
Mereka sampai di rumah saat hari sudah malam.Rania sudah ngantuk sekali,namun sebisa mungkin ia tahan.Tidak tega melihat Arya yang nyetir sendirian tanpa teman.
Untuk itu Rania selalu ngajak Arya bicara,meski terkadang jawaban Rania tak sesuai dengan apa yang sedang mereka bicarakan.Karna sebenarnya Rania sedang menahan kantuk yang teramat sangat.
Sesampainya di rumah Rania sudah tak tahan lagi.Ia segera masuk kamar dan merebahkan tubuhnya.Saking terlalu ngantuknya dia tak sadar jika dia tidur di tepi ranjang.
Dan jika berbalik badan atau bergeser sedikit saja maka ia bisa jatuh.
Arya yang melihatnya tersenyum.Ide jahil muncul begitu saja.
Di cium lah kening Rania yang masih memakai jilbab.Tak ada pergerakan sama sekali.
Lalu ganti di cium lah pipi kanannya,namun hasilnya masih sama.Sepertinya Rania sudah berada di alam mimpi.
Kembali Arya mencium bibir Rania.
Yang awalnya hanya mencium sekilas,kembali di ulang lagi.Serasa sudah menjadi candu,Arya mulai menikmati bibir istrinya yang padat dan berisi itu.
Merasa masih aman,Arya mulai tak ingin melepasnya.Yang awalnya hanya ingin mengerjai sang istri,justru ia sendiri yang masuk dalam perangkap.
Ciuman yang tadinya hanya sekilas berubah jadi lebih menuntut.
Arya mulai terbakar gairah yang ia ciptakan dari keisengannya sendiri.
Tanpa diduga,kedua mata Rania terbuka dengan lebarnya.
Ia yang merasa terganggu mulai sadar dengan keadaan.Matanya terbelalak kaget ketika mendapati Arya yang sudah tidur di sampingnya sambil mencium bibirnya.
Karna terkejut dan ingin menghindar,Rania menggeser tubuhnya.Menjauhkan tubuh Arya yang sudah begitu menempel erat ditubuh Rania.
Sontak saja begitu Rania menarik tubuhnya,ia jatuh dari ranjang.
Pantatnya mendarat kasar di lantai kamarnya.
"Auwww..."Mengusap pantatnya yang terasa sakit.
"Sayang,kenapa kamu gak hati-hati..."Arya melompat turun dari ranjang.Ikut mengusap pantat Rania.
"Sakit ya?"Tanyanya lagi.
"Sakit lah mas..."Pura-pura kesakitan sambil terus mengusap pantatnya.
Arya jadi merasa bersalah,karna keisengannya istrinya jadi celaka.
__ADS_1
Arya mengangkat tubuh istrinya dengan lembut.
"Eh,mas,mau ngapain?"Rania terkejut melihat Arya yang mulai menggendong tubuhnya.
Kedua tangan kokoh Arya mulai mengangkat tubuh mungil istrinya.
Rania yang takut terjatuh berpegangan erat pada pundak Arya.
Ketika pundaknya bergoyang saat mengangkat tubuh Rania,secara reflek kedua tangan Rania melingkar di leher Arya.
Malu karna bertatap muka begitu dekatnya,Rania menyandarkan kepalanya di dada bidang Arya.
Dada bidang yang sangat kokoh itulah yang mampu menyihir kekuatan Rania.
Rasa teduh dan nyaman saat bersandar di sana.Mencium wangi maskulin dari tubuhnya.
"Beginikah rasanya jatuh cinta?Semua yang ada pada dirinya serasa begitu sempurna.Sekuat apapun aku menjaga hatiku,namun pada akhirnya aku luluh dibuatnya."Rania menertawakan dirinya sendiri.Dahulu dia sudah mati-matian berusaha untuk tak jatuh cinta,namun apa daya,cinta itu datang dengan sendirinya.
Dengan pelan dan hati-hati Arya menurunkan Rania di ranjang.Seolah tak ingin istrinya terluka sedikitpun,ia menarik guling dan meletakkannya tepat di samping Rania.
Menjadikan guling sebagai pelindungnya.
Di peluk kembali tubuh istrinya.Di tepuk-tepuk pelan pantatnya,seperti seorang ayah sedang me ninabobokkan bayi kecilnya.
Dan karna terlalu letih dan ngantuk,tak butuh waktu lama Rania kembali tidur.
Arya tersenyum melihat hal tersebut.
Menarik selimut lalu Arya ikut tidur dan setia memeluk Rania.
🌼🌼🌼
Seminggu berlalu,hari yang sudah di tentukan akhirnya datang juga.
Hari ini seluruh keluarga Arya pergi ke rumah Rania di kampung.
Guna mengadakan acara syukuran kecil-kecilan,juga untuk mengumumkan status mereka pada warga di kampung.
Supaya tak ada lagi kesalahpahaman seperti yang sudah-sudah.
Meskipun acaranya hanya sederhana,tapi keluarga Rania mempersiapkan semuanya dengan lengkap.Sama seperti acara pernikahan yang sesungguhnya.Membawa seserahan lengkap dan mewah.
Keluarga Adiyasa pun membawa MUA langsung dari tempat langganannya.
__ADS_1
Rania dan Arya di make up seperti pasangan pengantin baru.
Rania dirias secantik mungkin.Terlihat anggun meski hanya riasan natural.
Acara sungkeman berlangsung dengan penuh airmata.Namun bukan airmata kesedihan,melainkan airmata kebahagiaan.
Papa jaya maupun mama Anita juga merasa terharu.
Meski hanya acara syukuran,namun serasa sakral,sama seperti dulu saat mereka melaksanakan ijab Qabul.
Dulu pernikahan mereka diwarnai dengan Isak tangis,sama seperti saat ini.
Namun bedanya,dulu mereka belum saling mengenal apalagi mencinta,dan mereka sama-sama tak mengharapkan pernikahan itu.Tapi saat ini,semua sudah berbeda.
Hubungan mereka mulai membaik,dan semua keluarga sangat berharap dan berdoa,semoga kedepannya menjadi awal yang baru bagi mereka.Awal kebahagiaan dalam rumah tangganya.
Acara berjalan dengan lancar,semua tamu undangan sudah pulang.Tinggal keluarga Rania dan keluarga Arya yang berkumpul di ruang tamu.Mereka saling ngobrol bersama.
Bapak menceritakan tentang kehidupan di desa.
"Di sini udaranya masih sangat segar pak,beda dengan di kota yang sudah penuh dengan polusi."Papa Jaya membandingkan kehidupan di kota dan di desa.
"Ya...beginilah pak,tapi di sini dingin.Selain itu juga kurangnya lapangan pekerjaan,karna tempat yang terpencil."Cerita Bapak tentang kurang lebihnya hidup di desa.
"Iya pak,betul.Di sini dingin sekali.Masih siang saja dingin begini,tak bisa membayangkan bagaimana kalau malam hari."Papa Jaya merasakan dingin sekali.
"Apalagi musim hujan begini pak.Memang sedang dingin-dinginnya.Hampir setiap hari hujan."
"Wah,bisa kedinginan kalau begitu."Canda Papa Jaya.
"Nia saja yang kelahiran sini juga tidak betah dingin kok pa.Seminggu yang lalu pas kita pulang dia malah menggigil kedinginan."Arya menyambung obrolan kedua orangtuanya.
"Oya,benarkah begitu?Tapi bagaimana bisa,sedangkan dia lahir dan dibesarkan disini."Papa Jaya heran.
"Memang Nia itu dari kecil sudah tidak tahan dengan dingin.Hanya saja mungkin karna sudah terbiasa.Dan begitu lulus sekolah dia bekerja dan jarang pulang jadinya ya begitu,semakin tidak tahan dingin saat kembali pulang."Bapak mengambil kesimpulan.
"Bisa jadi begitu pak."Papa Jaya pun mengangguk.
Begitulah obrolan para bapak-bapak saat berkumpul.Membicarakan hal-hal yang bersifat ringan.
Tak beda jauh dengan para ibu-ibu.
Mereka juga membicarakan tentang keadaan di desa dan kebiasaan yang dilakukan oleh orang-orang sekitar.
__ADS_1
Meski begitu semua senang dengan kehidupan di desa yang terasa nyaman dan damai.
Muncul niat bagi mama Anita untuk membangun vila di daerah Rania suatu saat nanti.Supaya bisa dijadikan tempat wisata sekaligus penginapan saat ingin berlibur ke pegunungan.