Pengagum CEO Tampan

Pengagum CEO Tampan
Makan di kamar


__ADS_3

"Sssht...kamu tenang dulu ya.Gak usah dipikirin dulu.Besok kamu tanya langsung sama Dery soal kebenaran dari berita itu."Rania memberi saran.


"Gak mau,aku gak bisa denger langsung darinya.Ini sangat menyakitkan..."Rengeknya.


"Justru itu...kamu mesti tanya kebenaranya langsung pada Dery...supaya tidak terjadi kesalahpahaman..."Tutur Intan.


"Bagaimana kalau itu benar.Mas Dery cuma butuh waktu buat bilang sama aku."Rania takut akan kenyataan itu.


"Kamu tenang dulu deh.Coba kamu pikir,kalau memang Dery gak serius sama kamu kenapa dia udah ngajak kamu nikah?Ngajak kamu lebih dekat dengan keluarganya."Rania mencoba mengingatkan Rania tentang rencana Dery.


"Mungkin itu sebelum dia tau kalau dia sudah di jodohkan."


"Lagipula ibu sama mbak Desy juga gak bakalan restuin aku sama mas Dery."Lanjutnya.


"Kenapa gitu?"


"Ya karna aku sama mas Dery itu beda jauh Tan...Tentu mereka inginkan yang sederajat dengan mas Dery."Jelas Rania.


"Lhah,tapi kan yang jalanin kalian."Tegas Intan.


"Entahlah Tan,kepalaku pusing."Rania memegang kepalanya sambil duduk di kasur.


"Kamu sakit?Badan kamu panas."Intan khawatir,ia kembali meraba kening Rania.


"Kemarin udah di periksa dokter kok."Katanya lirih.


"Obatnya kamu bawa pulang gak?"


"Ada,tuh."Rania menunjuk sebungkus plastik di atas meja.


"Tapi harusnya makan dulu."Intan mencoba berpikir cari makan.


"Itu,tadi di bawain makanan sama Tante Anita."

__ADS_1


Intan membuka tas besar yang berisi berbagai macam makanan.


Satu rantang makanan.


Nasi lengkap dengan sayur dan lauk pauk.


Juga beberapa camilan serta roti.


"Wah...banyak banget ini Ran.Kamu yakin mau habisin sendiri...?"Canda Intan.


"Ya gak lah...kamu juga harus makan.Tadi emang sengaja di bawain agak banyak buat di makan sama kamu juga kata Tante."


"Lha kok tau ada aku,emang kamu cerita soal aku?"Tanya Intan.


"Iya cerita sedikit."


"Wah...jadi enak dong....hehehe..."Intan tertawa.


"Iya...sabar,nih lagi di siapin."Mengambil piring dan sendok lalu mulai mengisinya dengan makanan.


Intan menyerahkan piring namun di tarik kembali,"Eh,tapi tunggu dulu deh,tadi kamu panggil apa?Tante?"


"Ishh...Intan,apaan sih."Rania mengambil piring yang di tarik Intan.


"Jawab dulu."Paksa Intan.


"Kalau iya,kenapa?"Rania cemberut.


"Sedeket itu nih..."Ledek Intan.


"Biasa aja,itu yang suruh juga Tante Anita sendiri kok.Mana berani aku selancang itu."Rania mengambil piringnya dan mulai makan.


"Duhh...dah kayak sama calon mertua aja..."Intan tak berhenti menggoda Rania.

__ADS_1


"Intan...jangan mulai deh...Jangan mimpi di siang bolong ya."


"Emangnya kenapa...?Jodoh gak ada yang tau ya...Heeem..enak Ran."Intan merasakan makanannya begitu enak.


"Mereka itu bos besar Intan...Keluarga mas Dery yang masih jauh di bawahnya aja cari yang sederajat.Lagian kamu tau gak,pacarnya pak Arya itu...Duuh...cantik banget tau gak.Dia model dan artis.Aku aja yang sama-sama cewek ngerasa mbak Sesil itu cantik sempurna."Rania jadi teringat kejadian di kantor waktu itu.


"Masak sih,tau darimana kamu?"Intan tak percaya.


"Tau lah,orang pernah ke kantor kok.Berdua di ruangan pak Arya."


"Oya,berdua.Terus ngapain tuh berduaan di kantor."Intan pun penasaran.


"Mau tau aja urusan orang pacaran."Rania tersenyum jail.


"ishh...kamu pasti liat.Iya kan...hayo ngaku aja deh..."Intan meletakkan sendok ya dan menunjuk hidung Rania.


"Apaan sih,tolong dong Tan,ambilin obat itu."Menunjuk obat di sebelah Intan.


"Tadi kayaknya di bawain pisang sama Tante Anita."Tante Anita tau kalau Rania tidak bisa minum obat tanpa pisang.


Maka dari itu tadi di bawakan pisang sekalian.


Rania segera berdiri dan mencari buahnya.


Dibuka nya bungkusan plastik yang belum Intan buka.Ternyata isinya ada beberapa buah pisang dan juga ada beberapa buah lainnya.


Seperti jeruk,apel dan anggur.


"Duuh...Tante sama nenek baik banget sih.Jadi gak enak sama mereka."Rania bergumam sambil duduk kembali ke sebelah Intan.


"Mereka kok baik banget sih Ran sama kamu."Intan melihat berbagai buah yang Rania bawa.


"Gak tau.Kasihan sama aku mungkin."Rania masih tak mau berpikir jauh.Ia takut terlalu percaya diri dan itu akan sangat menyakitinya lagi.

__ADS_1


__ADS_2