
Selesai mandi Rania kembali ke kamar.
Berjalan sambil mengeringkan rambutnya dengan handuk kecil.
Sedangkan Intan masih setia menunggu Rania sambil bermain hp.
Kreekk...
Bunyi pintu di buka.
"Intan,masih di sini?"Rania tak menyangka ternyata Intan masih setia duduk di kasurnya.
"Ya iyalah...aku gak mau kecolongan kayak dulu lagi.Katanya temen deket kamu,tapi gak tau kalo kamu sudah punya pacar."Intan mengingat kembali hal yang sangat menyakitkan itu.
Tapi bukan saatnya ia kembali bersedih seperti waktu itu.
Karna hatinya sudah ia tata sedemikian rapi untuk kebahagiaan sahabat dan orang yang ia sayang.
"Ayo cerita,aku gak bakalan lepasin kamu sebelum kamu jelasin semuanya."Intan kembali menegaskan.
"Huuhhh...."Rania menghembuskan nafas setelah menariknya dalam-dalam.
"Semalam aku tidur di rumah pak Arya."Menundukkan wajahnya.
"Tapi gak usah berfikir kemana-mana.Aku ketemu nenek Adiyasa di bangku taman pinggir jalan."Rania memotong ucapannya menggantung.
Intan yang ingin memberi waktu untuk Rania,
ia mendengarkan cerita Rania tanpa memotong setiap ucapan yang di katakannya.
"Nenek menolong aku yang kehujanan di taman waktu itu.Hingga akhirnya aku di ajak pulang dan nginep di sana."Rania melihat Intan dari kaca cermin yang ada di hadapannya.
"Bukannya kemarin kamu di jemput mbak Desy sepulang kerja?"Tanya Intan.
Rania terkejut dan reflek langsung menoleh pada Intan.Ia tak menyangka kalau ternyata Intan tau hal itu.
__ADS_1
Rania masih terdiam.Ia bingung mesti jawab apa.
"Apa aku jujur saja sama Intan?"
"Rania,malah bengong sih.Terus ngapain kamu bisa hujan-hujanan di taman coba?"Intan sudah berada di sebelah Rania.
Rania balik badan,mendekat pada Intan.
"Intan...aku pengen putus sama mas Dery."Memegang kedua pundak Intan.
Intan yang mendengar ucapan Rania melotot tak percaya.
"Maksud kamu Ran?"
"Emm ya putus."mengedipkan bahu nya.
"Kamu beneran.Emang kenapa sih Ran?"
Rania mulai berkaca-kaca.Mengingat kajadian kemarin.
"Haah...yang bener kamu.Emang Dery mau?"Intan masih mencerna ucapan Rania.
"Kemarin ceweknya bilang mereka setuju kok.Bahkan mereka saling cinta."Rania mengusap air mata nya yang mulai jatuh.
"Jadi beneran kemarin kamu di jemput mbak Desy.Aku gak salah lihat kan?"
Rania mengangguk.
"Terus Dery bilang apa?"
"Mas Dery gak ikut.Cuma ceweknya sama Bu Herman dan mbak Desy."
"Rania...kan Dery nya gak ada...emang kamu yakin Dery beneran mau...?"Intan ikut mengusap air mata Rania.
"Ceweknya juga seorang guru PNS Tan...Mereka serasi.Dan kemarin mereka habis jalan bareng."Rania mulai sesenggukan.
__ADS_1
"Kamu tau darimana?Kata mereka lagi...?"
"Ceweknya kasih liat foto.Mereka terlihat mesra."Rania menutup wajahnya dengan kedua tangan.Menunduk lalu mulai menangis tersedu.
"Aku terlalu percaya diri Tan,aku kira mas Dery bener-bener sayang sama aku.Aku kira dia bisa menerimaku apa adanya Hiks...hiks..."Bicara sambil menangis.
"Aku salah mengartikan kebaikan nya.Padahal jelas-jelas memang mas Dery itu pria baik.Kebaikannya bukan hanya sama aku saja.
Aku pikir dia serius sama aku.Ternyata dia hanya kasihan sama aku Tan..."Rania mengguncang bahu Intan.
Intan terus mendengarkan ucapan Rania.
Karna tak ingin menyela,ia jadi bengong.
Antara percaya dan tidak dengan kata-kata Rania.
Yang Intan lihat,Dery begitu sangat mencintai Rania.
Dari caranya menatap Rania.
Dari sikapnya yang selau lemah lembut dan begitu menjaga Rania.
Intan yakin itu cinta.Bukan kasihan seperti yang Rania bilang.
Entah kenapa Intan merasa ada sesuatu yang aneh.
Tapi ia tak berani bilang sama Rania.
Saat ini pikirannya sedang kalut.
Pasti Rania tak bisa berpikir secara jernih.
Yang bisa Intan lakukan saat ini hanya menenangkan Rania terlebih dahulu.
Supaya dia tidak terus memikirkan hal itu dulu dalam keadaan yang masih kaget seperti sekarang.
__ADS_1