukan salah kamu...kita tau kamu itu melakukan semua ini demi kami."Ibu sudah berderai air mata.
Sedang di balik pintu Arya mendengar semua percakapan yang terjadi antara anak dan kedua orangtuanya.
Ia pun ikut meneteskan air mata karna tersentuh dengan keadaan yang terjadi.
Semua itu tak lain karna salahnya.
Memasukkan Rania dalam kehidupan Arya.
Wanita yang tak tau apa-apa harus jadi korban gagalnya pernikahannya hanya demi harkat dan martabat keluarga Adiyasa.
Dalam hati Arya berjanji,jika memang jodoh akan ia perjuangkan.
Namun jika memang bukan jodoh,setidaknya ia tak akan pernah menyakiti hati gadis baik tersebut.
"Sudah nduk...kamu kembali ke kamar kamu ya...Nanti suami kamu mencari lho..."
Mendengar ucapan ibu mertuanya,Arya segera berlari kecil menuju kamarnya.
Takut Rania tau kalau Arya sudah mendengar semuanya di balik pintu.
"Iya buk..."Rania hendak beranjak dari ranjang.
"Nduk...apapun yang terjadi,kalian sudah menikah...sudah sah.Jadilah istri yang patuh untuk suami kamu.Jangan mengecewakannya.
Rania paham apa yang dimaksud ibunya.
"Iya buk...Rania pergi dulu ya buk...pak."
Rania berjalan lambat menuju kamarnya.
Sebenarnya malas,namun ia tak bisa berbuat banyak.
Semua sudah terlanjur terjadi,statusnya sudah berubah jadi seorang istri.
Ia merasa tak pantas untuk seseorang yang sekarang sudah berstatus jadi suaminya.
Pastilah pernikahan yang terjadi bukan atas keinginan Arya.
Entah Arya menganggap Rania seperti apa.
Seseorang yang selama ini ingin Rania hindari justru jadi suaminya.
Ya,Rania ingin menghindari Arya.
Rania tak ingin jika ia jatuh cinta pada Arya.
Rania tak ingin terlalu tinggi bermimpi.
Sekedar berharap pun ia tak berani.
Beruntung keluarga Adiyasa menerimanya dengan tangan terbuka.
__ADS_1
Rania hanya bisa pasrah dengan jalan takdir kedepannya.
Rania sampai di depan pintu kamar.
Ia berdiri mematung di sana.
Belum berani membuka pintu.
Aneh memang,padahal belum lama tadi mereka sudah berada di kamar berdua.
Namun entah mengapa kali ini Rania seakan begitu takut masuk kamar.
Ini adalah malam pertamanya.
Mungkin bagi kebanyakan orang akan bahagia jika berada pada saat seperti ini.
Waktu yang di nantikan sepasang suami istri yang baru saja sah menikah.
Namun tidak bagi Rania.
Apa yang harus ia lakukan nanti?
Pasti Arya akan memilih tidur di sofa seperti tadi.
Tak kan mungkin Arya mau dekat apalagi menyentuh Rania.
Atau bahkan mungkin Arya jijik berdekatan dengan Rania.
Rania segera tersadar dari lamunannya.
Ia memberanikan diri untuk membuka pintu.
Tangannya bergetar ketika memegang handle pintu.
Perlahan-lahan ia masuk kamar.
Dilihatnya Arya yang sedang duduk di meja kerja nya.
Terlihat sedang sibuk dengan laptopnya.
Rania masuk ke ruang ganti.
Mengganti bajunya dengan piyama tidur yang sudah tersedia lengkap di dalam lemari baju.
Pergi ke kamar mandi untuk cuci muka dan kaki.
Selesai dari kamar mandi ia duduk di meja rias.
Memakai skincare wajah seperti biasa sebelum tidur.
Arya diam-diam mencuri pandang pada Rania.
Melihat setiap gerak gerik yang dilakukannya.
Ia sudah mulai tak fokus dengan laptopnya.
Masih teringat dengan ucapan kedua orang tua Rania tadi.
Arya menutup laptopnya kemudian mendekati Rania yang sedang duduk di sofa sambil menonton tv.
__ADS_1
Rania yang baru menyadari kehadiran Arya segera duduk menjauh.