Pengagum CEO Tampan

Pengagum CEO Tampan
Dery frustasi


__ADS_3

Pagi itu juga Intan segera mencuci seprei milik Rania.Disikatnya berkali-kali supaya hilang bekasnya.


Selesai mencuci seprei ia pun segera mandi.


Mengguyur tubuhnya secara kasar.


Gayung demi gayung ia siramkan ke tubuhnya.Hingga habis air di dalam ember besar itu.


Berharap bekas tubuh Dery hilang dari badan Intan.Ia menggosok tubuhnya dengan keras.


Air mata nya luruh bersama dengan air yang terus di guyurkan ke tubuhnya.


Bayang-bayang kejadian semalam membuatnya benci pada dirinya sendiri.


Ia sangat menyesal.Kenapa semalam ia harus tidur di kamar Rania.


Kenapa ia tidak bisa melawan Dery.


Ia tak tak tau harus berkata apa jika nanti Rania kembali.


Karna kali ini,Intan tak hanya ketahuan menyukai Dery saja,melainkan ia sudah melakukan hubungan terlarang.


Sudah pasti Rania akan membenci Intan seumur hidupnya.


Lalu bagaimana dengan pernikahan yang sudah mereka rencanakan.


Belum lagi jika sampai ia hamil.


Harus dengan cara bagaimana ia menjelaskan kepada ibunya dirumah.


Sebesar apa malu yang akan di tanggung oleh keluarganya nanti.


Jika saja bapaknya masih ada,tak terbayang betapa kecewanya beliau.


Melihat putri kesayangannya ternodai oleh seorang laki-laki yang sama sekali tak menginginkannya.


Badan Intan luruh ke lantai.


Ia tak sanggup membayangkan hal apa saja yang akan terjadi kedepannya.


Jika bisa,ia ingin sekali mengulang waktu.


Ia tak ingin mengenal Dery,ia tak ingin kejadian semalam merenggut semuanya.


Intan masih menangis tergugu di dalam kamar mandi.


Setelah merasa kedinginan,ia buru-buru mengusap air matanya dan menyudahi keterpurukannya.


Di dalam kamar,ia duduk di depan cermin.


Dilihatnya wajahnya yang terlihat pucat dengan mata yang sudah membengkak karna terlalu lama menangis.


Dengan lihai tangannya menyentuh alat make up yang ia punya.


Menyamarkan semua kesedihan yang terlihat dari wajahnya.


Ia akan melupakan kejadian semalam.


Sama seperti apa yang Dery inginkan.


Seolah tak terjadi apapun dengannya.


Namun semakin sempurna ia menutup bekas di wajahnya,ia semakin merasa jijik dengan dirinya sendiri.

__ADS_1


Mungkin saja make up itu bisa menutupi bekas di wajahnya,namun tetap saja ia tak bisa menutupi bekas luka di tubuhnya.


Ia sudah ternoda.Ia sudah tak seperti yang dulu.


Kehormatan yang ia jaga selama ini,sudah di rampas paksa oleh seseorang yang tak pernah melihat cintanya.


Intan kembali menghapus make up nya dengan kasar.


Mengacak rambutnya hingga berantakan.


Membanting tubuhnya ke kasur tipis yang ia punya.


Karna terlalu lelah menangis,Intan pun tertidur kembali.


Sementara itu dengan Dery....


Ia semakin frustasi.


Jika mengingat-ingat kepingan kejadian semalam.


Dia terlalu ceroboh.


Karna sikap nya yang tanpa memikirkan akibatnya,kini semua hancur.


Hanya karna hasutan dari teman-temannya ia bisa melakukan kesalahan besar dalam hidupnya.


Dery masuk kamar,sesampainya di depan cermin ia melihat wajahnya dari pantulan kaca.


Ia tak bisa membayangkan betapa sedih dan kecewa nya Rania jika ia tau Dery sudah tak lagi perjaka.


Terlebih jika ia tau,ia sudah berhubungan intim dengan Intan.Sahabat dekat dari Rania sendiri.


Di acaknya rambut Dery sambil menjambaknya keras-keras.


Tak kuasa menahan marah pada dirinya sendiri,Dery memukul cermin besar di depannya.


Darah segar mengalir di sekujur kepalan tangannya.


Bersamaan dengan teriakan kerasnya.


"Maafkan aku Rania...!"


Dery berlutut di tembok samping pecahan kaca.


Tanpa mau peduli jika lututnya bersentuhan dengan kepingan kaca yang sudah hancur.


Sakitnya terluka karna pecahan kaca tak sebanding dengan kekecewaan yang akan di rasa Rania.


"Tidak,aku harus secepatnya menikahi Rania,sebelum ia tau kejadian ini.Dia harus sudah jadi istriku.Apapun akan aku lakukan untuk mendapatkan Rania.Meski tanpa restu dari ibu sekalipun."Niat Dery.


Mbak Desy yang baru masuk rumah sepulang dari rumah sakit,ia kaget dengan suara benda pecah dan teriakan dari kamar Dery.


Dengan segera ia berlari ke kamar Dery.


Tanpa mengetuk pintu Desy langsung masuk kamar Dery.


Dilihatnya Dery yang sedang berlutut di lantai.


Dengan tangannya yang sudah berlumur darah.


Desy panik,ia berjalan mendekati Dery.


"Dery,apa yang kamu lakukan!"Geram Desy.

__ADS_1


Dery menatap Desy dengan rasa benci.


Mengingat penolakan dan kata-kata yang di ucapkan pada Rania.


"Ayo,kita kerumah sakit sekarang."Desy mencoba menarik tubuh Dery.


Namun Dery segera menepis tangannya.


"Semua ini karna mbak Desy!"Ucapnya setengah berteriak.


Desy bingung,apa yang sebenarnya terjadi dengan adik laki-lakinya.


Penampilannya lusuh,pakaiannya kusut,rambut acak-acakan dan mata yang terlihat memerah.


"Apa maksud kamu Dery,kenapa kamu seperti ini,apa yang terjadi?"Tanya Desy beruntun.


Dery masih tetap diam.


Desy yang melihat hal itu,ia pergi dari kamar Dery.


Mengambil hp dan segera menghubungi dokter terdekat untuk melihat luka Dery.


Tak lama setelahnya datanglah dokter yang sudah Desy telephon.


Mengantar dokter tersebut masuk ke dalam kamar Dery.


Melihat Dery yang sudah tiduran di tempat tidur.


Desy segera mendekat bersama dokter.


"Tolong segera obati luka adik saya dokter."Pinta Desy.


"Baik Bu..."Dokter itu pun mendekat.


Sebenarnya sang dokter kaget melihat semuanya.


Melihat keadaan tangan Dery yang penuh darah,juga melihat kamar yang berantakan beserta kaca yang pecah.


Namun ia takut untuk menanyakan hal tersebut pada dosen muda itu.


"Pak...saya obati dulu lukanya ya pak...pak Dery baik-baik saja bukan?"Dokter itu pun mencoba mengajak Dery berkomunikasi.


Namun Dery masih tetap acuh.Tak melihat sang dokter,namun juga tak menolak saat dokter mulai membersihkan lukanya.


Sementara itu Desy pun keluar dari kamar tersebut.


Ia memanggil art di rumah.Menyuruhnya untuk segera membersihkan pecahan cermin di kamar Dery.


Selesai di periksa dan di obati luka nya.


Dery kembali tertidur.


Kemudian sang dokter keluar dari kamar Dery,bersamaan dengan art yang juga selesai membersihkan pecahan cermin tadi.


Mbak Desy pun keluar dari kamarnya setelah ia selesai mandi.


"Bagaimana keadaan adik saya dok?"Desy berpapasan dengan pak dokter di depan kamar Dery.


"Lukanya sudah saya obati Bu,ini resep yang harus di beli di apotek.Dan sekarang pak Dery sedang tidur setelah saya suntik obat penenang.Supaya bisa istirahat dulu."Sambil menyerahkan secarik kertas resep obat pada Desy.


"Tapi adik saya gakpapa kan pak?Kenapa mesti di kasih suntik penenang?"Desy khawatir akan keadaan adiknya.


"Begini Bu...sepertinya pak Dery habis mabuk,mungkin lagi ada masalah makanya sampai minum minuman beralkohol tersebut.

__ADS_1


Pak Dery hanya perlu istirahat yang cukup dulu,untuk itu saya kasih obat penenang.Tenang saja,itu aman kok Bu..."Pak dokter menerangkan kondisi Dery.


Desy merasa sedikit lega,jika Dery sudah di tangani dokter.Untuk lebih jelasnya ia akan bertanya langsung jika Dery sudah dalam keadaan sadar dan baik-baik saja.


__ADS_2